Pontianak, katakabar.com - Universitas Tanjungpura (Untan) kembali cetak prestasi membanggakan melalui penelitinya, Chico John Karunia Simamora MSi dan tim dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

Chico dan tim berhasil meraih penghargaan Video Presentasi Terbaik dalam ajang Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2024 yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di Nusa Dua, Bali, belum lama ini.

Prestasi ini diraih atas presentasi mereka tentang Lipopetida Siklik GBSR1, sebuah inovasi pengobatan penyakit ganoderma yang menyerang tanaman kelapa sawit.

Produk ini terbukti efektif dalam merusak jaringan utama ganoderma sehingga jamur tersebut mengalami degradasi dan kemampuan tumbuhnya berkurang signifikan.

Dalam presentasinya, Chico menjelaskan, penggunaan Lipopetida Siklik GBSR1 pada tanaman sawit yang terinfeksi ganoderma memungkinkan tanaman untuk sembuh dan tumbuh kembali, tanpa khawatir terserang ulang oleh penyakit yang sama.

"Proyek ini juga melibatkan penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam proses ekstraksi dan purifikasi bahan aktif," terangnya lewat rilis Humas Untan, dilansir dari laman EMG, Senin (14/10).

Dr Nelly Wahyuni, anggota tim peneliti sampaikan keunggulan produk tersebut, yang memiliki stabilitas kimia, termal, dan tahan terhadap paparan sinar UV. Dengan desain inkapsulasi yang mereka kembangkan, penyerapan dan distribusi bahan aktif menjadi lebih efektif dalam memberantas ganoderma.

Anggota tim peneliti yang lain, Jumiati MSi mengutarakan, produk ini mempunyai keunggulan utama yaitu merusak jaringan ganoderma hidup untuk mengalami degradasi serta penghentian kemampuan tumbuh secara tuntas. Dengan tujuan tanaman sawit sakit yang diobati tidak akan terserang kembali, dan kemungkinan regenerasi miselia ganoderma yang kecil.

"Sehingga tanaman dapat melakukan penyembuhan dan pertumbuhan kembali tanpa ada kemungkinan ganoderma akan berkembang kembali," ucapnya.

Peneliti lainnya, Muhammad Pramulya MSi menimpali, berbagai metode pengendalian telah dilakukan, tapi tingginya serangan ganoderma boninense di perkebunan sawit, ditambah faktor lingkungan tropis, menyebabkan infeksi sulit diatasi dan berpotensi menyebar luas. Ganoderma, patogen soil-borne yang bersifat parasitik dan saprofitik, menyebabkan kerugian besar di industri sawit.

“Kelapa sawit seharusnya memiliki umur produksi panjang, tapi serangan penyakit ini bisa membuat tanaman mati di bawah usia 10 tahun,” ulasnya.

Ditambahkannya, kebijakan replanting tidak menjadi solusi efektif karena tingginya risiko serangan ulang ganoderma.