Malang, katakabar.com - Industri kelapa sawit terus menerus jadi sorotan pada forum akademik. Lihat, diskusi ilmiah usung tema 'Sawit di Mata Kampus: Perspektif Ilmiah & Komparatif', pakar dari Universitas Brawijaya (UB) menjabarkan fakta penting kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak nabati paling efisien di dunia, bahkan melampaui kedelai dan bunga matahari.
Kegiatan yang digelar merupakan rangkaian Sawit Academy ini diinisiasi Hai Sawit Indonesia dan mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Forum tersebut menghadirkan Prof. Dr. Ir. Susinggih Wijana, MS dari Fakultas Teknologi Pertanian UB sebagai pembicara utama.
Prof. Susinggih menekankan sawit harus dipandang secara komprehensif dan berbasis data ilmiah. Ia menilai perdebatan global mengenai sawit sering kali tidak menghadirkan perbandingan objektif dengan komoditas minyak nabati lain.
“Sawit merupakan tanaman penghasil minyak paling efisien di dunia. Ini bukan hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga efisiensi lahan dan efisiensi industri,” jelasnya, Sabtu (21/2).
Menurutnya, dari sisi produktivitas, kelapa sawit mampu menghasilkan minyak jauh lebih tinggi per hektare dibandingkan minyak kedelai (soybean oil) maupun minyak bunga matahari (sunflower oil).
Artinya, untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global, sawit membutuhkan luas lahan yang lebih kecil dibandingkan dua komoditas tersebut.
Efisiensi lahan ini menjadi poin penting dalam diskursus keberlanjutan. Dengan produktivitas tinggi, tekanan terhadap pembukaan lahan baru secara teoritis dapat ditekan jika tata kelola dilakukan dengan benar.
Prof. Susinggih menegaskan pendekatan berbasis efisiensi justru harus menjadi bagian dari narasi keberlanjutan sawit Indonesia.
Selain efisiensi lahan, ia menyoroti efisiensi industri sawit dari hulu ke hilir. Industri kelapa sawit memiliki rantai produksi yang terintegrasi, mulai dari perkebunan, pengolahan crude palm oil (CPO), hingga berbagai produk turunan seperti pangan, kosmetik, dan bioenergi.
“Jika kita melihat dari perspektif sistem produksi global, sawit sangat kompetitif. Tidak hanya menghasilkan minyak dalam jumlah besar, tetapi juga memiliki diversifikasi produk yang luas,” bebernya.
Lalu, Prof. Susinggih mengaitkan industri sawit dengan konsep ekonomi sirkular. Dalam pendekatan ini, limbah produksi tidak dipandang sebagai sisa yang terbuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
Tandan kosong, serat, hingga limbah cair dapat diolah menjadi pupuk organik, energi biomassa, bahkan bahan baku industri lainnya.
Pendekatan ekonomi sirkular dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menekan dampak lingkungan. Dengan pengelolaan yang tepat, industri sawit tidak hanya menjadi sektor penghasil devisa, tetapi juga bagian dari solusi transisi menuju sistem produksi yang lebih berkelanjutan.
Forum Sawit Academy di UB juga menegaskan peran kampus dalam membentuk perspektif ilmiah terhadap komoditas strategis nasional.
Perguruan tinggi dinilai memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kajian objektif dan berbasis riset, terutama di tengah derasnya opini global yang sering kali tidak sepenuhnya mempertimbangkan data komparatif.
Menurut Prof. Susinggih, kampus harus menjadi ruang diskusi terbuka yang mampu menguji berbagai klaim secara akademik. Dengan pendekatan ilmiah, isu sawit dapat dilihat secara proporsional, tidak hanya dari satu sudut pandang.
Diskusi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat literasi publik mengenai efisiensi kelapa sawit dibandingkan kedelai dan bunga matahari. Dengan produktivitas tinggi, efisiensi lahan, serta potensi ekonomi sirkular, sawit dinilai memiliki keunggulan strategis dalam sistem pangan dan energi global.
Melalui forum akademik seperti ini, diharapkan kampus dapat menjadi pelopor narasi berbasis fakta, sekaligus mendukung penguatan tata kelola sawit berkelanjutan di Indonesia.
Universitas Brawijaya Sawit Lebih Efisien dari Kedelai dan Bunga Matahari Begitu Faktanya
Diskusi pembaca untuk berita ini