Holding PTPN Perkuat Kompetensi Petani melalui Kelas Budidaya Teh Nasional
Nasional
Jumat, 24 Juli 2026 | 14:10 WIB

Holding PTPN Perkuat Kompetensi Petani melalui Kelas Budidaya Teh

Bandung, katakabar.com - Sebagai bagian dari komitmen mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing komoditas teh nasional, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) menyelenggarakan Kelas Belajar Budidaya Teh yang diikuti oleh petani teh rakyat dari berbagai kelompok tani di Kabupaten Bandung. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani mengenai teknologi budidaya teh yang optimal sesuai dengan kondisi dan karakteristik kebun masing-masing. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya PPTK dalam memperkuat diseminasi inovasi dan hasil riset kepada masyarakat, khususnya petani teh rakyat. Melalui pembelajaran yang diberikan, peserta diharapkan mampu menerapkan teknik budidaya yang lebih efektif sehingga dapat meningkatkan produktivitas maupun kualitas hasil kebun teh. Program menghadirkan narasumber lintas bidang keahlian di PPTK, meliputi Agronomi, Tanah dan Nutrisi Tanaman, Pengolahan Hasil, Engineering, serta Sosial Ekonomi. Pendekatan multidisiplin tersebut memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta mengenai pengelolaan usaha tani teh dari hulu hingga hilir. Rangkaian kegiatan diawali dengan penyampaian materi oleh para narasumber, dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif, serta kunjungan lapangan ke pabrik dan kebun sebagai sarana pembelajaran langsung. Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga pengalaman praktis mengenai penerapan teknologi budidaya teh di lapangan. Antusiasme peserta selama sesi diskusi mencerminkan tingginya semangat petani untuk terus meningkatkan praktik budidaya teh yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, Holding Perkebunan Nusantara bersama PT Riset Perkebunan Nusantara terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan inovasi perkebunan yang berorientasi pada peningkatan kapasitas petani. Program ini diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi petani teh rakyat melalui peningkatan kompetensi budidaya, sekaligus mempererat sinergi antara PPTK dan kelompok tani dalam mendukung pengembangan sektor teh nasional yang semakin berdaya saing.

Aspekpir Puji Holding PTPN Kemitraan PalmCo dan Petani Perkuat Masa Depan Sawit Indonesia Sawit
Sawit
Jumat, 17 Juli 2026 | 16:06 WIB

Aspekpir Puji Holding PTPN Kemitraan PalmCo dan Petani Perkuat Masa Depan Sawit Indonesia

Pekanbaru, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Sub Holding PTPN IV PalmCo terus perkuat kemitraan strategis dengan petani sebagai bagian dari upaya membangun industri kelapa sawit nasional yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut mendapat apresiasi atau pujian dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia yang menilai pola kemitraan antara PTPN IV PalmCo dan petani layak menjadi role model pengembangan perkebunan sawit nasional. Ketua DPP Aspekpir Indonesia, Setiyono, menuturkan masa depan sawit rakyat Indonesia sangat ditentukan oleh penguatan kemitraan yang sehat dan saling menguntungkan antara petani, perusahaan, dan pemerintah. Menurutnya, pola kemitraan yang dijalankan PTPN IV PalmCo menunjukkan bagaimana hubungan antara perusahaan dan petani dapat tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan. "Produksi sawit petani meningkat karena kemitraan. Masa depan sawit rakyat Indonesia adalah kemitraan, dan bermitra dengan PTPN IV merupakan pilihan yang tepat," ujar Setiyono saat diskusi panel rangkaian peluncuran buku "Setiyono, Kisah dan Rahasia Sukses Petani Sawit Plasma Transmigrasi" di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Rabu (1/7) lalu. Kegiatan tersebut turut dihadiri mantan Wakil Menteri Pertanian yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Aspekpir Indonesia, Rusman Heriawan, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Arya Sandhiyuda, perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Togu Rudianto Saragih, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono, serta ratusan pengurus organisasi petani sawit dari berbagai daerah. Kata Setiyono, melalui kemitraan, petani dapat menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari penggunaan bibit unggul, pengelolaan lahan, pemupukan, pengendalian hama, hingga proses panen sesuai standar. Penerapan praktik budidaya yang baik tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga daya saing industri sawit Indonesia di tengah tuntutan keberlanjutan yang semakin tinggi di pasar global. Data Aspekpir Indonesia menunjukka, program kemitraan melalui pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) maupun Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA) saat ini tersebar di 20 provinsi dengan luas kebun plasma mencapai lebih dari 813 ribu hektare dan melibatkan sekitar 406 ribu kepala keluarga pekebun. Menurutnya, sebagian besar kebun sawit rakyat kini telah memasuki generasi kedua sehingga membutuhkan program peremajaan untuk menjaga produktivitas. Aspekpir sendiri telah melaksanakan peremajaan sejak 2012 melalui program Revitalisasi Perkebunan dan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Ia menambahkan, salah satu keunggulan kemitraan dengan PTPN IV PalmCo adalah penerapan pola single management, yakni sistem pengelolaan terpadu mulai dari peremajaan hingga pemanenan dengan standar operasional perusahaan. Sistem tersebut mencakup penerapan operational excellence, kesetaraan produktivitas antara kebun inti dan plasma, pemberdayaan petani melalui program cash for works, korporatisasi kelembagaan petani, serta prinsip transparansi dalam pengelolaan kebun. Setiyono menilai penerapan sistem tersebut mampu mendorong produktivitas kebun plasma hingga mendekati produktivitas kebun inti perusahaan sekaligus memperkuat tata kelola kemitraan yang lebih profesional dan berkeadilan. Ia juga menilai transformasi yang dilakukan PTPN IV PalmCo dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan positif dalam hubungan kemitraan antara perusahaan dan petani, terutama melalui penguatan komunikasi, tata kelola, serta peningkatan fokus terhadap kesejahteraan petani plasma. "Kalau B50 ingin berhasil, maka produktivitas petani harus naik. Dan cara paling efektif untuk mewujudkannya adalah melalui kemitraan yang sehat antara petani dan perusahaan," jelasnya. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, menimpali pola kemitraan telah mengubah kehidupan masyarakat dan menggerakkan roda ekonomi di berbagai sentra perkebunan sawit di Provinsi Riau. Menurutnya, hubungan antara Aspekpir dan PTPN IV tidak sekadar kerja sama, tetapi juga telah membangun ikatan sosial yang kuat di tengah masyarakat perkebunan. Kemitraan yang terbangun selama puluhan tahun tersebut dinilai telah berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani, pertumbuhan ekonomi pedesaan, serta mendorong lahirnya pusat-pusat ekonomi baru di wilayah perkebunan. "Kemitraan yang dilangsungkan oleh Aspekpir telah banyak mengubah kehidupan dan menggerakkan ekonomi di akar rumput. Saya sudah enam tahun di Riau, hampir seluruh acara saya ikuti. Dan kita sama-sama rasakan, setiap asosiasi atau kelompok biasanya punya nuansa berbeda. Di Aspekpir, suasananya sangat berbeda, penuh kekeluargaan, mungkin karena latar belakang berdirinya jadi berpengaruh terhadap substansi dan suasana kebatinan," terangnya. Senada, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyuda aminkan Supriadi. Ia menilai di tengah meningkatnya kebutuhan minyak sawit sebagai bahan baku pangan dan energi, penguatan kemitraan antara perusahaan dan petani menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan minyak sawit nasional. Peningkatan produktivitas kebun rakyat melalui pola kemitraan juga semakin memperkuat ketersediaan bahan baku crude palm oil (CPO) untuk mendukung implementasi program mandatori biodiesel B50 yang tengah dipersiapkan pemerintah. "Kebijakan B50, yang meningkatkan campuran biodiesel berbasis minyak sawit menjadi 50 persen, diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan CPO domestik secara signifikan. Karena itu, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi perkebunan perusahaan, tetapi juga pada kemampuan jutaan petani sawit rakyat dalam meningkatkan produktivitas dan mempercepat peremajaan kebun secara berkelanjutan," beber Arya. Dengan luas perkebunan rakyat yang mencapai lebih dari 40 persen dari total areal sawit nasional, petani memegang peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan bahan baku bagi industri pangan dan energi. Pada konteks tersebut, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo terus perkuat kemitraan yang saling menguntungkan dengan petani sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat, serta memastikan manfaat ekonomi industri sawit dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat. Program kemitraan sekaligus menjadi wujud komitmen perusahaan dalam membangun ekosistem sawit nasional yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

PTPN IV PalmCo Akselerasi Peremajaan Sawit Petani di Riau Perkuat Penerapan Program B50 Sawit
Sawit
Kamis, 16 Juli 2026 | 10:55 WIB

PTPN IV PalmCo Akselerasi Peremajaan Sawit Petani di Riau Perkuat Penerapan Program B50

Pekanbaru, katakabar.com - PTPN IV PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara terus mengakselerasi peremajaan sawit petani di Riau sebagai bagian mendukung implementasi program B50 atau kebijakan mandatori pemerintah Indonesia yang mewajibkan campuran bahan bakar solar dengan 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit. Hingga akhir 2025, PTPN IV PalmCo tercatat telah melangsungkan peremajaan sawit petani Riau mencapai 12.600 hektare. Peremajaan tersebut dilangsungkan PTPN IV PalmCo melalui entitasnya PTPN IV Regional III secara berkelanjutan, diawali dari program revitalisasi perkebunan pada 2012 dan dilanjutkan dengan peremajaan sawit rakyat (PSR) pada 2019 hingga saat ini. Sementara sepanjang 2026 ini, entitas kembali menargetkan program peremajaan sawit yang terus dilangsungkan secara berkelanjutan mencapai 4.500 ha di Bumi Lancang Kuning. "Insya Allah, sampai akhir tahun ini program peremajaan sawit di Riau dapat mencapai 17.100 Ha. Alhamdulillah progresnya sangat baik, dan rekan-rekan petani juga sangat antusias terhadap program PSR ini," kata Region Head PTPN IV Regional III Bambang Budi Santoso dalam keterangan tertulisnya di Pekanbaru, Jumat (19/6) lalu. Guna mewujudkan target tersebut, lanjut Bambang, PTPN IV Regional III melalui Distrik Petani Mitra terus menggesa setiap tahapan, mulai dari pendataan luasan, verifikasi, hingga penerbitan rekomendasi teknis (Rekomtek). Program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang dilangsungkan PTPN IV sendiri merupakan salah satu inisiatif perusahaan perkebunan milik negara tersebut untuk memangkas ketimpangan produktivitas sawit petani dan sawit perusahaan yang cukup dalam. Sebagai perbandingan, berdasarkan data yang dirangkum dari berbagai sumber, rerata produktivitas sawit petani Indonesia saat ini berkisar 7-12 ton per hektare per tahun. Sementara, produktivitas sawit korporasi mampu menyentuh angka lebih dari 20 ton perhektare pertahun. Untuk itu, peremajaan sawit menjadi inisiatif penting guna memangkas ketimpangan dan mendongkrak sawit petani sehingga produktivitas yang dihasilkan kian optimal. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Riau itu menjelaskan, saat ini produktivitas sawit petani mitra PTPN IV Regional III yang telah melangsungkan peremajaan berhasil meningkat signifikan. Sebagai contoh, petani mitra yang tergabung dalam koperasi dan melangsungkan peremajaan melalui program revitalisasi mampu menghasilkan produktivitas mencapai 29,10 ton pe hektare per tahun. Senada, ribuan petani mitra yang mengikuti program PSR dengan usia sawit TM-3 mampu mencatat hasil produktivitas mencapai 23,94 ton per hektare per tahun, jauh di atas standar yang ditetapkan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sebesar 19 ton per hektare per tahun. Lebih jauh, ia menuturkan program peremajaan sawit yang terus didorong Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa tersebut diharapkan menjadi langkah penting untuk mendukung kebijakan pemerintah yang segera menerapkan kebijakan B50 awal Juli 2026 mendatang. "Kami ingin turut ambil bagian dan berkontribusi meningkatkan produksi CPO nasional dengan memperkuat petani sawit sehingga produksi rekan-rekan petani meningkat dan pada akhirnya bisa mendukung kebijakan pemerintah untuk menjadikan sawit sebagai sumber energi baru terbarukan," jelas Bambang. Implementasi kebijakan biodiesel B50 sendiri direncanakan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dan berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun sepanjang tahun ini. Penghematan tersebut berasal dari berkurangnya kebutuhan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar seiring peningkatan penggunaan campuran biodiesel berbasis sawit. Secara keseluruhan, PTPN IV Regional III diketahui telah melangsungkan kemitraan plasma mencapai 56.500 hektare yang melibatkan tidak kurang dari 28.000 petani sejak perusahaan berdiri. Saat ini, ribuan petani mitra tersebut telah melangsungkan peremajaan guna mengganti sawit renta mereka dengan tanaman baru yang lebih produktif. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan PSR tidak terlepas dari kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) yang selama ini menjadi mitra strategis perusahaan. “Kami juga didukung teman-teman Aspekpir dalam mengakselerasi program ini, sehingga pelaksanaannya dapat berjalan lebih optimal,” jelasnya. Selain program peremajaan, PTPN IV Regional III juga aktif mendukung peningkatan produktivitas petani melalui penyediaan bibit unggul bersertifikat. Sejak program tersebut diluncurkan pada 2019, entitas telah menyalurkan sedikitnya 2,56 juta bibit sawit unggul kepada 8.900 petani. Bambang menuturkan keberhasilan kemitraan PTPN IV karena pola kemitraan yang dibangun dengan mengedepankan pola single management yang transparan telah menumbuhkan kepercayaan. Melalui pola tersebut, kultur teknis petani mitra akan setara dengan standar tinggi perusahaan, mulai dari penumbangan sawit renta, pemanfaatan bibit sawit unggul bersertifikat, proses penanaman, pemupukan, hingga pemeliharaan untuk diterapkan di areal peremajaan sawit masyarakat. Selanjutnya, PTPN IV juga turut menyiapkan bibit sawit unggul bersertifikat hingga pendampingan dan penguatan kelembagaan koperasi serta pelatihan kepada para petani sehingga mampu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan petani dalam mewujudkan perkebunan berkelanjutan. Dengan target perluasan PSR serta dukungan bibit unggul dan penguatan aspek keberlanjutan, PTPN IV Regional III optimistis sektor sawit rakyat di Riau dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi signifikan terhadap program keberlanjutan serta memperkuat pendapatan petani sawit.

Peringati Hari Krida Pertanian, PTPN IV PalmCo Serap 1,34 Juta Ton TBS Petani Sawit
Sawit
Jumat, 10 Juli 2026 | 13:09 WIB

Peringati Hari Krida Pertanian, PTPN IV PalmCo Serap 1,34 Juta Ton TBS Petani

Jakarta, katakabar.com - Sempena momentum Hari Krida Pertanian, PTPN IV PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara mencatat realisasi penyerapan Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan rakyat mencapai 1,34 juta ton hingga Mei 2026.  Capaian tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keberlanjutan usaha petani sawit mitra di berbagai wilayah operasional. Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, PTPN IV PalmCo terus perkuat perannya dalam membangun ekosistem perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan melalui dukungan di sisi hilir maupun hulu, mulai dari penyerapan hasil panen hingga pendampingan peningkatan produktivitas kebun rakyat. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan peringatan Hari Krida Pertanian harus dimaknai sebagai momentum untuk menghadirkan manfaat nyata bagi petani. "Peringatan Hari Krida Pertanian seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pasar yang stabil bagi petani. Kado terbaik bagi mereka bukanlah sebuah perayaan, melainkan kepastian bahwa hasil keringat dari kebun dapat terserap maksimal," ujar Jatmiko. Serapan TBS Terus Meningkat Arus distribusi hasil panen dari kebun rakyat menuju pabrik kelapa sawit (PKS) milik perusahaan menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2026, volume penyerapan TBS dari petani swadaya maupun pihak ketiga mencapai 1,34 juta ton. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar 1,30 juta ton. Peningkatan ini mencerminkan terus bergeraknya roda perekonomian masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Menurut Jatmiko, menjaga kesiapan operasional pabrik kelapa sawit agar mampu menyerap hasil panen petani secara optimal merupakan salah satu prioritas perusahaan, terutama di tengah dinamika harga dan kondisi pasar yang terus berubah. "Ketika harga sedang dinamis atau saat memasuki masa panen raya, PKS kami berupaya menjaga keandalannya. Kami juga memastikan harga beli tetap sangat bersaing, transparan, dan selalu berpedoman pada aturan penetapan harga dari pemerintah daerah. Intervensi positif di hilir ini penting agar tata niaga sawit tingkat petani tidak terganggu," jelas Jatmiko. Selain memastikan terserapnya hasil panen petani, perusahaan juga terus memperkuat dukungan terhadap peningkatan produktivitas perkebunan rakyat melalui program edukasi dan pendampingan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menegaskan keberlanjutan kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh penyerapan hasil panen saat ini, tetapi juga oleh produktivitas kebun pada masa mendatang. "Menyerap sawit mereka hari ini menyelesaikan masalah jangka pendek. Namun, untuk memastikan kesejahteraan petani berkesinambungan, kita harus memikirkan dan merawat produktivitas kebun mereka untuk 10 hingga 20 tahun ke depan. Di situlah letak pentingnya edukasi dan pendampingan berkelanjutan di dalam ekosistem kemitraan kita," tutur Arya. Pendampingan yang dilakukan perusahaan mencakup aspek legalitas, teknis budidaya, hingga dukungan terhadap skema offtaker produksi. Sepanjang tahun 2025, perusahaan telah melakukan pendampingan terhadap lahan seluas 23.188 hektare. Program tersebut terus berlanjut pada tahun 2026. Hingga Mei 2026, proses pendampingan telah menjangkau 6.380 hektare lahan perkebunan rakyat. Kata Arya, luasan tersebut menjadi titik awal transformasi tata kelola perkebunan rakyat menuju penerapan Good Agricultural Practices (GAP). "Edukasi yang kami jalankan di lapangan bersifat komprehensif. Petani tidak dibiarkan meraba-raba menata kebun barunya. Mereka didampingi secara ketat, mulai dari fase krusial pemilihan bibit unggul yang bersertifikat, metode persiapan lahan, hingga teknis pemeliharaan pada masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)," terangnya. Ia menambahkan keberhasilan peremajaan sawit sangat ditentukan oleh kualitas pengelolaan pada fase awal penanaman. "Investasi pengetahuan di awal fase tanam ini sangat vital. Petani harus memahami bahwa perawatan yang tepat di awal akan menentukan tonase hasil panen belasan tahun ke depan. Kami ingin kebun yang diremajakan hari ini menjadi sumber penghidupan yang jauh lebih layak bagi keluarga petani kelak," tegas Arya. Melalui sinergi antara dukungan di sektor hulu melalui pendampingan agronomi dan percepatan PSR, serta kepastian penyerapan hasil panen di sektor hilir melalui operasional PKS perusahaan, PTPN IV PalmCo terus memperkuat ekosistem perkebunan kelapa sawit rakyat yang tangguh dan berkelanjutan.

PHR Bangkitkan Gairah Petani Jaga Ketapang di Lahan Holtikultura Bengkalis Riau
Riau
Rabu, 08 Juli 2026 | 15:05 WIB

PHR Bangkitkan Gairah Petani Jaga Ketapang di Lahan Holtikultura Bengkalis

Bengkalis, katakabar.com - Matahari belum sepenuhnya meninggi kala aktivitas di lahan hortikultura mulai berlangsung. Di antara hamparan kangkung, bayam, dan berbagai jenis sayuran lainnya, anggota Kelompok Maju Jaya Lestari, Kelompok Tani Jaya Sepakat, Kelompok Tani Harapan, dan Kelompok Tani Setia Maju memulai rutinitas yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun. Bagi mereka, bertani bukan sekadar mata pencaharian, tetapi bagian dari upaya menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat. Dalam menjalankan usaha taninya, para petani masih menghadapi berbagai tantangan. Sebagian besar proses pengolahan lahan dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar. Kondisi tersebut membuat proses persiapan tanam menjadi lebih panjang dan menyita waktu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya lainnya. "Pengolahan lahan menjadi pekerjaan yang cukup berat karena sebagian besar masih dilakukan secara manual. Kalau prosesnya bisa lebih cepat dan efisien, kami bisa lebih fokus pada pemeliharaan tanaman sehingga pekerjaan di kebun menjadi lebih optimal," ujar Ketua Kelompok Tani Setia Maju Desa Semunai, Jonter Sitio. Untuk mendukung peningkatan kapasitas petani dalam mengelola usaha tani secara lebih efektif, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui Program AKAR RIMBA (Aksi Kolaborasi Rehabilitasi Biodiversitas) membantu petani menghadapi meningkatnya biaya produksi melalui penyediaan sarana dan prasarana pertanian, penyuluhan budidaya, serta penguatan kapasitas kelompok tani. Program ini dirancang untuk membantu petani meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan sekaligus memperkuat kelembagaan kelompok sebagai fondasi pengembangan usaha pertanian yang berkelanjutan. Dukungan tersebut mulai dirasakan dalam aktivitas sehari-hari para petani. Ketersediaan sarana pertanian membantu mempercepat proses pengolahan lahan sehingga waktu kerja dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya lainnya, seperti pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma, penyiraman, hingga persiapan musim tanam berikutnya. "Kami sekarang bisa mengatur pekerjaan di lahan dengan lebih baik. Waktu yang sebelumnya banyak digunakan untuk pengolahan lahan kini dapat dimanfaatkan untuk merawat tanaman dan mempersiapkan musim tanam berikutnya," cerita Jonter. Selain dukungan sarana dan prasarana, proses penyuluhan juga menjadi ruang belajar bagi para petani untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam budidaya hortikultura. Anggota kelompok semakin aktif berdiskusi mengenai teknik budidaya yang baik, pemanfaatan sarana pertanian secara optimal, hingga pengelolaan kelompok agar semakin mandiri. Melalui proses tersebut, semangat gotong royong yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat terus tumbuh dan menjadi kekuatan dalam mengembangkan usaha tani bersama. Penguatan kapasitas tersebut menjadi bekal penting bagi kelompok tani untuk terus meningkatkan efektivitas pengelolaan lahan dan memperkuat kelembagaan kelompok. Dengan kemampuan yang semakin baik dalam mengelola sumber daya yang dimiliki, kelompok tani memiliki fondasi yang lebih kuat untuk mengembangkan usaha pertanian secara berkelanjutan. Manager Community Involvement & Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan pemberdayaan masyarakat merupakan proses membangun kapasitas agar masyarakat mampu berkembang secara mandiri. "Program AKAR RIMBA dirancang untuk memperkuat kapasitas kelompok tani melalui penyediaan sarana dan prasarana pertanian, penyuluhan, serta penguatan kelembagaan. Melalui dukungan tersebut, diharapkan petani dapat mengelola lahan secara lebih efektif, meningkatkan kapasitas kelompok, dan membangun fondasi usaha pertanian yang berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan masyarakat," jelas Iwan. Bagi para petani di Bengkalis, hasil panen bukan hanya menjadi tujuan setiap musim tanam, tetapi juga cerminan dari kerja keras dan semangat untuk terus menjaga produktivitas lahan. Melalui kolaborasi antara masyarakat dan PHR, para petani semakin optimistis dapat mengembangkan usaha pertanian yang lebih efektif dan berkelanjutan, sekaligus berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan serta menggerakkan perekonomian masyarakat di wilayah Bengkalis. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah  Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan WK Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi WK Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). WK Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.

SawitPRO Hadirkan Pilihan Pupuk Sawit Lengkap Kebutuhan Petani dan Perkebunan Sawit
Sawit
Selasa, 07 Juli 2026 | 11:10 WIB

SawitPRO Hadirkan Pilihan Pupuk Sawit Lengkap Kebutuhan Petani dan Perkebunan

Pekanbaru, katakabar.com - Kebutuhan pupuk menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung produktivitas kebun kelapa sawit. Pemilihan pupuk yang tepat dapat membantu petani dan pelaku perkebunan dalam memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman, menjaga kondisi tanah, serta mendukung pertumbuhan tanaman sawit secara lebih optimal. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, SawitPRO menghadirkan berbagai pilihan produk pupuk sawit yang dapat diakses  petani, koperasi, Toko Tani, pelaku agribisnis, hingga perusahaan perkebunan. Melalui SawitPRO, petani dapat menemukan berbagai jenis pupuk populer, mulai dari pupuk NPK, MOP/KCL, RP, TSP, Urea, ZA, Dolomite, Kieserite, Borat, hingga Pupuk SawitPRO. Kehadiran pilihan produk yang beragam ini diharapkan dapat mempermudah petani dalam mencari kebutuhan pupuk sesuai kondisi kebun dan rekomendasi pemupukan masing-masing. Pilihan Pupuk SawitPRO Petani Kelapa Sawit Salah satu produk yang tersedia di SawitPRO adalah Pupuk SawitPRO, yang hadir untuk mendukung kebutuhan petani sawit dalam perawatan kebun. Produk ini tersedia dalam beberapa pilihan ukuran, yaitu Pupuk SawitPRO 50kg dan Pupuk SawitPRO 20kg. Dengan adanya pilihan ukuran tersebut, petani dapat menyesuaikan pembelian berdasarkan kebutuhan kebun, skala penggunaan, dan rencana pemupukan. Produk ini juga menjadi bagian dari komitmen SawitPRO dalam menghadirkan solusi yang lebih dekat dengan kebutuhan petani kelapa sawit di Indonesia. Daftar Pupuk NPK Sawit di SawitPRO Pupuk NPK menjadi salah satu jenis pupuk yang banyak digunakan dalam perawatan tanaman sawit karena mengandung unsur hara makro utama, yaitu nitrogen, fosfor, dan kalium. Di SawitPRO, petani dapat menemukan berbagai pilihan pupuk NPK dari beberapa merek dan formulasi. Beberapa pilihan pupuk NPK tersedia di SawitPRO antara lain: NPK Mahkota 13-8-27-4 0.5 B 50kg, NPK Mahkota 13-6-27-4 0.65 B 50kg, NPK Mahkota 12-12-17-2 TE 50kg, NPK Yaramila 16-16-16 50kg, NPK Phonska Plus 15-15-15 25kg, NPK Mutiara 16-16-16 50kg, NPK DGW 13-8-27-4 TE 50kg, dan NPK 12-6-22 DGW 50kg. Selain itu, SawitPRO juga menyediakan pilihan NPK lainnya seperti: NPK Okura Emas 13-6-27-4 MGO+0.5B 50kg, NPK Okura Emas 13-8-27-4 MGO+0.5B 50kg, NPK Bintang Tani 13-6-27-4 MGO+0.65B 50kg, serta NPK SiNutriHS 13-6-27-4 0.65 B 50kg. Untuk pilihan lain, petani juga dapat menemukan produk dari Pak Tani, seperti NPK Sawit 13-8-27-4 0.5 B Pak Tani 50kg, NPK Sawit 13-6-27-4 0.65 B Pak Tani 50kg, dan NPK 16-16-16 Pak Tani 50kg. Dengan banyaknya pilihan NPK, petani dapat membandingkan produk sesuai kebutuhan unsur hara, kondisi tanaman, umur tanaman, dan rekomendasi teknis yang sesuai untuk kebun sawit. Pilihan MOP/KCL Kebutuhan Kalium Tanaman Sawit Kalium merupakan salah satu unsur penting dalam budidaya kelapa sawit. Untuk kebutuhan tersebut, SawitPRO menyediakan beberapa pilihan produk MOP/KCL yang umum digunakan oleh petani dan pelaku perkebunan. Produk MOP/KCL yang tersedia antara lain : MOP/KCL Canada Cap Mahkota 50kg, MOP/KCL Sasco 50kg, MOP/KCL Mentari 50kg, MOP/KCL Cap Daun 50kg, MOP/KCL Kancil 50kg, dan MOP/KCL Meroke 50 kg. Selain itu, tersedia juga produk kalium lainnya seperti Meroke Korn Kali B / KKB 50kg. Pilihan ini dapat menjadi referensi bagi petani yang membutuhkan pupuk berbasis kalium untuk mendukung kebutuhan pemupukan tanaman sawit. Pupuk RP, TSP dan Fosfat Perawatan Kebun Sawit SawitPRO juga menyediakan pilihan pupuk berbasis fosfat seperti RP dan TSP. Jenis pupuk ini banyak dicari untuk mendukung kebutuhan unsur fosfor pada tanaman. Beberapa pilihan produk yang tersedia antara lain : RP Cap Daun 50kg, RP Mahkota 50kg - Egypt, RP Mahkota 50kg - Peru, RP Sasco 50kg - Egypt, TSP DGW 46% 50kg, dan TSP Cap Daun 50kg. Selain itu, petani juga dapat menemukan Meroke SS - AMMOPHOS 50kg, yang menjadi salah satu pilihan produk berbasis fosfat yang tersedia di SawitPRO. Dengan adanya berbagai pilihan RP, TSP, dan fosfat, petani dapat memilih produk sesuai kebutuhan kebun dan rekomendasi pemupukan yang digunakan. Pilihan Urea dan ZA di SawitPRO Selain NPK, KCL, dan fosfat, kebutuhan nitrogen juga menjadi bagian penting dalam program pemupukan. Untuk itu, SawitPRO menghadirkan beberapa pilihan produk Urea dan ZA. Produk Urea yang tersedia antara lain: Urea Nitrea 46% N 50kg dan Urea Nitrea 46% N 50kg - Granul. Sementara itu, untuk pilihan ZA, tersedia: ZA Cap Daun 50kg, Mahkota ZA 50kg, ZA Sasco 50kg, serta Pupuk ZA Cap Daun 50kg Penyubur Daun dan Batang Tanaman Sawit. Produk-produk ini dapat menjadi pilihan bagi petani yang membutuhkan pupuk berbasis nitrogen dan sulfur sebagai bagian dari strategi perawatan tanaman sawit. Dolomite, Kieserite, Borat dan Mineral Pendukung Lainnya Selain pupuk utama, SawitPRO juga menyediakan produk pendukung untuk kebutuhan perawatan tanah dan unsur hara mikro. Produk-produk ini penting untuk melengkapi kebutuhan nutrisi tanaman dan mendukung pengelolaan kebun yang lebih baik. Untuk kategori dolomite, tersedia Dolomite M-100 50kg dan Dolomite M-80 50kg. Sementara itu, untuk kebutuhan magnesium, petani dapat menemukan Kieserite German Meroke 50kg dan Kieserite Mahkota 50kg. SawitPRO sediakan beberapa pilihan borat seperti: Borat Mahkota 25kg, Borat Mentari 45% 25kg, Borat Evermax 45-48% 25kg, dan Borat Etibor-48 25kg. Selain itu, tersedia juga AC Powder AKP 50kg sebagai salah satu produk pendukung yang dapat ditemukan di SawitPRO. Varian Khusus Petani, Grosir, dan Keliling Beberapa produk di SawitPRO juga tersedia dalam varian atau skema tertentu seperti Khusus Petani, Grosir, dan Toko Keliling. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi berbagai jenis pembeli, mulai dari petani individu, koperasi, Toko Tani, hingga pelaku distribusi kebutuhan perkebunan. Dengan pilihan produk yang luas, SawitPRO tidak hanya menjadi tempat untuk mencari pupuk sawit, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang membantu petani mendapatkan akses lebih mudah terhadap kebutuhan kebun. Cek Harga dan Ketersediaan Produk di SawitPRO Harga, stok, dan status produk dapat berubah sewaktu-waktu. Beberapa produk juga dapat memiliki status pre-order atau ketersediaan khusus sesuai wilayah dan mekanisme pembelian. Oleh karena itu, petani dan pelaku perkebunan disarankan untuk mengecek langsung informasi terbaru melalui halaman produk resmi di SawitPRO sebelum melakukan pembelian. Melalui SawitPRO, petani dapat menemukan berbagai pilihan pupuk sawit dalam satu platform, mulai dari Pupuk SawitPRO 50kg, Pupuk SawitPRO 20kg, berbagai pilihan NPK, MOP/KCL, RP, TSP, Urea, ZA, Dolomite, Kieserite, Borat, hingga produk pendukung lainnya. Dengan akses yang lebih mudah dan pilihan produk yang semakin lengkap, SawitPRO berharap dapat terus mendukung petani sawit Indonesia dalam meningkatkan produktivitas kebun dan memperkuat ekosistem agribisnis sawit nasional. Daftar Produk Pupuk yang Bisa Dihyperlink ke SawitPRO Berikut daftar produk yang dapat dijadikan internal link ke halaman produk masing-masing di SawitPRO: Pupuk SawitPRO Pupuk SawitPRO 50kgPupuk SawitPRO 20kg Pupuk NPK NPK Mahkota 13-8-27-4 0.5 B 50kg NPK Mahkota 13-6-27-4 0.65 B 50kg NPK Mahkota 12-12-17-2 TE 50kg NPK Yaramila 16-16-16 50kg NPK Phonska Plus 15-15-15 25kg NPK Mutiara 16-16-16 50kg NPK DGW 13-8-27-4 TE 50kg NPK 12-6-22 DGW 50kg NPK Okura Emas 13-6-27-4 MGO+0.5B 50kg NPK Okura Emas 13-8-27-4 MGO+0.5B 50kg NPK Bintang Tani 13-6-27-4 MGO+0.65B 50kg NPK SiNutriHS 13-6-27-4 0.65 B 50kg NPK Sawit 13-8-27-4 0.5 B Pak Tani 50kg NPK Sawit 13-6-27-4 0.65 B Pak Tani 50kg NPK 16-16-16 Pak Tani 50kg MOP / KCL / Kalium MOP/KCL Canada Cap Mahkota 50kg MOP/KCL Sasco 50kg MOP/KCL Mentari 50kg MOP/KCL Cap Daun 50kg MOP/KCL Kancil 50kg MOP/KCL Meroke 50 kg Meroke Korn Kali B / KKB 50kg RP / TSP / Fosfat RP Cap Daun 50kg RP Mahkota 50kg - Egypt RP Mahkota 50kg - Peru RP Sasco 50kg - Egypt TSP DGW 46% 50kg TSP Cap Daun 50kg Meroke SS - AMMOPHOS 50kg Urea / ZA Urea Nitrea 46% N 50kg Urea Nitrea 46% N 50kg - Granul ZA Cap Daun 50kg Mahkota ZA 50kg ZA Sasco 50kg Pupuk ZA Cap Daun 50kg Penyubur Daun dan Batang Tanaman Sawit Dolomite, Kieserite, Borat dan Produk Pendukung Dolomite M-100 50kg Dolomite M-80 50kg Kieserite German Meroke 50kg Kieserite Mahkota 50kg Borat Mahkota 25kg Borat Mentari 45% 25kg Borat Evermax 45-48% 25kg Borat Etibor-48 25kg AC Powder AKP 50kg

Di Tengah Gejolak Harga Sawit, Holding PTPN Konsisten Serap TBS Petani Sawit
Sawit
Selasa, 16 Juni 2026 | 15:45 WIB

Di Tengah Gejolak Harga Sawit, Holding PTPN Konsisten Serap TBS Petani

Jakarta, katakabar.com -  Polemik penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani kembali menjadi perhatian beberapa pekan terakhir. Kementerian Pertanian (Kementan) bahkan mengingatkan akan memberikan sanksi hingga pencabutan izin terhadap 139 pabrik kelapa sawit (PKS) swasta yang diduga membeli TBS petani di bawah harga yang telah ditetapkan pemerintah daerah. Penurunan harga tersebut dipicu kepanikan sebagian pelaku industri menyusul transisi kebijakan ekspor satu pintu serta praktik pembelian TBS di bawah harga acuan. Kondisi ini terutama dirasakan oleh petani swadaya yang belum memiliki kemitraan dengan perusahaan maupun pabrik pengolahan, sehingga di sejumlah daerah harga TBS sempat merosot jauh di bawah ketetapan pemerintah. Ketika rapat koordinasi lintas sektoral yang digelar akhir pekan lalu, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono meminta seluruh pelaku industri sawit tetap menjalankan transaksi perdagangan secara normal dengan mengacu pada harga yang terbentuk secara wajar. "Pelaku usaha khususnya di hilir, yaitu refinery dan eksportir untuk tetap melaksanakan atau melakukan transaksi perdagangan seperti biasa melalui acuan harga PT KPBN dan menghindari terjadinya withdraw terhadap harga yang terbentuk secara wajar," kata Sudaryono. Ia menegaskan pemerintah tidak akan ragu menjatuhkan sanksi kepada perusahaan yang terbukti melanggar ketentuan tata niaga sawit. "Jika ada pelanggaran kegiatan-kegiatan sesuai dengan Permentan tentu ada sanksi administratif dan juga pencabutan izin barangkali. Dan jika ada pelanggaran hukum tentunya Kementan menggandeng Satgas Pangan," tegasnya. Serapan TBS Tetap Berjalan Di tengah sorotan terhadap ratusan PKS swasta tersebut, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui subholding PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo pastikan aktivitas pembelian TBS dari masyarakat dan petani mitra tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan hingga April 2026 perusahaan telah menyerap sekitar 1,03 juta ton TBS dari masyarakat dan mitra. Volume tersebut meningkat 2,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut Jatmiko, keberlanjutan serapan TBS menjadi faktor penting dalam menjaga perputaran ekonomi masyarakat di sentra-sentra perkebunan sawit. "Peningkatan volume serapan ini berjalan beriringan dengan penerapan standar mutu yang jelas. Hingga April 2026, perolehan rendemen CPO kami terjaga di angka 18,69 persen," jelasnya. Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menimpali perusahaan terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan di berbagai wilayah operasional untuk memastikan implementasi ketentuan harga sesuai regulasi pemerintah. Menurutnya, keberadaan Holding Perkebunan Nusantara melalui PalmCo di sektor sawit tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis, tetapi juga berfungsi menjaga stabilitas tata niaga ketika pasar mengalami gejolak. "PTPN IV PalmCo terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan untuk memastikan implementasi Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Kehadiran BUMN di daerah harus menjadi referensi harga yang wajar dan jangkar pengaman tata niaga, terutama saat pasar sedang mengalami gejolak," ucap Arya. Mekanisme Harga Melindungi Petani Harga TBS yang diterima petani pada dasarnya ditetapkan melalui mekanisme tim perumus harga di tingkat provinsi yang melibatkan unsur pemerintah daerah, perusahaan pengolahan sawit, serta perwakilan petani. Skema tersebut dirancang agar harga TBS mencerminkan perkembangan harga minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya, sekaligus memberikan perlindungan bagi petani dari praktik pembelian yang tidak wajar. Keberadaan mekanisme tersebut dirasakan langsung oleh petani yang tergabung dalam pola kemitraan dengan perusahaan. Selain memperoleh kepastian penjualan hasil panen, mereka juga menerima harga yang mengacu pada ketetapan pemerintah daerah. Suparman, Sekretaris Koperasi Unit Desa (KUD) Sawit Makmur di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mengatakan anggota koperasinya tidak mengalami gejolak harga seperti yang dialami sebagian petani swadaya. Menurut dia, ketika harga TBS di tingkat petani swadaya sempat turun hingga sekitar Rp2.400 per kilogram pada pekan lalu, anggota koperasi tetap menerima harga sesuai ketetapan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan. "Karena posisi kami adalah mitra resmi, kami menggunakan harga ketetapan dari Dinas Perkebunan Provinsi. Gejolak informasi di luaran tidak membawa pengaruh ke dalam," tuturnya. Data Dinas Perkebunan Kalimantan Selatan menunjukkan harga TBS tanaman menghasilkan berusia 10–20 tahun selama Mei berada pada kisaran Rp3.781 hingga Rp3.841 per kilogram. Kondisi serupa juga dirasakan petani di Riau. Ketua Koperasi Produsen Makarti Jaya, Kabupaten Rokan Hulu, Hadiyanto, mengatakan anggota koperasinya relatif terlindungi dari gejolak harga yang terjadi di pasar. Koperasi yang mengelola sekitar 731 hektare kebun sawit dan telah bermitra dengan PTPN selama hampir empat dekade tersebut tetap memperoleh harga sesuai ketentuan yang berlaku. "Di saat petani swadaya sangat terimbas dengan anjloknya harga, kami masih tersenyum. Selisih harga kami dengan pabrik-pabrik swasta terdekat lumayan signifikan, berkisar Rp600 sampai Rp1.000 per kilogram," imbuhnya. Cerita Hadiyanto, kepastian harga menjadi faktor penting terutama ketika produktivitas kebun sedang menurun akibat usia tanaman maupun proses peremajaan. "Sangat membantu anggota kami. Di saat tren produksi sedang menurun dan harga di PKS lain anjlok, PTPN tetap hadir dengan harga stabil," katanya. Turunnya harga TBS dalam beberapa pekan terakhir kembali menunjukkan pentingnya kepatuhan seluruh pelaku industri terhadap mekanisme penetapan harga yang telah disepakati. Di sisi lain, kemitraan yang kuat serta konsistensi serapan TBS oleh Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas pendapatan petani ketika pasar menghadapi ketidakpastian.

Panen Raya Jagung di Ujungbatu, Kapolsek Turun Tangan Bersama Petani Hukrim
Hukrim
Kamis, 28 Mei 2026 | 12:09 WIB

Panen Raya Jagung di Ujungbatu, Kapolsek Turun Tangan Bersama Petani

Ujungbatu, katakabar.com - Suasana keakraban dan semangat gotong royong terlihat jelas di lahan pertanian Kelurahan Ujung Batu, Kecamatan Ujungbatu, Kabupaten Rokan Hulu. Sabtu (23/5), kegiatan panen jagung tidak hanya dilakukan oleh para petani, tetapi mendapat dukungan penuh dari pihak kepolisian setempat. Kapolsek Ujungbatu, Kompol Jusuf Purba SH MH, turun langsung ke lapangan bersama jajarannya untuk membantu proses panen di lahan milik Pak Ambo. Kehadiran personel Polsek Ujungbatu ini bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk nyata kepedulian terhadap dunia pertanian dan kesejahteraan masyarakat. Hasil panen yang melimpah dari lahan tersebut seluruhnya diserahkan kepada Pak Ambo sebagai pemilik lahan. Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan konkret untuk membantu perekonomian petani, sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong program peningkatan kesejahteraan petani yang sedang digalakkan. Di momen tersebut, Kompol Jusuf Purba menegaskan pihaknya akan terus berupaya maksimal dalam mendukung para petani. Tujuannya sederhana tetapu sangat penting, yaitu memastikan produktivitas pertanian dapat terus meningkat dari waktu ke waktu. “Kami ingin pastikan para petani mendapatkan perhatian dan dukungan yang layak. Produktivitas yang baik akan berdampak langsung pada kesejahteraan mereka,” kata Kapolsek Ujungbatu, Kompol Jusuf Purba, Kamis (29/5). Lebih lanjut, Kapolsek memberikan pesan dan motivasi kepada seluruh petani. Ia mengingatkan agar para petani bekerja ekstra keras dan lebih teliti dalam merawat tanaman jagung mereka. Perawatan yang maksimal menjadi kunci agar tanaman dapat tumbuh subur, sehat, dan akhirnya menghasilkan panen yang memuaskan. “Petani harus selalu memperhatikan tanamannya dengan baik. Dengan perawatan yang ekstra, hasil panen pun akan maksimal,” jelasnya. Hal ini dilakukan agar sektor pertanian dapat terus tumbuh dan berkembang, sehingga mampu mendukung program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang kuat dan mandiri. Sinergi antara aparat dan petani ini diharapkan dapat menjadi contoh positif bahwa pembangunan daerah dapat berjalan dengan baik melalui kerja sama dan kepedulian bersama.

Dukung Ketahanan Pangan, PalmCo Perkuat Kemitraan Petani di Jambi Nasional
Nasional
Senin, 04 Mei 2026 | 13:05 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, PalmCo Perkuat Kemitraan Petani di Jambi

Jambi, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) lewat Subholding PTPN IV PalmCo terus perkuat peran strategisnya dukung ketahanan pangan nasional melalui penguatan kemitraan bersama petani di daerah. Komitmen tersebut tercermin dengan kehadiran Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, yang mendampingi Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, pada rangkaian kegiatan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tingkat Provinsi Jambi, di pekan keempat April 2026 lalu. Provinsi Jambi salah satu wilayah strategis bagi operasional PalmCo. Selain sebagai sentra kelapa sawit, wilayah ini memiliki komoditas unggulan lain seperti teh dan kopi yang sebagian besar dikelola oleh petani rakyat. Pada konteks tersebut, sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan petani menjadi kunci dalam menjaga produktivitas sekaligus keberlanjutan sektor pertanian. Di sela kegiatan, Jatmiko menegaskan, peran petani merupakan bagian integral dari kinerja perusahaan. Ia menyebut kontribusi petani terhadap pasokan bahan baku sangat signifikan. Sepanjang 2025, sekitar 25 persen dari total produksi Tandan Buah Segar (TBS) yang dikelola PalmCo berasal dari petani mitra, dengan volume penyerapan mencapai 3,25 juta ton. "Capaian ini menempatkan PalmCo sebagai salah satu offtaker utama yang berperan dalam menyerap hasil panen rakyat sekaligus mendukung program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR)," jelasnya. Petani bukan sekadar mitra, tegas Jatmiko, tetapi bagian dari identitas perusahaan. Tanpa mereka, pertumbuhan PalmCo tidak akan seperti sekarang. "Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui berbagai inisiatif, termasuk pelibatan petani dalam kegiatan nasional serta penguatan kapasitas kelembagaan di tingkat daerah," ucapnya. Selama kunjungan di Jambi, PalmCo bersama Kementerian Pertanian dan HKTI terlibat mengikuti sejumlah agenda, mulai dari pertemuan dengan organisasi petani seperti Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI), Wanita Tani, dan Pemuda Tani, hingga kegiatan tanam bersama. Di kawasan Bukit Cinto Kenang, Kabupaten Muara Jambi, dilakukan penanaman benih jagung dan bibit buah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman padi brigade di Kabupaten Batanghari serta pelantikan pengurus DPD HKTI Provinsi Jambi. Rangkaian kegiatan ini mencerminkan pendekatan pembangunan pertanian yang terintegrasi lintas komoditas dalam satu ekosistem yang berkelanjutan. Menurut Jatmiko, sinergi antara pelaku hulu dan hilir, termasuk perusahaan, organisasi petani, serta penyedia sarana produksi, menjadi faktor kunci dalam percepatan swasembada pangan nasional. “Di wilayah multikomoditas seperti Jambi, kolaborasi menjadi kunci. Ketika petani berdaya dan ekosistemnya kuat, maka target swasembada pangan bukan hal yang sulit dicapai,” imbuhnya. Penguatan kemitraan ini sekaligus menegaskan peran Holding Perkebunan Nusantara tidak hanya sebagai entitas bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari solusi dalam menjawab tantangan pangan nasional.

Kata MPPI Benih Murah Online Bikin Petani Kelapa Sawit Rugi Jutaan Rupiah Sawit
Sawit
Selasa, 17 Februari 2026 | 20:44 WIB

Kata MPPI Benih Murah Online Bikin Petani Kelapa Sawit Rugi Jutaan Rupiah

Jakarta, katakabar.com - Merajalelanya penjualan benih murah secara daring mendapat perhatian serius dari Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI). Organisasi ini menegaskan praktik jual-beli benih yang tidak bersertifikat dan dijual jauh di bawah harga pasar berisiko membuat petani kelapa sawit rugi jutaan rupiah, bahkan bisa mengancam produktivitas kebun mereka. Anggota MPPI, Hindrawati, menjelaskan benih yang dijual murah online sering kali tidak mengikuti standar mutu yang berlaku. “Benih yang tidak bersertifikat ini berpotensi gagal tanam atau menghasilkan pohon yang tidak seragam. Petani yang tergiur harga murah bisa kehilangan jutaan rupiah karena hasil panen menurun drastis,” tegas Hindarwati, Selasa (17/2). Harga murah memang menggiurkan. Di toko resmi, benih sawit bisa dijual sekitar Rp21 ribu per bibit, tetapi di platform daring ada yang dijual hanya Rp7 ribu. Selisih harga yang ekstrem ini menimbulkan tanda tanya besar soal keaslian dan kualitas bibit. Menurut MPPI, benih yang diproduksi secara resmi melalui proses panjang, mulai dari pemuliaan tanaman, pengujian mutu, sertifikasi, hingga distribusi yang sesuai standar, sehingga tidak mungkin dijual murah tanpa merusak kualitas. Dampak benih murah online bukan hanya dirasakan petani, tetapi juga produsen benih berskala kecil dan menengah. Banyak UMKM perbenihan mengaku tertekan karena tidak mampu bersaing dengan harga yang tidak wajar. “Produsen yang patuh aturan justru terhimpit, sementara benih tanpa asal-usul jelas bebas dijual murah,” kata Hindarwati. Benih sawit berkualitas rendah bisa berdampak panjang bagi petani. Pohon yang tumbuh tidak seragam akan menghasilkan panen yang tidak optimal. Beberapa petani bahkan mengalami gagal panen total karena bibit yang buruk. “Kalau ini dibiarkan, bukan hanya petani yang rugi, tetapi ketahanan dan swasembada pangan nasional bisa terganggu,” sambungnya. MPPI mendorong agar petani dan konsumen lebih cermat dalam membeli benih. “Jangan hanya tergiur harga murah. Pastikan membeli benih melalui distributor resmi atau toko pertanian bersertifikat agar kualitasnya terjamin,” bebernya. Jika terjadi kerugian, konsumen dapat mengadu ke YLKI atau Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan di Kementerian Pertanian. Selain itu, Hindarwati menekankan pentingnya pengawasan pemerintah terhadap penjualan benih di ruang digital. Dengan pengawasan ketat dan edukasi petani mengenai pentingnya benih bersertifikat, ekosistem perbenihan nasional dapat terjaga, mendukung produktivitas, dan memastikan target swasembada pangan berkelanjutan tercapai. MPPI juga menekankan bahwa benih, termasuk benih sawit, bukan sekadar biaya operasional, tetapi investasi masa depan. Bibit unggul akan menghasilkan pohon sehat dan produktif, serta memberikan panen optimal bagi petani. Sebaliknya, benih murah tanpa jaminan dapat memicu kerugian besar dan melemahkan rantai produksi pangan. Lantas Hindarwati kembali tegaskan benih murah online adalah “pedang bermata dua”. Keuntungan harga rendah hanya sementara, sementara risiko kerugian bagi petani sangat nyata. Kesadaran akan pentingnya benih bersertifikat menjadi kunci sukses swasembada pangan nasional, khususnya untuk komoditas strategis seperti sawit. Dengan langkah pengawasan yang lebih ketat, literasi petani yang meningkat, serta regulasi yang jelas, MPPI berharap peredaran benih bermutu tetap terjaga. Dengan begitu, petani sawit bisa menanam dengan aman, produktivitas terjaga, dan kerugian ekonomi akibat benih murah online bisa diminimalkan.