Pekanbaru, katakabar.com - Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat Nilai Tukar Petani atau NTP Provinsi Riau pada Desember 2024 mencapai 196,72. Terjadi kenaikan signifikan sebesar 3,11 persen dibanding bulan sebelumnya berada di angka 190,79. Ini dari pemantauan di 12 kabupaten dan kota se Riau.

“Kenaikan NTP Riau didongkrak meningkatnya indeks harga yang diterima (It) petani sebesar 3,20 persen. Sedang, indeks harga yang dibayar (Ib) petani naik tipis sebesar 0,09 persen,” ujar Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi melalui keterangan resmi, dilansir dari laman EMG, Jumat (3/1).

Kalau menurut subsektornya, kata Asep, pada Desember 2024 NTP Tanaman Pangan mengalami kenaikan indeks sebesar 0,58 persen, dari 96,76 pada November menjadi 97,32 pada Desember 2024. Kenaikan ini disebabkan It mengalami kenaikan sebesar 0,69 persen, sementara Ib hanya naik sebesar 0,11 persen.

“Naiknya It subsektor tanaman pangan disebabkan oleh kenaikan indeks harga kelompok padi sebesar 0,77 persen (khususnya gabah) dan palawija sebesar 0,44 persen (khususnya ketela pohon dan ketela rambat),” jelasnya.

NTP subsektor Tanaman Hortikultura pada Desember 2024 mengalami penurunan indeks sebesar 0,01 persen, yaitu dari 96,79 pada November 2024 menjadi 96,78 pada Desember 2024. Hal ini disebabkan oleh naiknya It sebesar 0,14 persen, relatif lebih rendah dibandingkan kenaikan Ib sebesar 0,16 persen.

Naiknya It subsektor hortikultura ini disebabkan naiknya indeks harga pada kelompok sayur-sayuran sebesar 1,59 persen (khususnya cabai rawit, ketimun, kacang panjang, dll), serta kelompok tanaman obat sebesar 0,97 persen (khususnya jeruk nipis). 

Lalu, naiknya indeks harga yang dibayar petani untuk subsektor ini disebabkan kenaikan indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,19 persen (khususnya beras, cabai merah, daging ayam ras, ikan belanak, tomat sayur, dan lainnya), sementara indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) turun sebesar 0,01 persen (khususnya pupuk NPK).

NTP subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat tercatat mengalami lonjakan paling besar, rinciannya
sebesar 3,38 persen atau dari 210,78 pada November 2024 menjadi 217,91 pada Desember 2024. Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan It sebesar 3,46 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,08 persen.

“Naiknya It disebabkan naiknya indeks harga kelapa sawit, kelapa, kakao, dan kopi. Sementara naiknya Ib disebabkan oleh kenaikan indeks konsumsi rumah tangga (khususnya beras, cabai merah, tomat sayur, daging ayam ras, ikan belanak), sementara indeks BPPBM turun sebesar 0,29 persen (khususnya pupuk KCL, TSP/SP 36, NPK, dan ZA),” rincinya.

NTP subsektor Peternakan mengalami kenaikan indeks sebesar 0,70 persen, yaitu dari 94,89 pada November 2024 menjadi 95,55 pada Desember 2024. Kenaikan ini disebabkan oleh naiknya indeks harga pada kelompok unggas (khususnya ayam ras pedaging), ternak kecil (khususnya babi dan kambing) dan ternak besar (khususnya sapi potong).

Untuk NTP subsektor Perikanan mengalami kenaikan sebesar 0,43 persen, yaitu dari 104,72 pada November 2024 menjadi 105,18 pada Desember 2024. Kenaikan ini disebabkan peningkatan indeks harga pada kelompok perikanan tangkap (khususnya ikan baong, gabus, lais), perikanan budidaya (khususnya nila tawar, mas/karper tawar).

Dari 10 provinsi di Pulau Sumatra, tambahnya, sebanyak 9 provinsi mengalami kenaikan NTP pada Desember 2024. Riau mencatatkan kenaikan tertinggi diikuti oleh Sumatera Barat (2,17 persen), Jambi (2,16 persen), dan Lampung (1,87 persen). Hanya Sumatra Selatan yang mengalami penurunan NTP sebesar -0,24 persen.