Pelalawan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP fokus Literasi media dan digital kepada petani kelapa sawit di perkebunan kelapa sawit. Buktinya, program ini masuk dalam program pengembangan Sumber Daya Manusia atau SDM kelapa sawit.

Jadi, kegiatan Literasi Media dan Digital Petani Sawit yang digelar di Kabupaten Pelalawan, persisnya di Desa Harapan Jaya, Rabu (20/8) kemarin oleh Elaeis Media Group atau EMG ikut mendorong suksesnya program BPDP tadi.

Analisis Senior UKM BPDP, Anwar Sadat menjelaskan, literasi media dan digital memang langkah yang menarik untuk pengenalan digitalisasi bagi petani sawit. Ini penting dilakukan seiring dengan terus berkembangnya dunia digitalisasi saat ini.

"Kita apresiasi Elaeis Media Group sudah membawa program ini ke petani. Memang saat ini digitalisasi sudah masuk ke semua lini, termasuk juga perkebunan kelapa sawit," jelasnya saat hadir di gelaran tersebut secara online.

Carita Anwar, digitalisasi di ruang lingkup perkebunan di nilai cukup lambat. Bahkan digitalisasi menjadi salah satu tantangan di sektor komoditi andalan Indonesia tersebut.

"Untuk upaya percepatan digitalisasi di perkebunan sawit, kita sudah hadirkan beberapa langkah dan program. Nantinya diharapkan digitalisasi ini akan segera terwujud sehingga petani lebih berwawasan dan mudah mendapatkan informasi bahkan ikut merasakan program-program perkebunan yang BPDP hadirkan," jelasnya.

Dari hitungan Anwar, butuh waktu 10 hingga 12 tahun untuk melakukan digitalisasi hingga 70 persen di perkebunan  sawit di Indonesia. Tapi, dengan hadirnya kegiatan-kegiatan seperti EMG yang telah di lakukan di dua kabupaten, yakni Rokan Hulu dan Pelalawan jangka waktu dapat dipercepat.

"Ini dapat menjadi contoh bagi bagi yang lain, sehingga digitalisasi dunia perkebunan semakin cepat terwujud. Artinya tidak ada petani yang awam dengan media digital," ucapnya.

Ada beberapa tuntutan hingga petani kudu melek digitalisasi. Diantaranya meliputi kebutuhan pasar. Pasar industri kelapa sawit menuntut petani melengkapi sertifikasi yang diperlukan agar hasil kebun dapat dihargai dengan nominal yang tinggi. Misalnya sertifikasi ISPO, RSPO dan STDB.

Terus, mencegah terjadinya manipulasi data. Pencatatan data secara manual akan lebih beresiko. Tidak kecil kemungkinan pula, pencatatan secara digital dimanipulasi jika tidak diawasi secara bersama.

"Petani harus siap digitalisasi sebab program yang kita hadirkan juga telah melalui digitalisasi. Seperti pengajuan sarpras, PSR, SDM dan sebagainya," harapnya.