Awal Pekan

Sorotan terbaru dari Tag # Awal Pekan

Emas Lesu di Awal Pekan, Kombinasi Tekanan The Fed dan Dolar Faktor Utama Internasional
Internasional
Kamis, 06 November 2025 | 13:37 WIB

Emas Lesu di Awal Pekan, Kombinasi Tekanan The Fed dan Dolar Faktor Utama

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) memulai perdagangan Selasa (4/11) dengan langkah hati-hati. Logam mulia ini sempat bergerak fluktuatif di kisaran $3.962 hingga $4.050 per troy ounce sebelum akhirnya stabil di sekitar level psikologis $4.010. Para pelaku pasar tampak menahan diri menjelang serangkaian data ekonomi penting Amerika Serikat (AS) serta pernyataan dari pejabat Federal Reserve (The Fed) yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya. Menurut Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, tren jangka pendek emas masih cenderung melemah. Berdasarkan sinyal teknikal dari pola candlestick dan indikator Moving Average, tekanan bearish terlihat semakin kuat. “Selama harga belum mampu menembus area $4.026, peluang koreksi ke bawah masih terbuka. Jika tekanan jual berlanjut, target berikutnya berada di area $3.959,” jelas Andy. Ia menyatakan peluang koreksi naik tetap ada apabila harga gagal menembus support tersebut. “Apabila emas mampu bertahan di atas $3.980 dan menembus kembali level $4.026, ada peluang bagi rebound teknikal menuju $4.060 dalam jangka pendek,” ujarnya. Dari sisi fundamental, harga emas mendapat tekanan tambahan dari ekspektasi kebijakan The Fed yang masih condong hawkish. Setelah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pekan lalu, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan lanjutan belum tentu terjadi pada pertemuan Desember mendatang. Pernyataan ini mendorong penguatan Dolar AS (USD) dan menekan harga logam mulia yang berdenominasi dolar. Selain itu, komentar dari pejabat The Fed, Michelle Bowman, yang dijadwalkan berbicara hari ini, menjadi fokus pasar. Setiap isyarat mengenai kebijakan moneter akan dicermati ketat, mengingat pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed mungkin kembali menurunkan suku bunga pada akhir tahun. Di sisi lain, data ekonomi terbaru menunjukkan tanda-tanda pendinginan di sektor manufaktur AS. Laporan dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa PMI Manufaktur turun menjadi 48,7 pada Oktober, lebih rendah dari perkiraan 49,5 dan tetap berada di zona kontraksi. Data ini bisa menjadi penyeimbang bagi The Fed, karena perlambatan aktivitas industri dapat menekan Dolar AS dan memberi ruang bagi harga emas untuk menguat kembali. Sentimen global pun ikut memengaruhi arah emas. Kabar positif dari hubungan perdagangan AS–Tiongkok, setelah kedua negara sepakat menunda penerapan tarif tambahan dan membuka kembali kerja sama ekspor logam tanah jarang, sempat memangkas permintaan aset safe haven seperti emas. Tetapi, pelaku pasar masih berhati-hati menilai sejauh mana kesepakatan ini dapat bertahan di tengah ketegangan geopolitik yang masih tinggi. Secara keseluruhan, emas masih bergerak dalam fase konsolidasi di sekitar level $4.000 dengan bias negatif yang tipis. Para investor kini menunggu rilis data ketenagakerjaan ADP pada Rabu dan laporan Nonfarm Payroll (NFP) pada akhir pekan sebagai petunjuk arah yang lebih jelas terhadap kebijakan moneter AS ke depan.

Emas Masih Tertekan di Awal Pekan, Bisa Berisiko Melemah Internasional
Internasional
Selasa, 01 Juli 2025 | 07:24 WIB

Emas Masih Tertekan di Awal Pekan, Bisa Berisiko Melemah

Jakarta, katakabar.com - Harga emas atau XAU/USD, lagi alami penurunan di pembukaan perdagangan sesi Asia, Senin (30/6). Logam mulia ini merosot hingga ke area sekitar $3.265 per troy ounce, mendekati titik terendah dalam sebulan terakhir. Tekanan ini terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko, sementara minat terhadap aset safe-haven seperti emas mulai memudar. Menurut Andy Nugraha, Analis dari Dupoin Futures Indonesia, situasi pasar global saat ini memang kurang mendukung pergerakan emas. "Beberapa faktor eksternal seperti meredanya ketegangan geopolitik dan tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi penyebab utama berkurangnya daya tarik emas di mata investor," jelas Andy. Salah satu pemicu utama membaiknya sentimen pasar adalah perjanjian dagang yang diumumkan pekan lalu, di mana AS dan China sepakat mempercepat pengiriman tanah jarang ke Amerika. Kabar ini disambut positif oleh pelaku pasar global, mendorong peralihan investasi dari aset aman seperti emas ke instrumen yang lebih berisiko seperti saham. Selain itu, tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel juga turut menenangkan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Dari sudut pandang teknikal, Andy paparkan formasi candlestick harian dan indikator Moving Average masih menunjukkan kecenderungan bearish yang cukup kuat untuk XAU/USD. "Selama harga tetap berada di bawah level psikologis penting di $3.300 per troy ounce, potensi tekanan jual masih sangat besar," terangnya.

Awal Pekan, Wall Street Dibuka Lemah Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 11 Februari 2020 | 11:12 WIB

Awal Pekan, Wall Street Dibuka Lemah

Indeks saham utama Amerika Serikat dibuka lebih rendah pada hari Senin. Hal itu juga tak lepas dari terseretnya kerugian Apple, karena analis memperkirakan adanya penurunan penjualan smartphone di triwulanan di Cina karena penutupan toko ritel dan suspensi produksi karena wabah coronavirus.