Roadmap

Sorotan terbaru dari Tag # Roadmap

Binus University Bekasi Gelar Research Roadmap Session Living Lab Greening Corridors Indonesia–Netherlands Pendidikan
Pendidikan
Rabu, 28 Januari 2026 | 17:35 WIB

Binus University Bekasi Gelar Research Roadmap Session Living Lab Greening Corridors Indonesia–Netherlands

Jakarta, katakabar.com - Binus University Kampus Bekasi menjadi tuan rumah penyelenggaraan Research Roadmap Session Living Lab Greening Corridors Indonesia–Netherlands (LLGCI-NL), sebuah forum kolaboratif internasional yang mempertemukan akademisi, industri, dan pemerintah dari Indonesia dan Belanda dalam rangka merumuskan peta jalan riset bersama di bidang logistik berkelanjutan. Kegiatan ini bagian dari penguatan kerja sama Triple Helix antara perguruan tinggi, sektor industri, dan institusi pemerintah untuk mendorong inovasi di sektor logistik melalui pendekatan living lab, yakni riset yang dilakukan langsung pada konteks dunia nyata dengan melibatkan para pemangku kepentingan. Acara dibuka dengan sambutan dari Binus University, dilanjutkan dengan keynote speech dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta HAN University of Applied Sciences, Belanda. Dalam paparannya, BRIN menekankan pentingnya penerapan green logistics sebagai respons terhadap tingginya kontribusi sektor transportasi terhadap emisi karbon di Indonesia, yang mencapai sekitar 19,2 persen dari total emisi nasional. Praktik logistik hijau dinilai krusial untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dan SDG 13 (Climate Action). Sementara, perwakilan dari HAN University of Applied Sciences, Erik van Zanten, memaparkan peluang pendanaan riset dari skema EU–ASEAN yang mendukung model kolaborasi Triple Helix, khususnya pada bidang Technical and Vocational Education and Training (TVET). Skema ini membuka peluang pendanaan hingga €180.000 untuk proyek-proyek riset terapan yang berfokus pada infrastruktur logistik, green logistics, dan smart logistics. Melalui sesi project mapping dan diskusi kelompok, para peserta merumuskan tiga grand themes utama, yakni Infrastructure Optimization, Green Logistics, dan Smart Logistics. Ketiga tema ini diharapkan menjadi fondasi pengembangan riset kolaboratif selama tiga tahun ke depan (2026–2028), dengan fokus pada isu-isu utama seperti tingginya biaya logistik nasional, rendahnya adopsi teknologi, fragmentasi rantai pasok, serta tantangan emisi karbon dan keberlanjutan lingkungan. Sebagai penutup rangkaian acara, dilakukan signing ceremony sebagai simbol komitmen para anggota konsorsium LLGCI-NL dalam mengimplementasikan peta jalan riset yang telah disepakati bersama. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi tonggak penting dalam memperkuat ekosistem riset logistik berkelanjutan serta meningkatkan daya saing sektor logistik Indonesia di tingkat global. Dengan pendekatan living lab, LLGCI-NL tidak hanya berfokus pada pengembangan riset, tetapi juga pada pelibatan aktif mahasiswa melalui tesis, magang, studi kasus, dan proyek terapan, sehingga mampu menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan kebutuhan industri secara nyata. Tentang LLGCI-NL Living Lab Greening Corridors Indonesia–Netherlands (LLGCI-NL) merupakan inisiatif kolaboratif internasional yang bertujuan mengembangkan solusi inovatif di bidang logistik berkelanjutan melalui kerja sama antara universitas, industri, dan pemerintah di Indonesia dan Belanda. Inisiatif ini berfokus pada penguatan infrastruktur logistik, transisi energi, digitalisasi, serta pengurangan emisi karbon dalam rantai pasok. Inisiatif ini digaungi oleh empat founding fathers, yakni Binus University melalui Business Management program di kampus Binus @Bekasi, HAN University of Applied Sciences, Belanda, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Cikarang Dry Port. Berbagai institusi pendidikan, pemerintah serta industri telah bergabung sebagai anggota dari living lab ini demi memajukan rantai pasok berkelanjutan di Indonesia.

IPOC 2025, GAPKI Bakal Bahas Roadmap, Kebijakan Tarif Trump dan Penerapan EUDR Sawit
Sawit
Rabu, 29 Oktober 2025 | 17:00 WIB

IPOC 2025, GAPKI Bakal Bahas Roadmap, Kebijakan Tarif Trump dan Penerapan EUDR

Jakarta, katakabar.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bakal hadirkan The 21th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and 2026 Price Outlook, forum strategis tahunan bakal dorong kebijakan dan prospek industri kelapa sawit ke arah yang berkelanjutan. IPOC 2025 and 2026 Price Outlook bakal digelar pada 12 hingga 14 November 2025 di Bali International Convention Center, The Westin Resort Nusa Dua Bali usung tema “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy, and Global Trade”. Sawit dinilai menjadi pilar penting topang ekspor non migas sehingga membuka peluang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah perkebunan. Apalagi, Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia sehingga harus terus beradaptasi terhadap perubahan kebijakan, lingkungan, serta energi hijau untuk menjaga keseimbangan pasokan minyak nabati global. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan pergelaran IPOC 2025 diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor menghadapi tantangan sampai pada menghasilkan gagasan strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global. “IPOC forum strategis untuk membahas arah industri kelapa sawit ke depan, khususnya upaya-upaya yang dapat dilakukan para pelaku industri sawit mendorong produktivitas di tengah beragam peluang dan tantangan domestik maupun global,” ujar Eddy, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Rabu (29/10). Ketua Panitia IPOC 2025, Mona Surya, menimpali, forum ini bakal menyajikan peta jalan industri sawit menuju Indonesia Emas 2045, dan apa dampak kebijakan tarif Trump, serta implementasi EUDR terhadap pasar . Hadir di conference pembicara-pembicara ahli di bidang minyak nabati seperti Executve Director Oil World, Thomas Mielke bakal menyampaikan analisis mengenai proyeksi harga dan tren pasar minyak nabati dunia. Kamudian pendiri Glenauk Economics, Julia McGill juga akan memberikan pandangan tentang dinamika makroekonomi yang mempengaruhi sektor komoditas. Hadir pula di forum, Ryan Chen dari Cargill dan Satia Varga dari FastMarkets bakal memaparkan outlook, prospek, sampai pada cara menghadapi tantangan pasar global. Analis dunia, Dorab Mistry dari Godrej International Ltd pun hadir memberikan Keynote Speakers dari kalangan pengambil kebijakan mulai dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI, Rachmad Pambudy, Wakil menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartato. Selain conference, IPOC bakal hadirkan pameran teknologi, produk, dan inovasi terbaru industri sawit dari sektor hulu sampai hilir.

Sharring Session dan Evaluasi Roadmap BPDPKS Dorong Pengembangan Sawit Berkelanjutan Sawit
Sawit
Kamis, 25 Juli 2024 | 14:04 WIB

Sharring Session dan Evaluasi Roadmap BPDPKS Dorong Pengembangan Sawit Berkelanjutan

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS taja Sharing Session dan Evaluasi Roadmap BPDPKS Ddukung Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan pada 2022 hingga 2029 mendatang, untuk Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit di Yogyakarta, di pekan ketiga Juli 2024 lalu. Kegiatan yang dihadiri Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Dana BPDPKS, Kabul Wijayanto ini bertujuan untuk melihat secara langsung pelaksanaan Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang dilakukan lembaga penyelenggara pendidikan dan membandingkannya dengan Roadmap pengembangan SDM yang sudah disusun, sehingga apabila terdapat masalah yang menghambat program dapat segera teratasi.

Tentang Penelitian dan Pengembangan Roadmap BPDPKS Pengembangan Sawit Berkelanjutan Sawit
Sawit
Rabu, 26 Juni 2024 | 20:13 WIB

Tentang Penelitian dan Pengembangan Roadmap BPDPKS Pengembangan Sawit Berkelanjutan

Jakarta, katakabar.com - Panduan Roadmap Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS guna dukung Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan dari 2022 hingga 2029. Di mana memuat rencana jangka menengah dan jangka panjang seluruh program BPDPKS khusus program Penelitian dan Pengembangan memberikan arah dan tujuan program tersebut. Selain itu, memberikan panduan strategis bagi beragam stakaholder terkait pengembangan sawit berkelanjutan yang sejalan dengan Peta Panduan Industri Kelapa Sawit Nasional Menuju 2045, guna mendapatkan informasi dari stakeholder terkait pelaksanaan Roadmap Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk mendukung Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan (2022-2029). BPDPKS gelar Sharring Sesion dan Monev Program Penelitian dan Pengembangan Roadmap Badan BPDPKS untuk Mendukung Pengembangan Kelapa Sawit di Jakarta, di pekan kedua Juni 2024. Kepala Divisi Pendidikan SDM, Litbang dan Pengembangan Sarpras BPDPKS Kemenkeu, Triana Meinarsih yang buka Sharring Session dan Monev Program Penelitian dan Pengembangan pada Roadmap BPDPKS Mendukung Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan (2022-2029). Di pembukaan itu, Triana Meinarsih menyampaikan rencana program litbang pada Roadmap BPDPKS untuk Sawit Berkelanjutan, yakni Peningkatan penelitian terkait produktivitas tanaman. Rencana program litbang ini diharapkan realisasi produktivitas sampai dengan tahun 2025 adalah 5-6 tpn CPO per hektar per tahun dengan target realisasi hingga tahun 2025 adalah 7-8 ton CPO per ha per tahun. Hadir di acara yang berlangsung hybrid tersebut sebagai narasumber Associate Researcher Indef, Eusebius Pantja Pramudya. Dipaparannya Eusebius Pantja Pramudya menjabarkan Roadmap BPDPKS Mendukung Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan (2022-2029) untuk Program Penelitian dan Pengembangan Di acara ini diundang pula stakeholder perkebunan kelapa sawit baik dari kementerian teknis terkait, sekaligus anggota Komite Pengarah BPDPKS, asosiasi petani, asosiasi pengusaha, dan lembaga peneliti.

Impian Para Petani Sawit Aceh Pada Peluncuran Roadmap KSB di Senayan Nusantara
Nusantara
Kamis, 23 November 2023 | 12:23 WIB

Impian Para Petani Sawit Aceh Pada Peluncuran Roadmap KSB di Senayan

Jakarta, katakabar.com - Hotel Mulia Senayan, Jakarta jadi saksi bisu Provinsi Aceh meluncurkan roadmap (Peta Jalan) Kelapa Sawit Berkelanjutan (KSB) 2023-2045 dan Rencana Aksi Daerah KSB 2023-2026, kemarin. Pada momen itu, sejumlah kelompok pekebun kelapa sawit Aceh dan mewakili turut hadir serta ada satu kelompok pekebun dan empat koperasi kelapa sawit yang berhasil menunjukan eksistensi mereka dengan mendapatkan sertifikasi nasional, Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan sertifikasi internasional, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Internal control system di perkumpulan pekebun sawit Tenggulun Lestari dan sekaligus sebagai pendamping empat koperasi di Kabupaten Aceh Tamiang, Rahmadania menuturkan, para petani menaruh harapan besar dengan diluncurkannya roadmap (Peta Jalan) ini. “Terutama untuk perkumpulan yang sudah dapat sertifikasi ISPO dan RSPO, kami berharap adanya roadmap ini bisa mendapatkan kemudahan akses. Mulai dari akses mendapatkan sarana prasarana perkebunan hingga akses penunjang produksi kelapa sawit petani,” ujarnya, kemarin dilanasir dari laman kontan.id, pada Kamis (23/11). Contoh lainnya, kata Rahmadania, kemudahan mendapat pupuk, kemudahan untuk mendapat alat pelindung diri, sebab hal-hal itu menjadi salah satu poin yang mesti dipenuhi dan dipatuhi pekebun kelapa sawit yang sudah meraih sertifikasi. ISPO dari pemerintah Indonesia, harapnya, mesti bisa memberi impact yang sama besarnya dengar RSPO. “Kami berharap tidak cuma RSPO yang dapat memberikan impact langsung bentuk premium fee, tapi ISPO mesti bisa memberikan keuntungan untuk para pekebun. Apalagi, selama ini ISPO belum bisa kita lihat secara langsung keuntungannya kecuali dari penerapan agrikultural berkelanjutannya,” bebernya. Selain itu, ulas Rahmadania, adanya roadmap yang didukung pemerintah Aceh, RSPO dan ISPO petani bisa dengan cepat mendapatkan kepastian harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. “Kami berharap ISPO dan RSPO bisa menjamin kepastian harga bagi para petani. Ini memang berkaitan dengan kemudahan akses sarana dan prasarana, misalnya kalau petani bisa langsung menjual TBS kelapa sawit mereka ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) sehingga memutus rantai pasar yang terlalu panjang dan mendapatkan harga yang lebih baik,” jelasnya. Dari catatan ada lima kelompok pekebun sawit di Aceh Tamiang yang berhasil mendapatkan sertifikat ISPO dan RSPO, mereka terbagi menjadi 1 kelompok pekebun dan 4 koperasi. Mereka, yakni Perkumpulan Pekebun Sawit Tenggulun Lestari (Pesatri), Koperasi Produsen Bumi Sawit Tamiang, Koperasi Produsen Palem Lestari Tamiang, Koperasi Produsen Tamiang Sawita Lestari dan Koperasi Produsen Sawit Muda Sedia. Keberhasilan ini sekaligus membuktikan kemampuan petani swadaya dalam memenuhi persyaratan sertifikasi internasional sawit berkelanjutan, ISPO, dan RSPO. Di mana nantinya lima kelompok ini menjadi contoh dan diadopsi Pemerintah Aceh sebagai model untuk diterapkan di 13 Kabupaten lainnya.