Ganoderma
Sorotan terbaru dari Tag # Ganoderma
Vertical Soil Health Penting Tekan Ganoderma dan Pulihkan Produktivitas Sawit
Medan, katakabar.com - Perbaikan praktik budidaya sawit selama bertahun-tahun belum sepenuhnya mampu menghentikan penurunan produktivitas jangka panjang. Pada 3rd ISGANO 2026, Rais Andersen dari Pascal Biotech Sdn Bhd, menjabarkan akar persoalan terletak pada cara industri memahami kesehatan tanah. Kesehatan tanah, ulas Rais, tidak hanya ditentukan parameter kimia seperti pH dan unsur hara tetapi aspek fisika dan biologi tanah. Tetapi, selama ini hampir seluruh pengukuran dan intervensi dilakukan pada lapisan 0 hingga 20 centimeter atau topsoil. “Masalahnya, performa kelapa sawit tidak ditentukan oleh 20–30 cm pertama. Ia ditentukan oleh sistem akar yang memanjang hingga 100–150 cm,” jelasnya, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Ahad sore. Kata Rais arsitektur akar sawit terbagi dalam dua zona biologis. Pertama, feeder root zone (0–20/30 cm): zona serapan hara, responsif terhadap pupuk. Kedua, structural root zone (30–100+ cm): zona kelangsungan hidup, tempat akar lignifikasi menyimpan karbohidrat, menopang pohon, mengakses kelembapan dalam, dan menentukan toleransi stres serta potensi hasil jangka panjang. Ia menyebut adanya “Hidden 80%”, sekitar 80% sistem akar sawit, 80% residu kayu, dan 80% karbon tanah berada di bawah 20 cm. Bahkan inokulum Ganoderma dapat bertahan hingga kedalaman 1,5 meter. Namun ironisnya, 95% intervensi agronomi saat ini hanya memengaruhi lapisan atas tanah. Paparan tersebut juga menyoroti fenomena soil fatigue, yaitu kelelahan tanah akibat siklus budidaya panjang. Literatur menunjukkan tiga bentuk kelelahan tanah: • Chemical fatigue – penurunan bahan organik, tanah makin asam, unsur hara kurang tersedia. • Physical fatigue – pemadatan subsoil meningkat, volume efektif perakaran menyempit, infiltrasi air menurun. • Biological fatigue – keanekaragaman mikroba lapisan dalam runtuh, subsoil menjadi anaerob dan miskin karbon. Kondisi tersebut mengubah tanah dari suppressive soil (tanah yang menekan patogen) menjadi conducive soil (tanah yang mendukung perkembangan patogen). “Jika melihat gedung tinggi, jangan hanya melihat warna catnya. Lihat pondasinya. Kalau ingin menyelesaikan masalah, kita harus memperbaiki hingga ke dasar,” analoginya. Menurut Rais, pupuk yang diaplikasikan pada TM 1–TM 2 memang merangsang akar serabut di lapisan atas sehingga kebun tampak responsif dalam beberapa tahun awal. Namun seiring waktu, akar struktural di kedalaman mengalami degradasi karena tanah padat, anaerob, dan biologinya kosong. Pada zona inilah Ganoderma hidup dan mengkolonisasi residu akar lignifikasi. Sementara mikroba permukaan seperti mikoriza dan Trichoderma tidak mampu bertahan atau berfungsi efektif di kedalaman lebih dari 30 cm. Rais memperkenalkan konsep Vertical Soil Health, yakni pendekatan perbaikan tanah hingga lapisan subsoil. Solusi biologis yang diusulkan adalah pemanfaatan Streptomyces, mikroba tanah dalam yang mampu bertahan di kondisi rendah oksigen, tanah padat, dan lingkungan miskin karbon. Aplikasi pada lubang tanam dan zona akar dalam bertujuan membangun kembali lapisan kelangsungan hidup (30–100 cm), meningkatkan porositas subsoil, memperbaiki umur akar, dan mengembalikan efisiensi pupuk. “Topsoil memberi hasil hari ini. Deep soil memberi hasil 25 tahun ke depan,” ucapnya. Ia menekankan masa depan pengelolaan Ganoderma bersifat ekologis, bukan sekadar kimiawi. Jika subsoil kembali aktif secara biologis, maka inokulum Ganoderma dapat dinetralkan, karbon tanah meningkat secara alami, akar struktural tumbuh optimal, produktivitas naik. Dengan pendekatan vertical soil health ini, industri sawit diharapkan mampu keluar dari siklus kelelahan tanah dan membangun kembali sistem pertahanan biologis kebun secara menyeluruh.
Produk Pembasmi Ganoderma Antarkan Tim Peneliti Untan Raih Penghargaan di PERISAI
Pontianak, katakabar.com - Universitas Tanjungpura (Untan) kembali cetak prestasi membanggakan melalui penelitinya, Chico John Karunia Simamora MSi dan tim dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Chico dan tim berhasil meraih penghargaan Video Presentasi Terbaik dalam ajang Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2024 yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di Nusa Dua, Bali, belum lama ini.
Gerakan Sporadis Perangi Penyakit Ganoderma Musuh Kelapa Sawit
Jakarta, katakabar.com - Gerakan sporadis pengendalian ganoderma diserukan di seluruh pelaku perkebunan kelapa sawit. Meski gerakan bersifat terpadu sepertinya penyakit ini belum tentu bisa diatasi lantaran penularannya lewat kontak akar di dalam tanah. "Kalau mau perang melawan ganoderma, setiap pelaku usaha sawit harus kenali musuh lebih dulu," kata Ketua Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia atau MAKSI, Darmono Taniwiryono, dilansir dari laman Media Indonesia, Selasa (10/9).
Turunkan Tim POPT, Disbun Aceh: Belum Pasti Sawit Diserang Jamur Ganoderma
Banda Aceh, katakabar.com - Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh sudah turunkan tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk menelusuri dan mengecek secara langsung tanaman kelapa sawit di kebun warga Aceh Barat Daya yang diduga terserang penyakit jamur ganoderma. "Saat ini, kami belum dapatkan hasil apakah benar ganoderma atau bukan. Sekarang sedang kami telusuri," ujar Kepala UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Zulfadli di Banda Aceh, Senin kemarin, dilansir dari laman ANTARA, pada Selasa (27/2). Menurutnya, penyakit ini berasal dari golongan jamur. Biasanya jamur ganoderma tersebut sudah bertahan lama dalam tanah, apalagi di lahan gambut dengan kelembapan tinggi. "Kalau ini memang ganoderma, risiko penyakit ini sangat tinggi, cepat menular ke tanaman lain, apalagi musim hujan," jelasnya. Saat ini, kata Zulfadli, tim POPT sedang mengidentifikasi secara langsung tanaman kelapa sawit yang patah tiba-tiba di Aceh Barat Daya karena diduga terkena serangan ganoderma. Petugas, ulas Dia, bakal mengambil sampel tanaman sawit tersebut untuk dikirim ke balai besar di Medan, Sumatera Utara, guna diuji di laboratorium untuk mengetahui kebenarannya. "Kalau saya lihat dari kondisinya (patah), kemungkinan terkena ganoderma. Untuk itu, sampel bakal dikirim ke balai besar di Medan untuk menguji ganoderma," bebernya. Di tahun 2023, sebut Zulfadli, pihaknya pernah mendapat laporan serangan ganoderma terhadap tanaman kelapa sawit milik warga di Aceh Jaya. Hasil identifikasi balai besar penelitian di Medan menyebutkan serangan tersebut merupakan penyakit jamur ganoderma. "Setelah itu, keluar rekomendasi kepada petani untuk beberapa teknik pengendalian. Tapi, paling penting kalau terkena ganoderma, harus disegera dimusnahkan, tidak boleh dibiarkan karena menular melalui tanah. Maka, dimusnahkan dengan cara dibakar,” ucapnya. Diberitakan sebelumnya, serangan jamur ganoderma menjadi ancaman bagi tanaman kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat Daya. Serangan jamur ini dapat merugikan petani kelapa sawit di daerah itu. Serangan jamur genoderma menyebabkan tanaman sawit patah secara tiba-tiba, kemudian mati. "Penyakit ini diduga berasal dari jamur ganoderma yang menyerang akar dan batang sawit secara tiba-tiba langsung patah," tutue Ikhwan Alian, petani dan pemilik kebun sawit di Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya. Saat ini hampir seluruh kebun sawit di Kecamatan Babahrot dan Kuala Batee mengalami serangan penyakit jenis tersebut. "Sudah banyak yang mati, padahal daun pohon sawit itu tidak layu, tapi tumbang secara tiba-tiba. Rata-rata dalam areal lahan 1 hektar, ada dua hingga tiga pohon yang patah, malah ada yang lebih," tandasnya.
Sumut Paling Besar Terkena Ganoderma Tanaman Kelapa Sawit, Ini Langkah Kementan RI
Jakarta, katakabar.com - Provinsi Sumatera Utara paling besar terkena Ganoderma pada tanama kelapa sawit, sudah masuk generasi ke lima seluas 34.000 hektar. Guna mencegah sekaligus antisipasi penyakit pangkal busuk batang disebabkan Ganoderma yang menyerang tanaman kelapa sawit. Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia lewat Ditjen Perkebunan melakukan sejumlah langkah antisiapasi dan pencegahan, Menurut Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan, Kementan RI, Ardi Praptono dalam Simposium Internasional Ganoderma di Bandung, pada Rabu kemarin menyatakan, penyakit pangkal busuk batang yang disebabkan Ganoderma dapat mempengaruhi tingkat produksi dan produktivitas tanaman, khususnya perkebunan kelapa sawit rakyat. "Pemerintah melakukan pemantauan dan pelaporan Ganoderma di semua provinsi dengan aplikasi sistem informasi pelaporan dan rekap data organisme pengganggu tanaman (sipereda OPT) serta Informasi pengendalian OPT melalui aplikasi sistem informasi kesehatan tanaman (sinta)," ujarnya dilansir dari laman ANTARA, pada Kamis (1/2). Diceritakan Ardi, perkebunan rakyat yang terkena Ganoderma mencapai 46.767 hektar, paling besar di Sumut sudah masuk generasi ke lima, 34.000 hektar. "Perkebunan rakyat yang terkena tersebar di 12 provinsi, meliputi Nangroe Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat," jelasnya. Kata Ardi, pertumbuhan dan perkembangan kelapa sawit masih menjajikan dan jadi tumpuan untuk menjaga perekonomian nasional terjaga apalagi ekspor pertanian didominasi minyak kelapa sawit yang nilainya mencapai 34,94 miliar dolar AS atau setara Rp600 triliun pada 2022 lalu. "Untuk itu, kami mengharapkan semua pihak bersinergi untuk mengendalikan penyakit ini dan meminta masukan konkrit kepada pemerintah," serunya. Penyakit busuk pangkal batang disebabkan Ganoderma, ulas Ketua Umum GAPKI, Edy Martono, salah satu ancaman keberlanjutan kelapa sawit Indonesia. "Sering terjadi baik di perusahaan dan perkebunan rakyat, terlambat menyadari sehingga harus dieridikasi," bebernya. Banyak upaya untuk melakukan mitigasi Ganoderma, sebut Edy, seperti sanitasi, deteksi dini dan rekayasa tanaman tahan ganoderma tapi hasilnya belum memuaskan sehingga harus dilakukan berbagai upaya. Kalau semakin banyak tanaman yang terkena dan eridikasi banyak yang dilakukan maka populasi tanaman berkurang dan produksi dan produktivitas menurun. "Penelitian Ganoderma perlu diperbanyak dengan pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sehingga menghasilkan mitigasi baru yang selama ini tidak terpikirkan," terangnya. Komite Riset BPDPKS, Tony Liwang menimpali, BPDPKS sudah membiayai beberapa riset terkait Ganoderma seperti penggunaan drone untuk deteksi dini. "BPDPKS sangat berkepentingan untuk menjaga keberlanjutan sawit Indonesia, termasuk dari ancaman ganoderma," ucapnya. Dewan Pakar Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI), Karyudi menuturkan, pengendalian Ganoderma mengembalikan kondisi tanah seperti pada masa lalu dengan memasukan organisme antagonis seperti mikoriza dan trichoderma. Kepala Dinas Perkebunan Jambi, Agus Rizal menjelaskan, selama ini Disbun Jambi membantu dengan trichoderma yang dibuat oleh UPT Perlindungan Perkebunan Disbun. "Jambi siap berkolaborasi dengan semua pihak sebagai percontohan pengendalian ganoderma, terutama untuk perkebunan rakyat," imbuhnya.