Jakarta, katakabar.com - Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia, Datuk Seri Johari Abdul Ghani mengajak investor Indonesia kolaborasi kembangkan, dan produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel atau SAF, berupa campuran avtur, dan minyak kelapa sawit.
Malaysia menargetkan bakal produksi SAF mulai 2027 mendatang, ujar Datuk Sri, di man Malaysia melihat ini sebagai salah satu peluang investasi.
"Saya yakin Indonesia punya pemikiran yang sama, ini bisa menjadi peluang ekonomi baru yang sangat potensial di masa depan," kata Johari di sela 12th Ministerial Meeting Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) di Jakarta, Jumat kemarin, dilansir dari laman EMG, Sabtu (30/11).
Menurutnya, saat ini ada dua perusahaan Malaysia yang berminat membangun kilang produksi SAF, yakni perusahaan milik pemerintah Malaysia Petronas yang berencana membangun pabrik SAF dengan kapasitas produksi sebesar 650 ribu metrik ton, dan satu lagi perusahaan swasta dengan kapasitas produksi 350 ribu metrik ton.
"Indonesia dan Malaysia produsen utama sawit dunia dan menjadi negara pendiri CPOPC. Saya ingin menyambut investor Indonesia untuk berkolaborasi dengan Malaysia, kita mulai produksi SAF ini sehingga menjadi pemasok bahan bakar penerbangan berkelanjutan terbesar di dunia," jelasnya.
Satu-satunya ganjalan produksi SAF di Malaysia, ucap Datuk Sri, memang belum diputuskan persentase resmi campuran antara avtur dengan minyak sawit yang akan digunakan di pesawat model jet.
"Mandatnya belum diputuskan, apakah menggunakan 1 persen atau 2 persen SAF. Ini sesuatu yang belum kami putuskan, masih dalam proses," bebernya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebutkan, pemerintah Indonesia telah menerima penawaran dari pemerintah Malaysia. Bahkan sudah ada rencana membangun fasilitas produksi SAF di Riau.
"Tapi, harus ada uji coba lebih dulu untuk melihat keberhasilan penggunaan SAF. Saya pikir kita akan melihat dulu bagaimana implementasinya, apakah 1 persen atau 2 persen yang bakal digunakan untuk SAF," ulasnya.
Penggunaan SAF, sebut Airlangga, harus terus disuarakan pada forum-forum internasional karena beberapa negara menolak menggunakan produk minyak sawit.
"Apalagi sebagian besar penerbangan adalah penerbangan internasional, saya pikir kita, CPOPC harus berkampanye juga tentang SAF," terangnya.
Pemerintah Indonesia sendiri, kata Airlangga, sangat berhati-hati memproduksi SAF.
"Kita harus berhati-hati karena kampanye di luar. Mereka tidak mengakui CPO, SAF," tambahnya.
Malaysia Join dengan Indonesia Produksi Bahan Bakar Pesawat Jet Basis Sawit
Diskusi pembaca untuk berita ini