Jakarta, katakabar.com - Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak Pemerintah agar lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga pencapaian target pengangkatan minyak.

Hal itu diungkapkannya menyusul laporan anjloknya pengangkatan minyak nasional, di tengah ancaman kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur-tengah yang semakin eskalatif pascaserangan Iran ke Israel.

"Masa karena banjir, pengangkatan anjlok. Karena listrik padam, pengangkatan anjlok. Juga sering terjadi Unplanned shutdown (stop operasi tak terencana), yang menjadi biang keladi menurunnya pengangkatan minyak," kata Mulyanto dalam keterangan resminya, dikutip dari situs resmi DPR RI.

"Ini serius tidak sih ingin mencapai target pengangkatan? Mana mungkin, kita bisa mengurangi ketergantungan minyak pada impor, kalau kinerja pengangkatan minyak kita seperti ini. Sudah lebih dari 5 tahun, target pengangkatan minyak kita terus menurun," ujarnya.

Dia menyebutkan, target lifting minyak tahun 2020 sebesar 755 ribu barel per hari. Angka ini terus turun selama lima tahun terakhir menjadi sebesar 635 ribu barel per hari pada tahun 2024. Sementara realisasi tahunnya pun tidak mencapai seratus persen.

Kemudian, laporan lift minyak tahun 2024 dihitung sampai tanggal 15 April adalah sebesar 576 ribu barel per hari atau hanya 90 persen dari target 2024.

"Kalau kondisinya seperti ini terus, kita semakin tergantung pada impor. Lalu, ketika harga minyak dunia naik, maka APBN kita sempoyongan untuk nomboki subsidi energi,” tegas politisi PKS ini.

Oleh karena itu, mendesak Pemerintah untuk segera mereformasi kelembagaan SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas). Kata dia, badan pelaksana hulu migas ini harus kuat, sehingga kekuatan penuh dalam kinerjanya.

Untuk diketahui, SKK Migas mencatat, produksi minyak Indonesia 576 ribu barel per hari secara year to date hingga 15 April 2024. Saat ini proses peningkatan produksi melalui reaktivasi sumur tengah dilakukan.

Reaktivasi sumur dilakukan karena sebelumnya terjadi pencahayaan fasilitas produksi secara tidak terencana (unplanned shutdown) karena banjir yang melanda sebagian kontraktor kontrak kerja sama (K3S) di wilayah Sumatera.

Unplanned shutdown terjadi karena kondisi banjir yang melanda sebagian KKKS di wilayah Sumatera (PHR, PHE Kampar, Tiara Bumi, SRMD dll) serta unplanned shutdown yang cukup berdampak seperti di BP Berau, BSP dan PHE OSES dll.