Jakarta, katakabar.com -- Hutan bukan sekadar hamparan pepohonan atau lahan yang menunggu untuk dieksploitasi. Bagi masyarakat adat, hutan adalah ruang hidup, sumber pangan, identitas budaya, sekaligus warisan leluhur yang harus dijaga. Pesan ini menggema kuat dalam Diskusi Publik Budaya dan Lingkungan yang dipadukan dengan Pentas Seni Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026.
Kegiatan yang digagas Yayasan Pengawal Etika Nusantara (YAPENA) bersama Philia Akasia Akademi tersebut mengangkat tema "Lahan sebagai Ketahanan Pangan untuk Masyarakat Adat" dengan subtema "Hutan Bukan Lahan Kosong". Forum ini mempertemukan akademisi, pegiat lingkungan, pemerhati budaya, masyarakat adat, dan penyandang disabilitas untuk menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian alam melalui pendekatan budaya, pendidikan, dan inklusivitas.
Tak kurang dari 150 anak berkebutuhan khusus dari Philia Akasia Akademi turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka bukan sekadar memeriahkan acara, melainkan menjadi simbol bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam menjaga bumi dan menyuarakan kepedulian terhadap masa depan lingkungan.
Ketua Panitia, Bunda Lena, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar pergelaran seni ataupun diskusi akademik, melainkan bentuk perjuangan menghadirkan ruang yang setara bagi semua kalangan. "Kami tidak meminta belas kasihan. Kami meminta ruang," ujarnya saat membuka acara.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, yakni Dr. Santa Lorita Simamora, Dr. Martin Fieser Sitinjak, Joko Sarjono, Geraldine Chapline Natania Latetia dari IPB University, serta Assoc. Prof. Dr. Rosmawaty Hilderiah Pandjaitan.
Dalam paparannya, Dr. Santa Lorita Simamora menjelaskan bahwa storytelling budaya memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan masyarakat adat. Menurutnya, cerita-cerita yang diwariskan turun-temurun bukan sekadar legenda atau tradisi lisan, tetapi juga menjadi media pewarisan pengetahuan ekologis mengenai musim tanam, pengelolaan hutan, konservasi sumber air, hingga cara menjaga keseimbangan alam.

Ia mengatakan, banyak konflik agraria berawal dari perbedaan cara pandang terhadap makna lahan. Bagi masyarakat adat, tanah merupakan warisan leluhur, ruang spiritual, identitas budaya, sekaligus sumber kehidupan. Sebaliknya, bagi sebagian pihak, lahan lebih sering dipandang sebagai aset ekonomi atau objek investasi.
“Storytelling menjadi jembatan komunikasi antarbudaya yang mampu membangun empati, mengurangi kesalahpahaman, serta membuka ruang dialog dalam penyelesaian berbagai persoalan lahan,” ucap Santa Loria.
Perspektif tersebut diperkuat oleh Dr. Martin Fieser Sitinjak yang menyoroti pentingnya lahan sebagai fondasi ketahanan pangan masyarakat adat. Ia menjelaskan bahwa hutan berfungsi menjaga sumber air, mempertahankan kesuburan tanah, melindungi keanekaragaman hayati, sekaligus menyediakan berbagai sumber pangan yang selama ini menopang kehidupan masyarakat adat.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya diukur dari besarnya produksi pertanian, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlanjutan sumber daya alam, kualitas lingkungan, dan sistem pengetahuan lokal yang telah berkembang selama berabad-abad.
“Ancaman seperti alih fungsi lahan, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, serta perubahan iklim menjadi tantangan serius yang harus dihadapi melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” katanya.
Martin juga menekankan pentingnya membangun ekosistem pemasaran produk lokal berbasis masyarakat melalui sinergi pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas, media, dan platform digital agar hasil-hasil pertanian masyarakat memiliki nilai tambah sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga.
Sementara itu, Joko Sarjono memaparkan pengalaman mengembangkan Kampung Eduwisata Bhinneka sebagai contoh nyata bagaimana pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dan penyandang disabilitas.
Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai lingkungan kumuh di RW 06 Kebon Kosong, Kemayoran, kini telah bertransformasi menjadi ruang terbuka hijau produktif melalui pengembangan urban farming, hidroponik, bank sampah, budidaya maggot, pemanfaatan energi surya, serta berbagai program ekonomi hijau.

Program tersebut juga memberikan ruang kerja yang sesuai bagi penyandang disabilitas, mulai dari pengelolaan kebersihan kawasan, administrasi, pelayanan tamu, hingga pengelolaan bank sampah. Menurut Joko, keberhasilan menjaga lingkungan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi terutama oleh kolaborasi masyarakat, pemerintah, komunitas, pemuda, perempuan, dan kelompok disabilitas.
Seluruh narasumber sepakat bahwa masyarakat adat merupakan penjaga keberlanjutan lingkungan yang selama ini berhasil mempertahankan hutan sebagai ruang hidup sekaligus sumber ketahanan pangan. Karena itu, lahan adat tidak dapat dipandang semata-mata sebagai komoditas ekonomi, melainkan harus dihormati sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Pentas Seni Anak Berkebutuhan Khusus
Setelah sesi diskusi, suasana berubah menjadi lebih hangat melalui Pentas Seni Anak Berkebutuhan Khusus. Para peserta didik Philia Akasia Akademi menampilkan berbagai tarian, pertunjukan musik, hingga membawakan lagu Tanah Airku. Penampilan mereka mendapat apresiasi meriah dari para tamu undangan karena membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya maupun menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan.

Bunda Lena mengatakan pendekatan pendidikan di Philia Akasia Akademi mengintegrasikan konsep STEAM, yaitu Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics, sebagai sarana membangun kreativitas sekaligus kepedulian sosial. "Hari ini kami membuktikan bahwa STEAM itu nyata. Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics hidup di tangan anak-anak kami," katanya.
Melalui kegiatan ini, YAPENA dan Philia Akasia Akademi berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya menjaga hutan, menghormati hak-hak masyarakat adat, serta membuka ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan budaya, pendidikan, dan pelestarian lingkungan.
Sebab, sebagaimana mengemuka sepanjang diskusi, hutan bukanlah lahan kosong. Hutan adalah ruang kehidupan yang menyimpan sejarah, budaya, pengetahuan, dan harapan bagi generasi mendatang, yang harus dijaga.-
Suara Masyarakat Adat dan Anak Disabilitas Menggema dari TIM Hutan Bukan Lahan Kosong
Diskusi pembaca untuk berita ini