Topang
Sorotan terbaru dari Tag # Topang
Sentimen Global Topang Emas, Target Kenaikan Hingga 5.045 Terbuka
Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia pada perdagangan Senin (20/4) diperkirakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan, meski pasar sempat dibuka dengan tekanan yang memicu terbentuknya gap down. Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai kondisi tersebut belum mengubah arah tren utama, mengingat struktur pergerakan emas secara keseluruhan masih menunjukkan kecenderungan bullish yang cukup kuat. Dalam analisisnya, pembukaan harga yang sempat turun dan membentuk gap dinilai lebih sebagai respons jangka pendek terhadap dinamika pasar, bukan sinyal pembalikan arah. Bahkan, kondisi ini justru membuka peluang terjadinya penutupan gap, yang dalam banyak kasus menjadi bagian dari pergerakan harga sebelum kembali mengikuti tren utamanya. Menurut Geraldo Kofit, terbentuknya swing low pada timeframe yang lebih kecil menjadi salah satu indikasi bahwa harga mulai menemukan pijakan untuk kembali bergerak naik. Kondisi ini memperkuat peluang bahwa area gap yang terbentuk sebelumnya dapat tertutup, sekaligus menjadi landasan bagi harga untuk melanjutkan penguatan. Secara teknikal, ulasnya, tren bullish emas dinilai masih solid karena harga tetap bergerak di atas area support dinamis yang dibentuk oleh Moving Average 21 dan 34. Bertahannya harga di atas area tersebut menunjukkan bahwa tekanan beli masih mendominasi pasar dan belum ada sinyal pelemahan yang cukup kuat untuk mengubah struktur tren. Proyeksi jangka pendek, Dupoin Futures memperkirakan harga emas berpotensi menguji level resistance di kisaran 4.892. Area ini dipandang sebagai level penting yang dapat menjadi penentu arah pergerakan berikutnya. Jika harga mampu menembus level tersebut dengan kuat, maka peluang kenaikan menuju target berikutnya di 5.045 semakin terbuka. Level 5.045 dipandang sebagai area resistance lanjutan yang juga memiliki arti penting secara psikologis. Jika tercapai, level ini berpotensi menjadi acuan baru bagi pasar dalam mengukur kekuatan tren emas ke depan. Dari sisi fundamental, prospek kenaikan harga emas juga masih ditopang oleh sentimen global yang mendukung. Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang masih berlangsung membuat permintaan terhadap aset safe haven tetap tinggi. Dalam situasi pasar yang cenderung fluktuatif, investor masih melihat emas sebagai salah satu instrumen yang mampu menjaga nilai aset. Selain itu, ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi faktor yang menopang pergerakan emas. Pasar mulai melihat peluang Federal Reserve akan mengambil kebijakan yang lebih longgar, termasuk kemungkinan menahan kenaikan suku bunga atau bahkan membuka ruang penurunan suku bunga ke depan. Kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi emas, mengingat logam mulia ini umumnya lebih menarik ketika suku bunga rendah. Di saat yang sama, potensi pelemahan dolar Amerika Serikat juga memberikan dorongan tambahan terhadap harga emas. Dengan hubungan yang berlawanan arah antara dolar dan emas, tekanan pada dolar cenderung membuka ruang penguatan bagi logam mulia. Faktor lain yang turut diperhatikan adalah proses rebalancing posisi pelaku pasar serta aliran likuiditas pasca pembukaan pasar. Kondisi ini kerap menjadi pemicu percepatan penutupan gap dan dapat membantu harga kembali bergerak sejalan dengan tren utama yang sedang berlangsung. Secara keseluruhan, Dupoin Futures melihat prospek harga emas masih cenderung positif meskipun sempat dibuka dengan gap down. Selama harga bertahan di atas area support utama, peluang kenaikan dinilai masih terbuka, dengan target jangka pendek di 4.892 dan potensi lanjutan menuju 5.045. Pelaku pasar tetap disarankan mencermati perkembangan sentimen global serta level-level penting yang menjadi acuan pergerakan harga.
Di Muaro Jambi Komoditas Sawit Motor Penggerak Ekonomi Topang Kehidupan Ribuan Petani Kecil
Jambi, katakabar.com - Wakil Bupati Muaro Jambi, Junaidi H. Mahir, menekankan kelapa sawit komoditas unggulan nasional punya andil strategis, baik peningkatan devisa negara, penyediaan lapangan kerja, maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Lantaran itu, ia menegaskan pentingnya sektor kelapa sawit sebagai motor penggerak utama perekonomian daerah. Di tingkat daerah, ulas Junaidi, peran sawit tidak hanya sebagai sumber pendapatan pemerintah, tetapi menopang kehidupan ribuan petani kecil. “Di Kabupaten Muaro Jambi, perkebunan kelapa sawit menjadi tulang punggung ekonomi daerah, yang tidak hanya melibatkan perusahaan besar tetapi juga ribuan petani kecil yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini,” jelss Junaidi di agenda pembukaan Konsultasi Publik Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD-KSB) di Aula Bappeda Muaro Jambi pada Kamis (16/10) kemarin, dilansir dari laman sawitsetara.co, Jumat siang. Tetapi, ucap Junaidi, pengelolaan sawit masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari aspek legalitas lahan, produktivitas rendah di tingkat pekebun rakyat, isu lingkungan hidup, hingga tuntutan pasar global terhadap produk sawit yang berkelanjutan. Ia mengajak seluruh peserta forum untuk aktif memberikan pandangan dan rekomendasi. “Kita tidak menutup mata bahwa pengelolaan perkebunan sawit seringkali menghadapi berbagai tantangan,” terangnya. Di acara tersebut hadir Asisten Bupati, sejumlah kepala OPD, akademisi Universitas Jambi, Ketua Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Muaro Jambi, perwakilan LSM, serta berbagai pihak terkait pembangunan sektor perkebunan di daerah. Tujuan dari konsultasi publik ini untuk menyusun dokumen Rencana Aksi Daerah yang komprehensif dan aplikatif. Konsultasi publik ini diakhiri dengan penandatanganan kesepakatan bersama, sesi tanya jawab, dan foto bersama. Menurut, melalui forum konsultasi publik ini pihaknya mengajak seluruh peserta untuk aktif memberikan pandangan, masukan, dan rekomendasi.
Industri Sawit Topang Pencapaian SDGs
katakabar.com - Kontribusi industri minyak sawit Indonesia sudah mencapai 16 tujuan dari 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang inisiasi Sustainable Development Goals (SDGs) platform pembangunan global pada 2015 lalu dengan target pencapaian selama periode tahun 2016-2030. Sebagai platform pembangunan global yang disepakati bersama, SDGs memiliki 17 tujuan besar dan 169 target yang dapat dikelompokkan pada tiga aspek utama, yakni aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Lantas, seperti apa dukungan industri perkebunan sawit terhadap pencapaian SDGs global tersebut? Klasifikasi 17 Tujuan Besar SDGs Palm oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) dalam laporannya berjudul Kontribusi Industri Sawit Terhadap Pencapaian SDGs yang diterbitkan pada 2020 mengklasifikasi 17 tujuan SDGs ke dalam tiga aspek besar, meliputi ekonomi, sosial, dan lingkungan sebagai berikut. Pertama, tujuan dalam aspek ekonomi yang mencakup delapan SDGs, meliputi: (a) menghapus kemiskinan berbagai bentuk dan seluruh tempat/SDG-1. (b) menghapus kelaparan, kekurangan gizi, dan membangun ketahanan pangan inklusif/SDG-2. (c) membangun energi yang berkelanjutan/SDG-7. (d) pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja yang inklusif/SDG-8. (e) infrastruktur dan industrialisasi dan inovasi/SDG-9. (f) pengurangan ketimpangan/SDG-10. (g) konsumsi dan produksi yang berkelanjutan/SDG-12 dan (h) kerja sama global pembangunan berkelanjutan/SDG-17. Kedua, tujuan dalam aspek sosial yang mencakup enam SDGs, yakni: (a) kesehatan dan kesejahteraan/SDG-3. (b) pendidikan berkualitas yang inklusif/SDG-4. (c) kesamaan gender/SDG-5. (d) ketersediaan air bersih dan sanitasi yang inklusif/SDG-6. (e) pembangunan kota dan desa (pemukiman) yang inklusif, aman, dan berkelanjutan/SDG-11,dan (f) perdamaian dan keadilan sosial yang inklusif/SDG-16. Ketiga, tujuan dalam aspek lingkungan yang mencakup tiga SDGs, yaitu: (a) mengatasi perubahan iklim global dan dampaknya/SDG-13. (b) konservasi dan pemanfaaran sumber daya perairan secara berkelanjutan/SDG-14, dan (c) pengelolaan biodiversitas, ekosistem daratan, dan hutan secara berkelanjutan/SDG-15.
Peran Industrasi Sawit Penting Topang Ketahanan Pangan Nusantara
Jakarta, katakabar.com - Penting peran industri kelapa sawit penting menjaga sekaligus berperan topang ketahanan pangan Indonesia (Nusantara). Pengurus DPP Forum Pemuda Sawit Indonesia (FPSI), Rahmat Gunawan Pohan menyatakan hal tersebut saat seminar usung tema "Kontribusi Hulu-Hilir Kelapa Sawit dalam Mendukung Pencapaian Ketahanan Pangan Nasional". Menurut Rahmat, sebagai negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memainkan peran vital untuk pemenuhan kebutuhan minyak sawit global.
Pengembangan Produk Hilir Sawit Strategis Topang Ekonomi Nasional
Jakarta, katakabar.com - Pemerintah berkomitmen terus melakukan pengembangan hilirisasi kelapa sawit. Langkah ini dilakukan agar tidak cum terkonsentrasi ekspor bahan baku, tapi mesti mampu hasilkan produk akhir. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan hal tersebut saat Rapat Koordinasi Nasional Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Jakarta, tiga hari sebelum berakhir Maret 2024. Kelapa sawit, ulas Airlangga, telah menjadi salah satu komoditas strategis penopang perekonomian nasional. Indonesia sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan total produksi lebih dari 56 juta ton dan ekspor mencapai 26,33 juta ton. "Pada 2023 lalu, nilai ekspor kelapa sawit dan turunannya mampu mencapai USD28,45 miliar atau 11,6 persen terhadap total ekspor non migas, dan menyerap hingga 16,2 juta orang tenaga kerja langsung dan tidak langsung termasuk smallholders," jelasnya, dilansir dari laman resmi BPDPKS, awal April 2024. Ekspor produk sawit Indonesia tersebut, kata Menko Perekonomian, telah menjangkau lebih dari 125 negara guna memenuhi kebutuhan pangan, energi, dan berbagai industri hilir lainnya. Mempertimbangkan tingginya potensi sawit tersebut, ucap Airlangga, pemerintah terus berupaya menciptakan nilai tambah dan mengembangkan industri hilir kelapa sawit agar tidak hanya terkonsentrasi pada bahan baku, tapi mampu menghasilkan produk akhir. “Pemerintah terus mendorong mandatori biodiesel yang saat ini sudah mencapai B35 dan sudah diujicobakan untuk B40, dan realisasi penyerapan biodiesel domestik tahun 2023 mencapai 12,2 juta kilo liter. Hal ini sangat mempengaruhi untuk menyerap penggunaan Crude Palm Oil (CPO) di dalam negeri,” beber Airlangga. Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), sebagai lembaga yang bertugas mengelola dana perkebunan kelapa sawit mendukung pengembangan produk hilir kelapa sawit ini. Salah satu, caranya dengan melakukan penelitian dan pengembangan (Research & Development) bekerja sama dengan lembaga penelitian dan universitas. Nantinya, penelitian ini didanai BPDPKS lewat iuran pungutan ekspor yang dikumpulkan dari para pelaku usaha kelapa sawit. Dari 2015 hingga Mei 2023 lalu, jumlah dana yang terkumpul sebanyak Rp146,56 triliun. Dari nilai itu, dana Rp519,67 miliar telah dikeluarkan untuk mendanai 293 penelitian yang dilaksanakan 37 lembaga penelitian dan 900 peneliti. “Jadi begini, memang salah satu tugas BPDPKS memberikan dukungan pendanaan untuk pelaksanaan penelitan dan pengembangan riset yang dilaksanakan lembaga, universitas, dan peneliti. Banyak riset yang sudah kita lakukan menyangkut dari hulu sampai hilir, budi daya, pasca-panen, penerapan teknologi terkait hilirisasi bagaimana sawit berdasarkan inovasi melalui riset bisa dihasilkan komoditas hilir,” urai Direktur Utama BPDPKS, Eddy Abdurrachman. Inovasi bakal dilakukan, terang Eddy, sulap sawit menjadi helm hingga rompi anti peluru. Ini bisa dilakukan dengan menambahkan serat TKKS. Serat jenis ini memiliki sifat mekanis yang bagus dan dapat digunakan sebagai filler untuk meningkatkan kualitas fisik-mekanik helm proyek. Produknya dinamakan helm ramah lingkungan atau green composite (GC). “Contoh itu dari sawit bisa dibuat helm itu komersial, rompi tahan peluru, bioplastik, dan banyak lagi temuan, inovasi, berasal dari penelitian tadi yang menghasilkan produk hilir dari sawit yang sudah dikomersialisasikan,” kata Eddy. Selain menjadi helm dan rompi anti peluru, bebernya, cangkang sawit bisa menjadi bahan bakar alternatif seperti batu bara. Cangkang sawit memiliki kalori tinggi sehingga bisa dijadikan breket. Cara ini bisa membuat harga (Tandan Buah Segar (TBS) naik. Program penelitian dan pengembangan atau Litbang dan Riset perkebunan kelapa sawit dari aspek hulu hingga hilir yang dikembangkan BPDPKS salah satu upaya BPDPKS untuk melakukan penguatan, pengembangan dan peningkatan pemberdayaan perkebunan dan industri kelapa sawit nasional. “Semakin banyak hasil penelitian yang diberikan bakal berdampak positif terhadap produk kelapa sawit Indonesia bagi petani dan di pasar global,” timpal Anggota Komite Litbang BPDPKS, Tony Liwang. Dari riset kelapa sawit adalah adanya produk baru. “Kebanyakan orang hanya mengetahui produk sawit adalah minyak goreng,” sebutnya. Padahal, sambung Tony, banyak produk terbuat dari bahan sawit, seperti sabun, shampo, bahkan helm sepeda motor terbuat dari serat sawit. “Hampir semua dari pohon sawit dapat menghasilkan berbagai produk hilir. Bahkan nilai tambahnya lebih banyak dari minyak sawit mentah atau CPO. Cangkang sawit misalnya banyak diekspor ke Jepang yang dapat menghasilkan filter air,” imbuhnya. Peran BPDPKS tak hanya sampai di situ, Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ini aktif melakukan sosialisasi kepada pegiat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Salah satunya dilakukan UMKM di Yogyakarta dan mahasiswa Politeknik LPP dan masyarakat umum yang digelar Maret 2024 lalu. Dalam momen tersebut Kepala Divisi UKMK BPDPKS, Helmi Muhansyah menyatakan, salah satu capaian yang ingin diraih lewat gelaran tersebut adalah menjadikan UKMK sawit lebih baik dan naik kelas. “Ini perlu dilakukan lantaran sawit memberi banyak manfaat dalam kehidupan kita, termasuk lewat banyaknya hilirisasi produk sawit,” katanya saat pembukaan kegiatan yang berlangsung di Auditorium LPP Yogyakarta. Helmi menjelaskan, secara umum BPDPKS membuka peluang kolaborasi dengan seluruh pihak seperti asosiasi petani kelapa sawit, instansi pemerintah, perguruan tinggi dan pihak lain yang terkait. Ini dilakukan untuk mengenalkan, mengembangkan dan mendorong hilirisasi dan atau membuat produk-produk berbahan sawit terutama bagi pegiat UMKM. “Itu dilakukan salah satunya agar memberi nilai tambah dan kesejahteraan bagi para pelaku industri sawit termasuk pegiat UMKM,” tandasnya.