Dalam pelaksanaannya, PTPN IV PalmCo memberikan berbagai bentuk pendampingan, mulai dari sosialisasi, pelatihan teknis, studi banding, penguatan kelembagaan, dukungan sertifikasi, hingga pengembangan akses pemasaran. 

Para pelaku IKM juga memperoleh kesempatan mempelajari standar produksi alat pertanian modern melalui kunjungan ke sentra pandai besi yang telah berhasil menjadi pemasok industri perkebunan. Transfer pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas, konsistensi, dan kapasitas produksi.

Pada aspek kelembagaan, perusahaan memfasilitasi pembentukan koperasi berbadan hukum sekaligus membantu proses pengurusan legalitas usaha. Pendampingan juga diarahkan pada pengembangan sertifikasi produk, termasuk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan Standar Nasional Indonesia (SNI), yang saat ini masih dalam proses.

Selain itu, PTPN IV PalmCo turut menyalurkan bantuan peralatan produksi untuk mendukung modernisasi proses kerja sekaligus membuka akses permodalan guna menjaga keberlanjutan produksi dan ketersediaan bahan baku.

Jatmiko menambahkan bahwa transformasi kelompok pandai besi dari bengkel-bengkel kecil menjadi koperasi sekaligus pemasok industri menunjukkan pentingnya kolaborasi jangka panjang antara perusahaan dan masyarakat.

"Yang ingin kita bangun adalah kemandirian. Perusahaan hadir untuk membuka akses, memperkuat kapasitas, dan menciptakan peluang. Namun, tujuan akhirnya adalah agar para pelaku usaha memiliki kelembagaan yang kuat, produk yang berkualitas, pasar yang berkelanjutan, dan kemampuan untuk terus berkembang. Jika usaha lokal tumbuh, lapangan kerja tercipta, ekonomi daerah bergerak, dan rantai pasok perusahaan semakin kuat," tutur Jatmiko.

Pendekatan tersebut mendorong pelaku usaha yang sebelumnya bekerja secara individual maupun dalam kelompok kecil untuk membangun badan usaha yang lebih tertata. Dengan kelembagaan yang semakin kuat dan kualitas produksi yang terus meningkat, koperasi binaan kini mampu memenuhi kebutuhan perusahaan dalam jumlah yang lebih besar.

Perjalanan IKM binaan PTPN IV PalmCo juga menunjukkan bagaimana kemitraan mampu menjadi penyangga usaha pada masa krisis. Pimpinan CV Mola Maju Basamo, Desrico Apriyus, mengingat bagaimana dukungan perusahaan membantu keberlangsungan usahanya saat pandemi COVID-19.

"Waktu itu hampir semua orang kesulitan menjual produk. Ekonomi seperti lumpuh. Tapi justru di situ PTPN hadir. Mereka menyerap produk kami, membimbing kami, dan membantu kami, sehingga kami tetap bisa berproduksi di tengah situasi yang sulit," timpal Desrico.

Kemitraan tersebut terus berkembang. Pada tahun berikutnya, PTPN tidak hanya berperan sebagai penyerap hasil produksi (offtaker), tetapi juga memberikan dukungan permodalan melalui program kemitraan senilai Rp800 juta.

Dukungan tersebut mendorong konsolidasi bengkel-bengkel kecil menjadi sentra usaha yang lebih produktif, sementara kelompok usaha bersama bertransformasi menjadi badan usaha dengan tata kelola yang semakin kuat.

Melalui program TJSL, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo terus memastikan bahwa keberadaan industri perkebunan memberikan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional. Penguatan IKM pandai besi menjadi salah satu wujud nyata keterhubungan antara pemberdayaan ekonomi lokal dengan kebutuhan rantai pasok industri.

Kemitraan tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha lokal memiliki peluang untuk tumbuh menjadi bagian dari ekosistem industri nasional apabila didukung melalui pendampingan, peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, akses permodalan, serta kepastian pasar yang berkelanjutan.

Dari bengkel-bengkel sederhana di Sumatera Utara dan Riau, alat-alat produksi buatan pelaku usaha lokal kini telah menjadi bagian dari operasional industri sawit nasional. Transformasi tersebut menjadi bukti bahwa program pemberdayaan yang terintegrasi mampu membuka akses pasar, memperkuat daya saing usaha, menciptakan nilai ekonomi, sekaligus mendorong IKM lokal naik kelas secara berkelanjutan.