Gigih berarti tetap berjuang ketika menghadapi kesulitan maupun kegagalan. 

Sementara itu, berempati berarti mampu memahami kesulitan orang lain dan tidak berpaling ketika sesama membutuhkan pertolongan.

“Patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan maknanya. Kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arahnya. Dan kemajuan tanpa kemanusiaan bukanlah kemajuan yang sesungguhnya,” demikian salah satu pesan dalam pidato Menpora RI, Erick Thohir.

Pesan itu menempatkan kepedulian sebagai bagian penting dari semangat kebangsaan. Pemuda tidak hanya diharapkan mampu meraih keberhasilan pribadi, tetapi juga berkontribusi bagi masyarakat dan bersedia membantu mereka yang menghadapi kesulitan.

Menpora juga mengajak generasi muda berani bermimpi, bekerja keras, serta siap memimpin tanpa kehilangan kesediaan untuk melayani. 

Ilmu pengetahuan, karya, dan pengorbanan diharapkan menjadi wujud konkret kecintaan kepada Indonesia.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Toba diikuti aparatur sipil negara (ASN), mahasiswa, organisasi kepemudaan, TNI-Polri, dan Pramuka. Sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut hadir, di antaranya Ketua DPRD Toba Franshendrik Tambunan, Wakapolres Toba, Wakil Ketua Pengadilan Negeri Balige, Danramil Balige, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Toba, serta Dansubdenpom Balige.

Usai upacara, para peserta mengikuti sesi foto bersama. Namun, pesan persatuan dalam Sumpah Pemuda pada akhirnya perlu diterjemahkan lebih jauh melalui perilaku sehari-hari: bekerja dengan tanggung jawab, menghargai perbedaan, dan menunjukkan kepedulian kepada sesama.*