Memanas

Sorotan terbaru dari Tag # Memanas

Emas Menguat Tajam di Tengah Memanasnya Ketegangan Global Internasional
Internasional
Selasa, 06 Januari 2026 | 17:00 WIB

Emas Menguat Tajam di Tengah Memanasnya Ketegangan Global

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAU/USD) dunia kembali menguat tajam pada perdagangan hari ini, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Emas saat ini sedang berada dalam fase penguatan yang solid, didukung oleh kombinasi faktor teknikal yang konstruktif dan sentimen fundamental yang menguntungkan. Di awal pekan, emas mencatat lonjakan lebih dari 2,6 persen dan diperdagangkan di area $4.440, setelah sempat tertekan hingga mendekati $4.345. Kenaikan tajam ini mencerminkan respons cepat investor terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela, yang menimbulkan kekhawatiran luas mengenai stabilitas geopolitik dan potensi dampaknya terhadap perekonomian global. Dalam situasi seperti ini, Emas kembali menjadi tujuan utama investor yang mencari perlindungan nilai. Berdasarkan analisa Dupoin Futures, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa sinyal penguatan tren terlihat jelas dari pola candlestick, serta arah indikator Moving Average yang kembali mengarah naik. Struktur harga menunjukkan tekanan beli mendominasi pergerakan pasar, membuka peluang lanjutan kenaikan dalam jangka pendek. Dupoin Futures Indonesia memproyeksikan bahwa apabila momentum bullish tetap terjaga, harga Emas berpotensi melanjutkan reli menuju area $4.520. Meski demikian, risiko koreksi tetap perlu diperhitungkan. Apabila terjadi kegagalan harga untuk mempertahankan momentum penguatan, maka koreksi ke area $4.397 dapat terjadi sebagai skenario alternatif. Penguatan harga Emas juga berlanjut pada sesi Asia Selasa (6/1), dengan emas sempat bergerak di sekitar $4.440 dan mencetak level tertinggi dalam sepekan terakhir. Permintaan terhadap logam mulia ini kembali meningkat setelah ketegangan geopolitik di Amerika Latin semakin memanas. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan istrinya oleh pasukan Amerika Serikat picu ketidakpastian baru, terutama setelah Maduro membantah tuduhan yang dilayangkan dan menyatakan akan menghadapi proses hukum internasional. Pernyataan keras dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang menyebut Amerika Serikat akan mengambil peran dalam pengelolaan sementara Venezuela, semakin memperbesar kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik yang lebih luas. Situasi ini mendorong investor untuk kembali mengalihkan dana ke aset safe-haven tradisional, di mana Emas menjadi salah satu pilihan utama. Selain faktor geopolitik, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve turut memperkuat sentimen positif Emas. Risalah pertemuan FOMC terbaru mengindikasikan bahwa sebagian besar pejabat bank sentral AS masih membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan, seiring tren inflasi yang menunjukkan perlambatan. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah secara umum menguntungkan Emas karena menurunkan biaya peluang bagi investor untuk memegang aset tanpa imbal hasil. Pasar akan mencermati rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, terutama laporan Nonfarm Payrolls bulan Desember yang akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed. Data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi mendorong penguatan Dolar AS dan menekan harga Emas dalam jangka pendek. Tetap, dengan dukungan sentimen safe-haven yang masih kuat serta sinyal teknikal yang positif, prospek pergerakan emas dinilai tetap cenderung menguat dalam waktu dekat.

Tiga Masa Depan Bitcoin, Bila Konflik Iran-Amerika Serikat Memanas Rebound, Koreksi, atau Breakdown! Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 24 Juni 2025 | 17:04 WIB

Tiga Masa Depan Bitcoin, Bila Konflik Iran-Amerika Serikat Memanas Rebound, Koreksi, atau Breakdown!

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin atau BTC sempat turun tajam hingga di bawah US$102.000 pada 22 Juni 2025 setelah Presiden AS Donald Trump memberikan konfirmasi, militer Amerika telah menyerang fasilitas nuklir Iran. Dalam pidatonya, Trump menyatakan, Iran “harus memilih damai atau menghadapi serangan lanjutan.” Dalam beberapa jam, BTC/USD mengalami tekanan jual yang signifikan, menempatkan Bitcoin pada risiko penutupan mingguan terendah sejak awal Mei. Bitcoin sering dianggap sebagai aset hedging atau pelindung nilai saat konflik global memanas. Tapi, nyatanya, harga BTC justru cenderung terkoreksi terlebih dulu sebelum memasuki fase recovery atau pemulihan yang kuat Contohnya, pada saat konflik Rusia dan Ukraina pada tahun 2022, Bitcoin justru naik +42 persen dalam 35 hari meski pasar global saat itu berada dalam fase bearish. Kini, meski dalam siklus bullish, kekhawatiran terhadap konflik Timur Tengah mengaburkan arah pergerakan jangka pendek. Jadi, seperti apa masa depan Bitcoin apabila konflik Amerika dan Iran makin memanas? 1. Koreksi ke $94K–$98K Jika Tekanan Jual Berlanjut Trader Cas Abbe memprediksi bahwa BTC bisa mengalami flush ke kisaran $93.000–$94.000 sebelum rebound dengan kemungkinan 20 persen–25 persen. Data dari CoinGlass menunjukkan zona $97.000 sebagai area likuiditas yang berpotensi menahan penurunan. 2. Risiko Breakdown Lebih Dalam Hingga $92.000 Dilansir dari Investopedia dan Barron's, jika Bitcoin gagal mempertahankan area $98K–$100K, maka harga berisiko turun ke $92.000, menembus support mingguan dan membuka potensi tren bearish yang baru.

RDP Memanas, DPRD Kuansing Terkejut Ribuan Hektar Sawit di HPT Tak Bertuan Politik
Politik
Senin, 03 Februari 2025 | 19:45 WIB

RDP Memanas, DPRD Kuansing Terkejut Ribuan Hektar Sawit di HPT Tak Bertuan

Kuantan Sengingi, katakabar com - Menurut informasi ada ribuan hektar kebun kelapa sawit ditanam dalam kawasan hutan produksi terbatas (HPT) di Kecamatan Hulu Kuantan, Kuantan Sengingi (Kuansing), Riau. Untuk mengetahui cukong korporasi itu, Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kuansing menggelar rapat dengar pendapat bersama instansi terkait dan pengurus kebun, Senin (3/2). Fedrios Gusni, Ketua Komisi II DPRD Kuansing memimpin berjalannya hearing yang sempat memanas sebab terungkap dalam pembahasan hamparan perkebunan kelapa sawit ini tidak bertuan alias 'Siluman'. "Ada perkebunan yang luasnya ribuan hektar, tapi tidak ada yang tahu. Berarti ini kebun tak bertuan, kita babat saja," tegasnya. Perkebunan sawit "siluman" itu mencakup di lima desa diantaranya Desa Inuman, Tanjung Medang, Serosa, Mudik Ulo dan Desa Sumpu. Pertemuan itu hanya dihadiri pihak Diskopdagrin, itupun diwakili Kabid dan stafnya. Sedang, dewan mengundang beberapa pihak seperti pengelola kebun, Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak), Camat hingga lima Kepala Desa (Kades).