Pasir Pengaraian, katakabar.com  - Dimana-mana, khususnya di kalangan orang Melayu Rokan, daun pohon Seminyak itu katanya diapain pun, enak. 

Mau digulai putih, kuning, tumis,  atau direbus, tetap saja nikmat. Buah pohon ini malah bisa dibikin keripik, rasanya persis keripik melinjo.

Tapi tunggu dulu, kalau ada orang Melayu Rokan bilang masakan daun Seminyak ini adalah masakan khas adat, itu salah. 

Soalnya tanaman ini, sudahlah langka, nongolnya pun musiman dan hanya tumbuh di hutan atau perbukitan. Itulah makanya sulit dibudidayakan.

"Kalau lagi musim, barulah masakan berbahan daun Seminyak ini ada. Tak hanya di kalangan masyarakat biasa, di pesta pernikahan, jamuan makan, bahkan di jaman kerajaan Rokan, juga ada," cerita Kadiskominfo Rokan Hulu (Rohul), Yusmar, kepada katakabar.com, kemarin.

Yusmar membantah itu lantaran ada sederet omongan orang yang bilang kalau masakan berbahan daun Seminyak itu makanan khas Melayu Rokan. Di internet pun, pengakuan kayak begitu tadi, ada. 

Nah, yang justru jadi masakan khas Rohul itu kata mantan Kadis Pariwisata Rohul ini adalah Campa Cahang-Asam Kandih, Campa Cahang-Krasak Kincong, Pendang Ikan Kawan,  Asam Podeh Taleh, Asam Podeh Lingkitang, Asam Podeh Dagiang (daging).

Terus, ada pula Gulai Lingkitang, Gulai Alo-Alo, Gulai Jangek Torong, Gulai Pucuk Ubi Tumbuk, Gulai Krasak Labu Cino, Paih dan Pokasam.

Walau tidak masuk dalam kategori masakan adat kata Yusmar, pucuk Seminyak tetap musti diketahui oleh kalangan muda.

Sebab apa pun ceritanya, masakan berbahan pucuk Seminyak ini sudah menjadi bagian dari dapur orang Melayu Rokan, sejak dulu. 

Sofyan, salah seorang warga melayu Rokan di Desa Rokan IV Koto Kecamatan Rokan IV Koto mengamini apa yang dibilang Yusmar tadi.

"Sayuran ini memang tidak termasuk dalam khas masyarakat adat Melayu Rokan. Ini hanya tradisi masyarakat turun-temurun," katanya kepada katakabar.com