Tepian

Sorotan terbaru dari Tag # Tepian

Empat Hari di Tepian Jambi Opini
Opini
6 jam yang lalu

Empat Hari di Tepian Jambi

Oleh: Agung Marsudi katakabar.com - Bukan perjalanan yang menguras energi, melainkan empat hari mengukur jalan bumi—menemukan arti nasionalisme yang berakar pada hati hutan, bukan pada spanduk, baliho dan pidato. Di desa Merbau, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebuah Kijang putih tua merayap perlahan di jalan berjerebu. Di sisi kiri, hutan lindung berdiri tegak; di sisi kanan, konsesi hutan tanaman industri membentang luas. Di sana, terlihat jelas satu realita yang tak terelakkan: pertarungan antara lapar lahan dan lapar perut—pertarungan yang kerap berakhir kemelut. Dari dekat, jejak perusahaan besar tampak nyata. Penebangan, pembukaan lahan, pembakaran—semuanya berlangsung di bawah narasi pembangunan, ekonomi, dan kepedulian lingkungan. Padahal, menebang di luar Rencana Kerja Tahunan (RKT), menggali kanal dan jalur dengan alat berat, lalu membakar lahan, bukanlah rahasia. Namun ketika langit Indonesia menggelap, terutama Kalimantan dan Sumatera—yang disalahkan justru bukan mereka yang memegang kendali gergaji. Tuduhan jatuh pada petani kecil, pada cuaca ekstrem, pada apa saja kecuali sistem yang merusak. Asap yang membawa penderitaan tak lagi mengenal batas wilayah. Ia menyelimuti Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Filipina. Hutan hujan tropis Kalisuma (Kalimantan Sumatera) yang dahulu menjadi paru-paru dunia, kini berubah menjadi sumber sesak napas bagi jutaan umat manusia. Empat hari menyusuri tepian Jambi, ratusan kera menyambut dari sela-sela pepohonan yang tersisa. Melalui jendela kendaraan, kami menyodorkan potongan roti; lensa kamera merekam pertemuan itu. Namun di balik keharmonian sesaat itu tersimpan keprihatinan: satwa kita tak lagi betah di habitatnya sendiri. Kanopi hutan yang dulu lebat kini menganga. Kita bangga menyebut diri sebagai produsen minyak sawit, minyak bumi, dan bubur kertas kelas dunia. Tetapi kebanggaan itu harus dibayar dengan harga sangat mahal: hutan yang tak lagi tersisa. Keanekaragaman hayati yang menjadi warisan bangsa, kini terperangkap dalam asap tebal, tak peduli siapa yang di istana. Hutan kita telah lama menangis. Airmatanya kini berubah menjadi api—membakar mimpi dan masa depan generasi. Sementara itu, di kota-kota besar, para pemimpin negeri sibuk membakar semangat pendengarnya dengan pidato-pidato politik berbusa janji. Dari desa Merbau, Mendahara, Tanjung Jabung Timur, Jambi—Indonesia menyala. Bukan karena kemajuan, melainkan karena kebakaran. Asap hitam membubung tinggi, semakin tinggi, semakin gelap—melintasi batas negeri, menelan masa depan dan mimpi.