Soal 'Lenyapnya' 400 Hektar Kebun KOPSA-M

DR. Elviriadi: Dua Ini Kemungkinan Dalangnya

Pekanbaru, katakabar.com - Tak sulit bagi lelaki 43 tahun ini untuk menduga-duga siapa aktor di balik 'lenyapnya' 400 hektar kebun tahap pertama milik Koperasi Petani Sawit Makmur (KOPSA-M) di Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, itu. 

Soalnya, bukan sekali ini saja dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN-Suska) Pekanbaru ini mendapati modus-modus yang semacam itu.  

"Dimana-mana ada kaum kapitalis. Simsalabim itu modus lama dan di Riau, kejadian yang kayak begini sering terjadi kok," kata Elviriadi kepada katakabar.com, kemarin. 

Baca juga: Lobi Berujung Hampa di Koki Sunda

Doktor manajemen lingkungan hidup jebolan  Universitas Kebangksaan Malaysia ini menyebut, pada kasus 'lenyapnya' 400 hektar kebun tahap pertama milik KOPSA-M itu, oknum petinggi di PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) V dan di perbankan sangat berpotensi menjadi aktor. 

"Sebab oknum-oknum di sanalah yang bisa men-drive arah pola kemitraan dan oknum-oknum di sanalah yang akseable menciderai perjanjian-perjanjian yang sudah ada," ujar lelaki kelahiran Selat Panjang Kabupaten Meranti, Riau ini.   

Mestinya, sedari awal kata anggota "Society of Ethnobiology" Ohio State University ini, koperasi yang punya otoritas penuh atas perjanjian dan transaksi keuangan dengan perbankan. Tapi yang ada, koperasi hanya sekadar pelengkap penderita.
 
"Hutang ke Bank Agro itu kan transaksi keuangan. Seharusnya sebelum transaksi, objek ekonominya benar-benar dicek dulu. Lantaran yang punya objek ekonomi adalah koperasi, mestinya koperasi punya otoritas penuh," katanya. 

Tapi lantaran koperasi hanya dijadikan pelengkap penderita, maka pihak-pihak yang paham soal transaksi ekonomi tadi, leluasa mengutak-atik. "Ada oknum orang kuat di PTPN V yang mengambil momen di sini," tegasnya. 

Bismar Rambah: Ada 'David Copperfield' di Sana

Kalau keadaannya sudah begini kata Elvi, ada baiknya koperasi segera meminta bantuan ahli untuk membaca alur permainan. "Indikasi pidana penipuan pasti ada dan bakal ketemu," katanya. 

Pakar hukum Universitas Islam Riau (UIR), DR.M.Nurul Huda, SH.,MH menduga, unsur penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh oknum-oknum di PTPN V dan bisa jadi di perbankan, sudah terjadi pada proses kontrak, biaya pembangunan kebun, hingga pemeliharaan kebun KKPA itu. 

Lelaki 33 tahun ini merunutnya dari urusan KOPSA-M dengan Bank Agro. Pada dokumen yang ada jelas-jelas disebut bahwa ada tiga tahapan akad kredit yang sudah dilakukan. 

Tahap pertama Rp13,2 miliar untuk pembangunan kebun pada lahan 400 hektar, tahap kedua Rp23,12 miliar untuk kebun 1.150 hektar dan tahap ketiga Rp16,5 miliar untuk kebun seluas 500 hektar. 

Ini berarti, Bank Agro sudah menggelontorkan duit Rp52,9 miliar untuk membangun kebun seluas 2.050 hektar.  

"Di dokumen yang ada, KOPSA-M yang mengikat akad,  berarti keperluan akad ya KOPSA-M, bukan pihak lain. PTPN V sebagai bapak angkat kan, fungsinya sebagai penjamin, avalis," rinci lelaki kelahiran Rokan Hilir (Rohil), Riau, ini. 

Nah, dengan total duit yang sudah habis sebanyak tadi, semestinya kata Nurul, kebun yang dibangun sudah cantik dan memenuhi standar. 

Apalagi yang membangun kebun itu PTPN V, perusahaan bonafit milik Negara. Pasti sudah ada Rancangan Anggaran Biaya (RAB) dengan standar pembiayaan yang jelas.

"Perusahaan ini kan perusahaan sawit. Pasti sudah sangat pengalaman. Kalau kemudian kondisi kebun itu hancur-hancuran, berarti ada yang tak beres. Itulah makanya saya bilang ada dugaan penggelapan pada penggunaan duit pembangunan kebun itu," tegas Nurul. 

Kisruh antara KOPSA-M dan PTPN V ini sudah berlangsung cukup lama. Ini bermula dari pembangunan kebun kelapa sawit milik KOPSA-M di Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau.

Sebelumnya, kebun koperasi ini sudah dibangun oleh Bank Agro sebanyak tiga tahap; 400 hektar, 1.150 hektar dan 500 hektar. Tapi belakangan, kebun tahap satu itu 'lenyap'. PTPN V hanya mengakui kalau kebun milik koperasi cuma kebun yang tahap dua dan tiga. 

Terkait kisruh ini, hingga lebih dari sepekan, Eksekutif Vice President Plasma PTPN V, Arief Subhan, belum merespon pertanyaan yang dikirim Gatra.com melalui whatsapp.

Namun sebelumnya, seperti dilansir Gatra.com, Kepala Komunikasi Perusahaan dan PKBL PTPN V, Risky Atriyansyah mengatakan kalau areal Kopsa-M hanya tahap II dan tahap III. ""Tidak benar KOPSA-M memiliki areal pembangunan tahap I seluas 400 Ha," tegasnya.


 

Editor : Aziz

Berita Terkait