Bengkulu, katakabar.com - Para petani kelapa sawit rela bermalam santing sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Biosolar Subsidi di Provinsi Bengkulu.

Lihat, antrean panjang kendaraan di sejumlah Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Provinsi Bengkulu. Lantaran BBM langka, beberapa dari mereka rela antre selama dua hari hanya untuk dapat Biosolar sangat dibutuhkan.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu, Ir Mulyani menjelaskan, terjadinya antrean panjang kenderaan disebabkan kuota BBM jenis Biosolar untuk wilayah Provinsi Bengkulu sudah melebihi batas penggunaan yang telah ditetapkan.

Pada Juni tahun ini, penggunaan BBM jenis Biosolar sudah melebihi kuota sebesar dua persen. Akibatnya terpaksa mengurangi distribusi biosolar dari biasanya 32.000 liter menjadi 16.000 liter ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

"Konsumsi Biosolar sudah melebihi kuota di bulan lalu membuat Pertamina mengurangi distribusi agar pasokan Biosolar hingga akhir tahun cukup," ujar Mulyani dilansir dari laman elaeis.co pada Jumat (11/8).

Menurutnya, kami bakal mengajukan permohonan penambahan kuota pasokan solar kepada Pertamina guna mengatasi tidak terjadi antrean yang panjang di SPBU.

"Kami bakal ajukan penambahan kuota biosolar, dan nanti dibahas dengan Pertamina," jelasnya.

Saat ini sambungnya, sedang dilakukan kajian kebutuhan masyarakat terkait pasokan solar. Dari prediksi, usulan yang mau diajukan berkisar 10 persen dari alokasi kuota pasokan solar tahun 2023.

"Pemerintah Provinsi Bengkulu mendapatkan alokasi kuota pasokan solar sebanyak 105.696 kilo liter tahun ini. Untuk usulan yang mau diajukan kepada Pertamina sekitar 10 ribu kilo liter setara 10 persen. Jika diaminkan Pertamina mudah-mudahan dapat membantu mengurangi antrean di SPBU dan memenuhi kebutuhan biosolar masyarakat," bebernya.

Untuk mengatasi masalah kekurangan pasokan BBM Biosolar subsidi, Pemprov Bengkulu kolaborasi dengan Pertamina, seperti penambahan kuota pasokan dan pengendalian distribusi sedang dipertimbangkan pastikan pasokan BBM biosolar yang memadai bagi masyarakat.

"Kami kolaborasi dengan Pertamina agar pasokan Biosolar bisa terus tersedia," ulasnya.

Ditambahkannya, persoalan pasokan BBM Biosolar subsidi rutin terjadi di Provinsi Bengkulu. Itu sebabnya, penting kerja sama antara pemerintah, Pertamina, dan masyarakat guna pastikan ketersediaan dan distribusi yang adil serta efisien bagi kepentingan semua pihak biara masalah ini tidak terulang lagi di masa datang.

Sales Area Manager Bengkulu, Mochammad Farid Akbar menimpali, kita awasi kendaraan yang melakukan pengisian Biosolar subsidi.

Bila nanti ada pemilik kendaraan angkutan batu bara maupun sawit yang kedapatan mengisi biosolar subsidi, siap-siap QR Codenya diblokir.

"Cara itu salah satu upaya agar masalah antrean panjang tidak terjadi, sebab banyak angkutan batu bara dan sawit ikut antre beli biosolar subsidi selama ini," sebutnya.