katakabar.com - Komoditas kelapa sawit tidak pernah lepas dari isu atau rumor negatif sedari dulu hingga kini. Belakangan ini, beredar rumor di tengah masyarakat membayangi petani yang mengelola perkebunan kelapa sawit pendapatannya lebih rendah dibanding dengan petani bukan kelapa sawit.
Rumor itu bisa ditepis oleh realita yang ditemukan berbanding terbalik dari sudut pandang ekonomi, adopsi usaha budidaya kelapa sawit petani lantaran sirkular ekonomi lebih profitable dibanding dengan komoditas lain seperti karet dan padi (Susila, 2004; Bunyamin, 2008; Feintrenie et al, 2010; Rist et al, 2010; Adebo et al, 2015; Euler et al, 2016; Kubitza et al, 2018; Nuva et al, 2019).
Sejalan dengan itu, Studi PASPI (2014, 2022) menerangkan, pendapatan petani kelapa sawit lebih tinggi dibanding dengan pendapatan petani bukan kelapa sawit. Pendapatan petani kelapa sawit tidak hanya lebih tinggi, tapi tumbuh lebih cepat dibanding pendapatan petani bukan kelapa sawit.
Berbagai studi (Euler et al, 2016; Qaim et al, 2020; Apdesian et al, 2020; Chrusendo et al, 2021) turut menjelaskan, pendapatan petani kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan dengan petani komoditas lain.
Sementara, Stera Review (World Growth, 2011) menyatakan, pendapatan petani kelapa sawit sebesar USD 960-3.340 per hektar atau lebih tinggi dibandingkan dengan petani karet (USD 720 per hektar), petani padi (USD 280 per hektar), petani ubi kayu (USD 190 per hektar), dan petani kayu (USD 1,099 per hektar).
Begitu pula Studi Syahza et al (2021) mengungkapkan rata-rata pendapatan petani kelapa sawit Provinsi Riau pada umur tanaman kelapa sawit yang optimum sebesar Rp6.4 juta per bulan dengan luas kepemilikan lahan 2 hingga 4 hektar setara Rp2.1 juta per hektar per bulan.
Di mana, proporsi peningkatan pendapatan yang diterima petani kelapa sawit dari budidaya kelapa sawit terus naik seiring dengan umur tanaman yang diusahakannya (Budidarsono et al, 2019).
Petani kelapa sawit menikmati peningkatan pendapatan sebesar 200 hingga 300 persen setelah lima tahun budidaya tanaman kelapa sawit. Lantas, pendapatan terus meningkat menjadi 400 hingga 1.300 persen setelah 5 hingga 10 tahun, bahkan terus meningkat menjadi 2.200 hingga 25.000 persen setelah umur tanaman kelapa sawit menginjak umur lebih dari 10 tahun.
Data itu menunjukkan, pendapatan petani kelapa sawit tidak hanya berkelanjutan, tapi meningkat seiring dengan peningkatan umur tanaman.
Selain pendapatan yang diterima lebih tinggi, petani kelapa sawit memperoleh pendapatan yang stabil disebabkan pendapatan diperoleh secara reguler setiap bulan dari penjualan Tandan Buah Segar (TBD) kelapa sawit (Balde et al, 2029; Apreisan et al, 2020).
Indikator lain membuktikan pendapatan petani kelapa sawit yang lebih tinggi dan stabil ditunjukkan kemampuan petani kelapa sawit membayar utang/pinjaman (hutang biaya produksi) yang lebih cepat dibanding dengan waktu jatuh tempo (Susila, 2004; Feintrenie et al, 2009; Rist et al, 2010).
Nah, paparan di atas menunjukkan pendapatan petani kelapa sawit meningkat lebih tinggi, tumbuh relatif cepat dan berkelanjutan dibanding dengan petani komoditas lainnya.
Hal ini kemudian menciptakan masyarakat berpendapatan menengah (middle income class) di kawasan pedesaan. (sumber: Buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global Edisi Keempat, PASPI 2023. Bersambung..,
Evolusi Terbaru Industri Sawit Indonesia, Melahirkan Masyarakat Berpendapatan Menengah di Pedesaan
Diskusi pembaca untuk berita ini