Kedelai

Sorotan terbaru dari Tag # Kedelai

Pelindo Multi Terminal Perluas Dampak Ekonomi Lokal lewat Program UMKM Kedelai Nasional
Nasional
Rabu, 04 Maret 2026 | 17:10 WIB

Pelindo Multi Terminal Perluas Dampak Ekonomi Lokal lewat Program UMKM Kedelai

Surabaya, katakabar.com - PT Pelindo Multi Terminal (SPMT), subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) bidang operasional terminal nonpetikemas, terus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekitar Terminal Teluk Lamong melalui program pembinaan UMKM pengolahan kedelai. Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan bersama FKS Group ini sebelumnya telah mendampingi kelompok masyarakat di wilayah Tambak Sarioso, Tambak Osowilangon, Romokalisari, dan Karangkiring. Melalui pelatihan pembuatan tempe dan produk turunan kedelai, penguatan manajemen usaha, hingga dukungan pemasaran, kelompok binaan berhasil mengembangkan usaha rumahan yang menambah pendapatan keluarga. SVP Sekretaris Perusahaan Pelindo Multi Terminal, Finan Syaifullah, menyampaikan program ini dirancang berbasis keberlanjutan dan dampak nyata bagi masyarakat. “Kami ingin UMKM binaan tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga berkembang dan naik kelas. Karena itu, pendampingan dilakukan secara terstruktur, termasuk penguatan kualitas produk dan akses pasar,” ujarnya. Keberhasilan tahap pertama mendorong Pelindo Multi Terminal dan FKS Group melanjutkan Program Kolaborasi UMKM Pengolahan Kedelai Tahap II pada tahun ini. Program lanjutan telah dimulai dengan rangkaian sosialisasi di Surabaya dan Gresik yang diikuti sekitar 200 peserta yang dilaksanakan pada Februari lalu, mencakup pelaku usaha dan calon binaan baru. "Pada tahap kedua ini, kami memperkuat model pembinaan dengan menyiapkan UMKM binaan yang sukses sebagai tenaga pelatih (trainer) bagi peserta baru. Pendekatan ini diharapkan menciptakan efek berganda (multiplier effect) serta memperluas dampak ekonomi di sekitar wilayah operasional," terang Finan. Selain sosialisasi, kegiatan juga meliputi kunjungan lapangan dan pendampingan intensif untuk memastikan peningkatan kualitas produksi, inovasi produk turunan seperti tempe, susu kedelai, tempe mendoan, dan keripik tempe, serta penguatan tata kelola usaha. Finan menegaskan inovasi sosial menjadi inti program TJSL perusahaan. “Kami ingin memastikan bahwa kehadiran Pelindo Multi Terminal membawa manfaat sosial yang inklusif. Program ini menunjukkan bagaimana pendekatan ekonomi sirkular mampu memperkuat pendapatan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelas Finan. Ditegaskan Finan, program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung prinsip Envireomental, Social, and Governance (ESG) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Desi, salah satu pelaku UMKM kedelai yang telah berhasil menambahkan kunci keberhasilan mereka tidak hanya terletak pada semangat, tetapi juga pada dukungan dari Pelindo Multi Terminal dan FKS berupa pendampingan intensif. "Proses trial and error yang dibimbing oleh tenaga ahli serta konsultasi secara rutin dengan pendamping sangat membantu, terutama saat mereka menghadapi keterbatasan dalam berinovasi," cerita Desi. Melalui kolaborasi berkelanjutan ini, Pelindo Multi Terminal berharap semakin banyak UMKM tempe di Teluk Lamong yang mandiri, produktif, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekitar pelabuhan.

Universitas Brawijaya: Sawit Lebih Efisien dari Kedelai dan Bunga Matahari Begitu Faktanya Sawit
Sawit
Minggu, 22 Februari 2026 | 22:10 WIB

Universitas Brawijaya: Sawit Lebih Efisien dari Kedelai dan Bunga Matahari Begitu Faktanya

Malang, katakabar.com - Industri kelapa sawit terus menerus jadi sorotan pada forum akademik. Lihat, diskusi ilmiah usung tema 'Sawit di Mata Kampus: Perspektif Ilmiah & Komparatif', pakar dari Universitas Brawijaya (UB) menjabarkan fakta penting kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak nabati paling efisien di dunia, bahkan melampaui kedelai dan bunga matahari. Kegiatan yang digelar merupakan rangkaian Sawit Academy ini diinisiasi Hai Sawit Indonesia dan mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Forum tersebut menghadirkan Prof. Dr. Ir. Susinggih Wijana, MS dari Fakultas Teknologi Pertanian UB sebagai pembicara utama. Prof. Susinggih menekankan sawit harus dipandang secara komprehensif dan berbasis data ilmiah. Ia menilai perdebatan global mengenai sawit sering kali tidak menghadirkan perbandingan objektif dengan komoditas minyak nabati lain. “Sawit merupakan tanaman penghasil minyak paling efisien di dunia. Ini bukan hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga efisiensi lahan dan efisiensi industri,” jelasnya, Sabtu (21/2). Menurutnya, dari sisi produktivitas, kelapa sawit mampu menghasilkan minyak jauh lebih tinggi per hektare dibandingkan minyak kedelai (soybean oil) maupun minyak bunga matahari (sunflower oil). Artinya, untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global, sawit membutuhkan luas lahan yang lebih kecil dibandingkan dua komoditas tersebut. Efisiensi lahan ini menjadi poin penting dalam diskursus keberlanjutan. Dengan produktivitas tinggi, tekanan terhadap pembukaan lahan baru secara teoritis dapat ditekan jika tata kelola dilakukan dengan benar. Prof. Susinggih menegaskan pendekatan berbasis efisiensi justru harus menjadi bagian dari narasi keberlanjutan sawit Indonesia. Selain efisiensi lahan, ia menyoroti efisiensi industri sawit dari hulu ke hilir. Industri kelapa sawit memiliki rantai produksi yang terintegrasi, mulai dari perkebunan, pengolahan crude palm oil (CPO), hingga berbagai produk turunan seperti pangan, kosmetik, dan bioenergi. “Jika kita melihat dari perspektif sistem produksi global, sawit sangat kompetitif. Tidak hanya menghasilkan minyak dalam jumlah besar, tetapi juga memiliki diversifikasi produk yang luas,” bebernya. Lalu, Prof. Susinggih mengaitkan industri sawit dengan konsep ekonomi sirkular. Dalam pendekatan ini, limbah produksi tidak dipandang sebagai sisa yang terbuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Tandan kosong, serat, hingga limbah cair dapat diolah menjadi pupuk organik, energi biomassa, bahkan bahan baku industri lainnya. Pendekatan ekonomi sirkular dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menekan dampak lingkungan. Dengan pengelolaan yang tepat, industri sawit tidak hanya menjadi sektor penghasil devisa, tetapi juga bagian dari solusi transisi menuju sistem produksi yang lebih berkelanjutan. Forum Sawit Academy di UB juga menegaskan peran kampus dalam membentuk perspektif ilmiah terhadap komoditas strategis nasional. Perguruan tinggi dinilai memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kajian objektif dan berbasis riset, terutama di tengah derasnya opini global yang sering kali tidak sepenuhnya mempertimbangkan data komparatif. Menurut Prof. Susinggih, kampus harus menjadi ruang diskusi terbuka yang mampu menguji berbagai klaim secara akademik. Dengan pendekatan ilmiah, isu sawit dapat dilihat secara proporsional, tidak hanya dari satu sudut pandang. Diskusi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat literasi publik mengenai efisiensi kelapa sawit dibandingkan kedelai dan bunga matahari. Dengan produktivitas tinggi, efisiensi lahan, serta potensi ekonomi sirkular, sawit dinilai memiliki keunggulan strategis dalam sistem pangan dan energi global. Melalui forum akademik seperti ini, diharapkan kampus dapat menjadi pelopor narasi berbasis fakta, sekaligus mendukung penguatan tata kelola sawit berkelanjutan di Indonesia.