Ia juga membandingkan kepemimpinan gereja dengan pemerintahan. Pemerintah memiliki perangkat aturan untuk mengatur kehidupan masyarakat, sedangkan gereja tidak dapat mengandalkan mekanisme pemaksaan agar jemaat tetap setia.
Karena itu, menurut Audi, hubungan antara pemimpin gereja dan jemaat perlu dirawat melalui perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan.
Selain menjadi teladan, pemimpin gereja juga dituntut menghadirkan pelayanan yang relevan dengan kebutuhan umat.
Pesan serupa disampaikan Ketua Badan Kerja Sama Antar Gereja (BKAG) Kabupaten Toba, Pdt. Marganda Lubis.
Ia mengingatkan para pemimpin dan gembala gereja agar tidak terjebak dalam kesombongan, melainkan mengedepankan kerendahan hati dan meneladani Kristus.
“Jangan ada yang menyombongkan diri. Mari kita tundukkan hati kita yang melekat pada Kristus untuk keteladanan. Bukan hanya pintar berkhotbah, tetapi masyarakat harus melihat kerendahan hati kita,” ujarnya.
Ketua panitia, Pdt. Mangaranap Sinaga, mengatakan keteladanan hamba Tuhan semestinya tidak berhenti di mimbar.
Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan dalam interaksi sehari-hari dan keterlibatan nyata di tengah masyarakat.
Ia berharap para pemimpin gereja dapat membangun kerja sama untuk mendukung kemajuan Kabupaten Toba.
Seminar tersebut menghadirkan Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (Bamagnas) Sumatera Utara, Pdt. Dr. Ruben Yonatan Silalahi, sebagai pembicara. Pesertanya merupakan pemimpin gereja dari berbagai denominasi.
Melalui seminar ini, kepemimpinan gereja diingatkan kembali pada tanggung jawab mendasar: membangun kepercayaan melalui keteladanan dan menghadirkan pelayanan yang dirasakan manfaatnya oleh jemaat maupun masyarakat luas.*
Wabup Toba Keteladanan Pemimpin Gereja Jadi Kunci Merawat Jemaat
Diskusi pembaca untuk berita ini