Pasir Pengaraian, katakabar.com - Sudah empat hari terakhir hingga Selasa (16/7) pagi, Sungai Danto dan Sungai Ngaso tampak menghitam, dan mengeluarkan bau tak sedap dari limbah industri kelapa sawit. Lantaran tercemar penghuni sungai, seperti ikan dan ekosistem lainnya bak hidup segan mati tak mau.

"Sungai Danto dan Sungai Ngaso ini tercemar dari empat hari lalu, pagi ini air sungai itu masih menghitam pekat. Ikan mati disebabkan pencemaran limbah pabrik sawit itu," kata Taupik, Warga Desa Ujungbatu Timur, Kecamatan Ujungbatu, Kabupaten Rokan Hulu, Selasa (7/16).

Di akhir pekan lalu, pada Sabtu petang  tak asing lagi bagi masyarakat desa yang tinggal di bantaran sungai Sei Danto dan Sungai Ngaso membelah dua desa, satu kelurahan, yakni Sukadamai, Ujung Batu Timur, dan Ngaso, serta Kelurahan Ujung Batu mengutip ikan yang sudah bergelimpangan mabuk kepayang di atas permukaan sungai.

Tak hanya di hari itu, hari selanjutnya kejadian serupa terjadi lagi, kali ini ikan kecil-kecil tidak dikutip warga lantaran sungai telah berubah warna, dan bau busuk begitu menyengat menusuk hidung bagi yang melintas di dekat bantaran sungai itu.

Parahnya lagi, pada Selasa pagi air sungai sudah seperti oli bekas kenderaan, tak tampak lagi kehidupan hewan sungai yang ada di dalamnya.

"Sungai Danto dan Sungai Ngaso ini tercemar sejak empat hari lalu, pagi ini air sungai itu masih menghitam pekat. Ribuan ikan mati akibat pencemaran limbah pabrik sawit itu," ujar Taupik.

Kepala Dusun Sei Danto, Desa Ujungbatu Timur, Roni menyatakan, air Sungai Danto dan Sungai Ngaso tercemar limbah Pabrik Kelapa Sawit atau PKS yang berada di hulu sungai. Bahkan dia menyebut, sungai ini menjadi sasaran limbah PKS hampir setiap tahun.

"Benar, kedua sungai ini sudah tercemar limbah sawit sejak empat hari lalu. Kami sudah turun ke lapangan mencek ke hulu sungai, memang limbah PKS itu sudah memenuhi kedua aliran sungai tersebut. Kita minta tindakan tegas dari DLH Rohul, siapa yang bertanggungjawab atas pencemaran ini," tegas Roni.

Penasaran dengan asal limbah sawit, kami bersama Babinsa Ujung Batu Timur, Serda Musriadi mencoba susuri aliran menuju PT Karya Cipta Nirvana atau KCN di Lubuk Bendahara. Awal masuk ke parit kecil dengan kolam limbah PKS PT KCN kami menemukan air hitam pekat yang sudah menggumpal di saluran parit.

"Kami sudah susuri aliran parit yang hitam tadi melewati kebun-kebun sawit warga. Hampir dua jam kami susuri aliran parit itu, dan kami menemukan air hitam pekat berbau busuk seperti limbah industri sawit mengalir ke sungai tembus ke Sungai Danto," ceritanya.

Humas PKS PT RSI, Sahrial Siregar saat dikonfirmasi menjelaskan, menejemen PT RSI merasa tidak melakukan pencemaran sungai yang disebabkan limbah PKS. Menurutnya, dari tinjauan lapangan, ke dua sungai tercemar limbah PKS berasal dari hulu sungai.

"Beberapa masyarakat sudah turun kelapangan termasuk pemerintahan desa Ujungbatu Timur, dari tinjauan itu berasal dari hulu sungai. Jadi, kami merasa tidak ada melakukan pencemaran sungai yang diakibatkan limbah PKS PT RSI, coba ceklah ke lapangan, tanyakan sama pihak yang sudah turun itu," ulas Sahrial Siregar kepada katakabar.com, Minggu kemarin.

Sedang, Humas PT Karya Cipta Nirvana atau KCN, Toni kesalkan adanya tudingan terhadap perusahaan seolah yang melakukan pencemaran kedua sungai itu PT KCN.

Saat kunjungan DLH Rohul ke PT KC, sebut Toni, pada Jumat (12/7) lalu tidak menemukan masalah, baik itu dari kolam-kolam limbah maupun LA mereka.

"Makanya mustahil rasanya itu yang melakukan PT KCN, padahal baru saja pihak DLH Rohul turun kemarin. Gak mungkin kami langsung kotori kunjungan itu kan. Kalau kita lihat, setiap kali sungai itu tercemar yang tertuduh selalu PKS PT KCN," bebernya.

Pihak PT KCN, ucap Toni, siap adu data soal siapa salah sehingga sebabkan sungai ngaso itu tercemar.

"Jangan seolah jika sungai tercemar itu ulah PT KCN yang buat, sementara tidak menelusuri yang lain begitukan! Ini selalu saja KCN yang tersudutkan," imbuhnya.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rokan Hulu terkesan menutupi kasus pencemaran ini. Bahkan puluhan masyarakat Desa Ujungbatu, menyebut DLH Rokan Hulj tidak berani melakukan tindakan tegas atas pencemaran sungai tersebut.

"Apa coba tindakan yang dibuat DLH Rokan Hulu, setiap kali sungai itu tercemar diam aja, tidak ada tindakan. Kalaupun ada sepertinya hanya sebatas formalitas saja. Itu DLH Rokan Hulu pengecut tidak berani membuat tindakan tegas terhadap perusahaan PKS nakal. Ini saling lempar bola ke dua perusahaan, yang satu ngomong bukan RSI, KCN bilang bukan dia," sahut Herman dan sejumlah masyarakat desa Ujungbatu Timur dengan kesal.

Sekertaris DLH Rohul, Mujayyinul Arifin menuturkan, pihaknya segera turun untuk menindaklanjuti dugaan pencemaran sungai tersebut.

"Terima kasih infonya. Tim DLH segera turun ke lapangan," sebutnya.