Namanya TOM, Pabrik Bensin Super Petani Sawit!

Pekanbaru, katakabar.com – Sebentar lagi, Indonesia sudah bisa menjadi eksportir premium ke luar negeri, dan bisa jadi yang terbesar di dunia. 
Ini kalau ditengok dari luasan kebun kelapa sawit yang ada sekarang; mencapai 16,3 juta hektar. Kebetulan, bahan baku bensin ini, minyak kelapa sawit. Beuh! 

Biar ingat dari sekarang, bensin yang bakal diekspor ini enggak bensin kaleng-kaleng, lho, tapi bensin super yang Oktan Number (ON) di angka 110. 

Ini bisa jadi minyak pesawat terbang. Sebab ON 'burung besi' itu berada di antara 110-130! Lalu bisa pula jadi bahan bakar mobil balap Formula 2 (F2). 

Jadi, racer yang senang menjajal kemampuannya di Circuit Sentul, enggak perlu lagi membeli bahan bakar super-car impor yang di dalam Negeri dibanderol Rp56 ribu seliter. Cukup beli bensin Biohydrokarbon, cuma Rp38.500 seliter.

Kemungkinan Indonesia bakal jadi eksportir bensin super ini, bukan pula angan-angan tukang cendol. Soalnya, dari tiga tahun lalu, Laboratorium CaRE Institut Teknologi Bandung (ITB) sudah melakukan ujicoba. 

Mulai dari membikin solar, bensin biasa hingga minyak pesawat terbang. Semuanya berhasil!    

Itulah makanya bulan depan, CaRE ITB tadi bakal menguji coba pabrik penghasil Bensin Super Biohydrocarbon di Kudus, Jawa Tengah. Alumni Teknik Kimia ITB seperti Sahat Sinaga, Sapto Tranggono dan sejumlah rekannya digandeng. 

CaRE ITB menamai biohydrocarbon lantaran bahan baku Bensin Super (BS) tadi adalah minyak kelapa sawit berbentuk bio. Hasil olahannya disebut hydrokarbon yang mirip dengan minyak fosil. 

"Kualitas BS itu jauh di atas Pertamax yang ON nya 92. Pertamax Plus saja, ONnya cuma 95," cerita Sahat Sinaga kepada katakabar.com. 

Nah, pabrik uji coba tadi kata Ketua Masyarakat Biohydrokarbon Indonesia (MBI) ini, masih berkapasitas kecil; 1000 liter sehari. 

Meski kecil, ayah tiga anak ini memastikan kalau 99 persen teknologi dari semua piranti pabrik itu asli dalam negeri, begitu juga dengan para pekerjanya.  

Di dalam negeri, bensin super ini enggak bisa langsung dijual di pasar bebas. Sebab itu tadi, ONnya terlalu tinggi. 

Untuk menurunkan ONnya, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN), Care ITB sudah bersepakat membikin dua pabrik di luar Jawa. Namanya pabrik Industry Vegetable Oil (IVO).

Pabrik pertama di Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan (Sumsel) dengan kapasitas 2.500 barrel per hari. Lalu di Pelalawan Provinsi Riau juga bakal dibangun meski hanya berkapasitas 1.500 barrel per hari. 

"IVO ini adalah minyak CPO+ untuk tujuan bahan bakar. Dia sudah bebas dari komponen perusak lantaran sudah dinetralisir oleh katalis "merah-putih". Katalis ini produksi CaRE ITB juga," terang Sahat. 

Dua daerah tadi dipilih lantaran sama-sama dekat dengan sumber minyak fosil. "Minyak fosil yang sudah disuling, bisa kita beli seharga Rp4500 per liter. Inilah yang akan kita bikin campuran Bensin Super itu supaya ON nya bisa turun menjadi 92. Premium setara Pertamax ini bakal kita jual Rp9.100 seliter," rinci Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) ini.  

Tapi untuk sementara kata Sahat, IVO tadi masih harus diolah dulu di kilang pertamina. Kalau yang di Muba dikirim ke Plaju, Palembang dan yang di Pelalawan dikirim ke Dumai. 

Sebab kalau mau membikin Kilang Biohidrokarbon berkapasitas 2.500 barrel IVO perhari, musti dibangun dulu 3 pabrik Palm Oil Mill (POM). Sumber bahan bakunya pun sekitar 25 ribu hektar kebun kelapa sawit produktif. 

Jadi semuanya masih berproseslah, yang penting semua teknologi untuk itu sudah ada.     
 
Bagi Sahat, unit pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak IVO itu disebut Traga Oil Mill (TOM), ini generasi kedua dari PO Mill. 

TOM lah yang akan menghasilkan IVO untuk diolah di kilang biohydrocarbon dan menghasilkan Bensin Super.  

Ongkos membangun TOM ini kata Sahat lebih kecil ketimbang PKS konvensional. Sudah itu, lebih efisien pula lantaran ongkos pengolahan TBSnya lebih rendah. 

"Kalau ongkos olah TBS di PKS biasanya berkisar Rp153 per kilogram, di TOM hanya Rp95-Rp110 per kilogram," rinci jebolan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung 1973 ini. 

Lima tahun lagi kata Sahat, IVO ini sangat dibutuhkan. Kalau tujuannya untuk memenuhi bauran energi 23?ri kebutuhan bensin, maka dibutuhkan sekitar 158 unit kilang biohydrocarbon. Itupun kalau kapasitasnya rata-rata 2500-3000 barrel IVO perhari.

"Kilang biohydrocarbon ini akan kita bagun di seluruh wilayah Indonesia yang ada kebun kelapa sawit petaninya. Sasaran kita memang petani kelapa sawit," kata Sahat. 

Dan misi ini kata Sahat akan jalan terus lantaran semuanya asli dalam negeri. Kalau misi ini jalan, sawit rakyat terbeli dan minyak pun lekas terjual lantaran rentang kendalinya pendek. 

"Biaya distribusi Bensin biohydrokarbon ini ekonomis. Sebab itu tadi, bikinnya di kabupaten itu, jualnya juga di wilayah itu," katanya. 

Sahat kemudian meyakinkan kalau kilang  biohydrokarbon ini hadir bukan untuk jadi pesaing Pertamina. 

"Tujuan kita kan memasarkan bahan bakar yang affordable (terjangkau), bisa Pertamina, bisa juga Koperasi . Kalau fatty acid methy ester (fame) --- biodiesel --- biarlah urusan perusahaan besar. Biohydrokarbon urusan rakyat yang komandonya Kementerian Koperasi," Sahat merinci.

Kalau apa yang dikatakan Sahat ini terwujud, bukan tidak mungkin ekspor biodiesel ke Eropa maupun Amerika, dihentikan. Sebab kebutuhan solar untuk domestik begitu besar. 

Kreatifitas petani pun akan digenjot. Sebab kata Sahat, biar harga IVO bisa affordable, produksi kebun petani musti di atas 20 Ton TBS perhektar pertahun. 

Petani juga akan sangat diuntungkan lantaran TOM mengolah TBS menjadi IVO dengan tingkat rendemen atau Oil Extraction Rate (OER)  yang tinggi. 

"Kalau koperasi-koperasi petani sudah punya TOM, dipastikan mereka akan semakin kreatif, sebab mereka akan merasakan manfaat lebih. Mereka juga sudah disebut petani modern lantaran sudah masuk ke generasi kedua; TOM," ujar Sahat. 

Editor : Aziz

Berita Terkait