Bedakan

Sorotan terbaru dari Tag # Bedakan

Bedakan Oknum dan Profesi! Hartanto Boechori: Jangan Samakan Jurnalis dengan 'Londo Ireng' Nasional
Nasional
Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:22 WIB

Bedakan Oknum dan Profesi! Hartanto Boechori: Jangan Samakan Jurnalis dengan 'Londo Ireng'

Rokan Hulu, katakabar.com - Satu frasa yang meluncur dari panggung tertinggi negara kini mengundang gelombang perenungan mendalam di segenap kalangan pers nasional. Ketua Umum Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI), Hartanto Boechori, angkat bicara tegas menyikapi penggunaan istilah "Londo Ireng" oleh Presiden RI, H Prabowo Subianto dalam pidato puncak peringatan HUT ke 28 PKB di Jakarta Convention Center, Kamis (23/7). Bagi insan pers, kata itu bukan sekadar sebutan biasa. Ia membawa beban sejarah kelam selama berpuluh tahun dimaknai sebagai cap bagi pribumi yang membelot, berpihak pada penjajah, dan mengkhianati tanah air. "Pak Presiden, kami tegaskan dengan hormat namun tegas: Jurnalis bukan pengkhianat bangsa," buka Hartanto dengan nada tenang namun penuh bobot. Ia menyadari kemungkinan besar Presiden tidak bermaksud menuding seluruh insan pers. Tetapi, kata yang diucapkan di hadapan publik luas tanpa batasan yang jelas, berisiko melukai marwah ribuan wartawan yang bekerja jujur di garis depan. Bukan maksudnya membantah kritikan. Hartanto justru mengakui masih ada "oknum bertopeng pers" yang memanfaatkan profesi untuk kepentingan kelompok, menyebar narasi sepihak, atau menggiring opini demi keuntungan tertentu. "Mereka inilah yang sesungguhnya merusak nama baik pers. Tapi jangan lantas seluruh profesi disamaratakan," tegasnya. Ia menegaskan bedanya: Jurnalis sejati mengkritik bukan untuk menjatuhkan, melainkan karena menemukan fakta penyimpangan, ketidakadilan, atau kebijakan yang menyimpang dari kesejahteraan rakyat. Kritik berbasis data dan kebenaran adalah napas demokrasi—bukan pengkhianatan. "Yang harus dilawan adalah propaganda dan kebohongan yang berkedok berita. Bukan suara yang menyampaikan kebenaran," tandas Hartanto. Tokoh pers ini pun mengingatkan: Bahasa seorang pemimpin negara memiliki kekuatan luar biasa. Satu kata yang kurang tepat bisa melukai kepercayaan publik terhadap profesi yang bertugas menjaga cahaya kebenaran. Lantarab itu, ia berharap ke depannya diksi yang digunakan lebih berhati-hati, membedakan antara oknum yang menyimpang dengan ribuan jurnalis yang setia pada sumpah profesi. PJI juga mengapresiasi sikap Dewan Pers, PWI, dan sejumlah organisasi pers lain yang senada menyuarakan keberatan demi menjaga kehormatan profesi. Di saat yang sama, Hartanto mengajak seluruh anggotanya untuk terus merenungi diri: pers tidak boleh menjadi alat kekuasaan, namun juga tak boleh menjadi senjata kebencian. "Kompas kita hanya satu: fakta, kebenaran, dan kepentingan rakyat. Pemerintah dan pers berjalan di jalan berbeda, namun menuju rumah yang sama: Indonesia yang lebih baik," tutup Hartanto Boechori.

Sulit Bedakan Penyebab Demam, Prodia Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan
Kesehatan
Selasa, 10 Maret 2026 | 12:10 WIB

Sulit Bedakan Penyebab Demam, Prodia Hadirkan Pemeriksaan

Jakarta, katakabar.com - Demam masih menjadi salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah tropis. Tetapi, gejala seperti demam, nyeri otot, nyeri sendi, atau ruam kulit seringkali memiliki penyebab yang serupa, sehingga sulit dibedakan hanya berdasarkan gejala klinis. Kondisi ini kerap menyebabkan ketidakpastian dalam penanganan, bahkan tidak jarang pasien harus menjalani pemeriksaan berulang untuk memastikan diagnosis. Menjawab tantangan tersebut, PT Prodia Widyahusada Tbk (Prodia) menghadirkan inovasi terbaru melalui peluncuran Panel Arbovirus (Multiplex PCR), sebuah pemeriksaan laboratorium yang dirancang untuk membantu mengidentifikasi penyebab infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk secara lebih cepat dan akurat, terutama pada fase awal penyakit. Di Indonesia, infeksi arbovirus seperti dengue masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan. Gejala awal infeksi virus yang berbeda sering kali tidak spesifik dan dapat menyerupai satu sama lain. Hal ini membuat diagnosis berbasis gejala menjadi kurang akurat, sehingga berpotensi menyebabkan keterlambatan penanganan yang tepat. Panel Arbovirus dari Prodia menggunakan teknologi Real-Time (RT-PCR), yakni metode molekuler yang mendeteksi materi genetik (RNA) virus secara langsung. Berbeda dengan pemeriksaan berbasis antibodi yang memerlukan waktu untuk terbentuk, metode ini memungkinkan deteksi virus pada fase awal infeksi. Dengan pendekatan multiplex, beberapa jenis virus dapat diperiksa secara bersamaan dalam satu kali pemeriksaan, sehingga memberikan hasil yang lebih efisien dan komprehensif. Melalui satu kali pengambilan sampel darah, Panel Arbovirus membantu dokter mengidentifikasi kemungkinan penyebab demam secara lebih pasti. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi kebutuhan pemeriksaan berulang, tetapi juga membantu mempercepat pengambilan keputusan klinis terkait penanganan pasien. “Dalam praktik klinis, gejala demam seringkali tidak spesifik, sehingga diperlukan pemeriksaan yang mampu mengidentifikasi penyebab secara lebih akurat sejak awal. Pendekatan molekuler seperti multiplex PCR menjadi salah satu solusi untuk membantu memastikan diagnosis dan mendukung penanganan yang lebih tepat,” ujar perwakilan medis Prodia. Panel Arbovirus direkomendasikan untuk individu yang mengalami demam dalam beberapa hari pertama, terutama jika gejala tidak khas, berubah-ubah, atau hasil pemeriksaan awal belum memberikan kepastian. Pemeriksaan ini juga relevan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan risiko tinggi penyakit yang ditularkan melalui nyamuk. Dengan hasil yang lebih cepat dan akurat, Panel Arbovirus memberikan manfaat tidak hanya bagi tenaga medis, tetapi juga bagi pasien dan keluarga, antara lain membantu mengurangi ketidakpastian, meminimalkan pemeriksaan tambahan, serta memberikan ketenangan dalam proses penanganan penyakit. Peluncuran layanan ini bagian dari komitmen Prodia dalam menghadirkan inovasi diagnostik berbasis teknologi molekuler untuk mendukung deteksi dini dan penanganan penyakit secara lebih tepat. Melalui pendekatan yang lebih akurat, diharapkan masyarakat dapat memperoleh kepastian diagnosis lebih cepat dan menjalani penanganan yang sesuai sejak awal. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat mengunjungi www.prodia.co.id atau mendatangi cabang Prodia terdekat.

Sulit Bedakan Bibit Sawit Jantan dan Betina! Ini Kiatnya Sawit
Sawit
Rabu, 20 September 2023 | 20:11 WIB

Sulit Bedakan Bibit Sawit Jantan dan Betina! Ini Kiatnya

Bengkulu, katakabar.com - Kebanyakan petani di Indonesia, terutama para petani di wilayah Provinsi Bengkulu masih kesulitan membedakan bibit kelapa sawit jantan dan betina. Kepala Karantina Pertanian Provinsi Bengkulu, Bukhari MM menjelaskan, sangat penting bagi petani untuk mengetahui cara membedakan bibit sawit jantan dan betina guna menjaga produktivitas perkebunan kelapa sawit. Beberapa cara sederhana yang dapat digunakan untuk membedakan bibit kelapa sawit jantan dan betina. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan mengamati ujung daun bibit sawit. "Bibit sawit jantan memiliki ujung daun yang tidak memiliki sulur, sedang pada bibit betina ujung daunnya memiliki sulur serupai benang hijau," ujarnya, dilansir dari laman elaeis.co, pada Rabu (20/9). Tidak cuma itu, ukuran bibit sawit dapat menjadi petunjuk. Bibit sawit jantan cenderung lebih tinggi dan lebih besar dari pada bibit betina. "Ukurannya bahkan sering kali melebihi bibit lainnya," ulasnya. Sisi lain, kata Bukhari, bibit kelapa sawit betina biasanya memiliki ukuran sedang baik dari segi tinggi maupun besar batangnya. "Bibit sawit jantan dan betina bisa dibedakan dari ukuran tinggi," sebutnya. Perbedaan yang mencolok antara sawit jantan dan betina jelasnya, terlihat saat bunga kelapa sawit mulai muncul. Bunga kelapa sawit jantan memiliki bentuk yang lancip dan panjang, bunga betina cenderung berukuran oval bulat dan tandan bunganya lebih pendek atau berdiameter besar. "Perbedaan ini hanya dapat terlihat saat pohon kelapa sawit sudah mulai berbunga," bebernya. Menurutnya, struktur dan bentuk daun bisa menjadi panduan. Bibit kelapa sawit jantan memiliki daun yang tersusun agak jarang, terlihat lebih seperti tanaman abnormal. Sedang, daun pada bibit kelapa sawit betina cenderung berbentuk melebar dan tidak jarang seperti tanaman pada umumnya. Kepada para petani kelapa sawit diminta pahami cara membedakan bibit kelapa sawit jantan dan betina agar usaha mereka membesarkan sawit tidak sia-sia.