Menurut Rikardo, tradisi tersebut juga mengandung pesan moral, termasuk ajakan untuk membuang rasa dengki dan iri hati.

Karena itu, penyelenggaraan Marpangir dirancang melalui pendekatan seni agar masyarakat dapat mengenal tradisi ini sekaligus memahami nilai budaya yang menyertainya.

Dalam prosesi yang disiapkan panitia, sekitar 150 buah jeruk purut diperas dan ditempatkan dalam wadah untuk rangkaian kegiatan. 

Prosesi tersebut dikemas dengan tarian yang menggambarkan penghormatan kepada Mula Jadi Nabolon, yang dalam kepercayaan Batak dimaknai sebagai Yang Maha Kuasa.

Rangkaian acara juga menampilkan Gondang Sipitu Lili, Marhata Adat, Tortor Pangurason, Tortor Rindu Matogu, dan pertunjukan budaya lainnya. 

Setelah prosesi Marpangir, kegiatan dilanjutkan dengan marnonang untuk membahas pelestarian budaya Batak Toba.

Di acara marpangir tersebut, Wakil Bupati Toba Audi Murphy Sitorus mengajak masyarakat menghormati perbedaan pandangan terhadap tradisi.

Ia juga mendorong warga menyelaraskan upaya pengembangan pariwisata dengan pemeliharaan lingkungan dan keindahan kawasan Pakkodian.

Menurut Audi, penggalian kembali warisan budaya dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Namun, pengembangan tersebut perlu diikuti keterlibatan warga dan upaya menjaga kelestarian kawasan Danau Toba.

Marpangir diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi ruang pembelajaran budaya bagi generasi berikutnya.

Keberlanjutan kegiatan ini akan bergantung pada keterlibatan masyarakat, penghormatan terhadap perbedaan, dan kemampuan menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi serta lingkungan.*