Indragiri Hulu, katakabar.com - Konflik lahan di Desa Talang Tujuh Buah Tangga, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau semakin panas. Kedua kubu saling klaim dan pertahankan lahan akibatnya masyarakat didampingi ormas PP, GRIB, PBB terjadi kontak fisik dengan para pekerja PT Bukit Betabuh Sei Indah, Senin (3/2) sekitar pukul 13.30 WIB kemarin.
Menurut salah seorang anggota Poktan Talang Permai, Joni Sigiro, masyarakat bersama Ormas yang hilang kesabaran melihat tanaman kelapa sawit dirusak, para petani ditakut-takuti, dan lainnya oleh para pekerja perusahaan. Lalu, Ormas bersama masyarakat menghalau para pekerja perusahaan agar keluar dari lahan Kelompok Tani (Poktan) Talang Permai. Tapi para pekerja bertahan, dan seakan-akan melawan sehingga terjadi adu fisik.
"Sebelum terjadi kontak fisik dengan para pekerja PT BBSI masyarakat didamping Ormas menghalau para pekerja perusahaan dari Lahan Poktan Talang Permai agar tidak melakukan pengerusakan tanaman sebelum melakukan rapat dengar pendapat bakal digelar waktu dekat ini. Tapi, pihak PT BBSI tidak mau mengindahkan hal itu, dan bersikeras tetap melakukan pekerjaan, adu mulut terjadi hingga terjadi kontak fisik," ujar Joni Sigiro kepada katakabar.com, Selasa (4/2) pagi.
Situasi semakin tak terkendali, cerita Joni, saat pihak perusahaan meminta pertanggunghawaban, bila ada kayu mereka hilang menuntut Julboy selaku Kabid MPC. Ini picu kemarahan Ormas PP hingga mengusir par pekerja keluae dari lahan masyarakat.
Setelah keadaan mulai reda, ulasnya, masyarakat dan Ormas PP mendirikan portal di lokasi masyarakat agar pihak perusahaan tidak bisa melakukan aktivitas, tapi saat mendirikan portal tersebut pihak perusahaan menyerang masyarakat dan Ormas PP, GRIB, PBB, dengan menyemprotkan gas air mata ke masyarakat, dan melempari hingga masyarakat dan anggota PP, GRIB, dan PBB terkena lemparan batu hingga luka luka.
"Babinkantibmas Polsek Kelayang, Jensen Hutabarat berada di lokasi konflik berusah mengkondusifkan kedua belah pihak. Tapi, pihak perusahaan tetap melempari dengan batu hingga Pak Jensen Hutabarat kewalahan lantaran penyerangan itu," tutur Joni.
Beruntung, sebut Joni, Babinsa setempat datang membubarkan penyerangan tapi pihak perusahaan tetap menyerang masyarakat dan anggota Ormas.
"Sorenya, terjadi bentrok nyaris memakan korban. Bhabinkamtibmas meminta masyarakat mundur agar tidak berlanjut bentrok. Masyarakat dan Ormas mundur seraya pihak perusahaan jangan melakukan aktivitas. Jika masih melakukan aktivitasmasyarkat semakin brutal menghantam pihak perusahaan.
Setelah Polsek Kelayang melakukan negoisasi dengan masyarakat, akhirnya permintaan masyarakat dituruti pihak perusahaan tidak melakukan aktivitas di lapangan.
Konflik Lahan di Desa TTBT Inhu Memanas PP, GRIB, PBB vs PT BBSI Bentrok Fisik
Diskusi pembaca untuk berita ini