Inhu, katakabar.com - Kasus kekerasan berdarah di areal perkebunan PT Sinar Belilas Perkasa (SBP) yang menewaskan dan melukai sejumlah karyawan memasuki babak baru.

Polisi telah menetapkan tiga tersangka, termasuk Ketua KNARA Indragiri Hulu (Inhu), Riau, Andi Irawan. Korban beserta keluarga yang tergabung dalam Forum 3 Desa 1 Kelurahan pun mengeluarkan pernyataan sikap tegas. 

Berita Terkait: Dua Pelaku Diamankan, Ketua Organisasi Agraria Juga Ditetapkan Tersangka Penganiayaan Karyawan Perkebunan di Inhu

Mereka mendukung proses hukum namun mendesak aparat menangkap seluruh pelaku, termasuk aktor intelektual yang diduga mengatur di balik layar atas terjadinya insiden berdarah itu. 

Pasalnya, gara-gara pristiwa itu selain karyawan PT SBP yang menjadi korban kekerasan, aset perusahaan juga hancur oleh massa yang dipimpin para tersangka. Bahkan puluhan unit motor karyawan juga ikut dirusak oleh para pelaku. 
 
Peristiwa ini terjadi pada Senin, 1 Juni 2026. Sebanyak enam warga yang tengah bekerja menjadi sasaran kekerasan; empat orang dari Desa Talang Jerinjing, satu orang dari Desa Sungai Raya, dan satu orang lagi dari Kelurahan Sekip Hilir. Mereka mengalami luka bacok dan tembakan, menyisakan luka fisik sekaligus trauma mendalam yang hingga kini belum sirna.
 
Dalam pernyataan resmi yang ditandatangani di Rengat pada 6 Juni 2026, pihak korban menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Polres Inhu yang telah mengamankan MJ alias Juni, KZ alias Nanang, dan menetapkan Andi Irawan sebagai tersangka. Namun, harapan mereka tidak berhenti di situ.
 
"Kami meminta aparat penegak hukum segera mengungkap dan menangkap semua pihak yang terlibat, tidak hanya yang terlibat langsung, tetapi juga aktor intelektual yang merencanakan peristiwa ini," tegas pernyataan sikap tersebut, yang disampaikan Ketua Forum Zuri Alamsyah.

Trauma dan Ketakutan Masih Membayangi

Pihak korban menegaskan bahwa rasa aman belum sepenuhnya pulih. Para pekerja masih diliputi kekhawatiran dan was-was untuk kembali beraktivitas di lokasi perkebunan, padahal pekerjaan itu adalah tumpuan hidup bagi keluarga mereka. 

Oleh karena itu, mereka meminta perlindungan hukum yang nyata agar tidak ada lagi ancaman yang datang menyusul.
 
Di sisi lain, mereka juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penanganan medis dan pendampingan, serta apresiasi atas kerja polisi yang telah menangkap sebagian pelaku.