Sejumlah pejabat daerah, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat turut menghadiri kegiatan tersebut.
Hadir di antaranya Wakil Bupati Toba Audi Murphy Sitorus, Ketua DPRD Toba Franshendrik Tambunan, Bupati Toba periode 2000-2005 Sahala Tampubolon, Kapolres Toba AKBP Vinsensius Jimmy Parapaga, serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara dan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT).
Marpangir merupakan tradisi perawatan diri menggunakan air bersih atau aek natio yang dicampur perasan unte pangir, yakni jeruk purut.
Dalam pemaknaan budaya yang disampaikan penyelenggara, tradisi ini juga melambangkan penyucian diri dan pengingat agar manusia menjaga hubungan yang selaras dengan alam serta sesama.
Sebelum digelarnya kegiatan marpangir tersebut, saat dikonfirmasi katakabar.com, Kamis (22/10/2026), Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba, Rikardo Hutajulu, mengatakan Marpangir perlu dipahami sebagai warisan leluhur, bukan semata-mata dikaitkan dengan hal mistis.
“Marpangir itu bukan mistis,” ujarnya saat menjelaskan tujuan penyelenggaraan kegiatan.
Marpangir Upaya Pemkab Toba Lestarikan Tradisi dan Tarik Wisatawan
Diskusi pembaca untuk berita ini