Jakarta, katakabar.com - Di awal April 2024, Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM), Teten Masduki bersama Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) bangun kolaborasi pembangunan industri skala menengah berbasis koperasi, yakni pabrik Minyak Makan Merah (M3).

Selain itu, dua lembaga tersebut dorong program pembangunan Rumah Produksi Bersama (RPB).

“Kita saat ini sedang mengalami problem deindustrialisasi. Kontribusi industri terhadap ekonomi saat ini cuma sebesar 18 persen," ujar MenKopUKM, Teten Masduki, dilansir dari laman website resmi KemenKopUKM, pada Senin (15/4).

Saat industri terus menurun lapangan kerja sedikit, kata Teten, jumlah UMKM berpotensi semakin banyak, utamanya usaha mikro. Jadi, hal ini bakal jadi beban bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau UMKM, artinya semakin tinggi persaingannya,” tutur MenKopUKM saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komite IV DPD RI di Jakarta, Selasa lalu.

Untuk menjadi negara maju di tahun 2045 dan menghadapi fenomena deindustrialisasi, terang Teten, sesuai catatan dari Bank Dunia, Pemerintah Indonesia perlu siapkan lapangan kerja yang berkualitas. 

“Kini 97 persen lapangan kerja disediakan pelaku UMKM, 90 persen ada di usaha mikro sektor informal tidak produktif," ulasnya.

Untuk itu, ucap Teten, kita perlu melahirkan ekonomi baru yang bisa menciptakan lapangan kerja berkualitas. Kalau itu tidak dilakukan kita bisa gagal menjadi negara maju,” jelasnya.

Untuk mengatasi salah satu masalah itu, beber MenKopUKM, pihaknya sedang membangun industri skala menengah berbasis koperasi, untuk mengolah keunggulan domestik, dengan menghasilkan barang setengah jadi, hingga barang jadi agar memberikan nilai tambah dan diharapkan dapat membuka lapangan kerja yang lebih luas.

“Lantaran setiap daerah punya keunggulan. Apalagi sebanyak 41 persen pemilik lahan kelapa sawit yakni rakyat. Makanya, kami dorong mereka untuk membangun pabrik minyak makan merah. Ini dapat perkuat perekonomian rakyat, jadi para petani kelapa sawit tidak hanya menjual Tandan Buah Segar (TBS) kepada industri yang harganya lebih sering tidak stabil yang ada mereka justru selalu dirugikan,” sebutnya.