Indragiri Hilir, katakabar.com - Banjir kiriman dari 'Korporasi Gurita' kembali melanda dan merendam sebagian wilayah di Desa Lahang Hulu, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir, sebabkan aktivitas warga setempat menjadi terganggu.

Dari awal puasa ramadhan 1446 hijiriah atau 1 Maret 2025 hingga memasuki pada puasa yang ke 20, banjir tidak kunjung surut hingga berdampak pada aktivitas perkebunan.

Masyarakat setempat terus mengeluh kepada Supeno selaku Kepala Desa Lahang Hulu.

Menyikapi persoalan banjir yang merendam di wilayahnya, Supeno telah meminta kepada anggota legislatif untuk dilakukan audiensi bersama pihak terkait. Kepada Pemerintah Daerah atau Pemda, ia meminta agar ada solusi konkrit seperti yang diharapkan masyarakat.

Banjir yang merendam hingga dua pekan itu diyakini karena tingginya curah hujan hingga akhirnya air meluap ke pemukiman warga. Tapi, sebagian masyarakat ada yang menduga banjir tersebut diakibatkan dari sumber lain, yakni 2 perusahaan besar di ujung Desa Lahang Hulu.

Dugaan itupun tidak dibiarkan begitu saja, dalam rapat dengar pendapat beberapa waktu lalu, terungkap debit air meningkat akibat kiriman dari 2 perusahaan besar, yakni PT Guntung Idaman Nusantara (GIN) dan PT Setia Agrindo Lestari (SAL).

Kepala Desa Lahang Hulu, saat dihubungi wartawan membenarkan bahwa banjir yang terjadi merupakan kiriman air dari perusahaan PT GIN dan PT SAL. Sehingga luapan air tidak terkendali lagi dan masuk kedalam pemukiman warga.

"Kami menduga perusahaan hanya membuka satu tanggul saja, arahnya hanya ke Desa Lahang Hulu. Padahal, Desa Belantaraya dan Desa Teluk Merbau bisa dialiri air oleh perusahaan, tapi nyatanya hanya ke Lahang Hulu saja," cerita Kades Lahang Hulu.

Disisi lain, Anggota Legislatif dari Dapil 2, Partai Demokrat, Yunanto Along, menyoroti belum ada langkah kongkrit dari pihak perusahaan untuk bertanggungjawab atas persoalan tersebut.

"Saya tidak cari panggung. Mediasi dengan perusahaan sudah 5 kali tapi jawaban perusahaan selalu seperti itu. Lanjut ke pimpinan ke pimpinan tapi hasilnya NOL," tegas Along, saat rapat dengar pendapat (RDP).

Along meyebutkan mediasi terakhir sudah dilakukan dengan perusahaan 2,5 tahun yang lalu.

Putra daerah asal Gaung yang duduk di DPRD Indragiri Hilir itupun geram dan menanyakan harus sampai kapan masyarakat dibuat menunggu tanggungjawab perusahaan.

Along menegaskan, PT GIN dengan luas lahan HGU 150 hektar itu mestinya profesional mengelola pengaliran air.

"Perusahaan sebesar itu mestinya paham betul dan profesional dalam mengelola pengaliran air," tegasnya.

Sedang, Syaiful mantan Sekretaris Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Kecamatan Gaung (HPPMKG) Tembilahan pada masanya, turut kecewa mendengar kabar dibukanya pintu air hanya ke Desa Lahang Hulu.

"Harusnya pengaliran air dibagi ke lain juga, agar air dari perusahaan tidak menumpuk di Desa Lahang Hulu saja. Kalau seperti ini tentulah masyarakat tidak bisa beraktivitas seperti biasanya lagi, apalagi sekarang bulan Ramdhan dan mau mendekati lebaran Idul Fitri, kami tunggu solusi konkritnya," jelasnya.

Syaiful meminta agar perusahaan segera bertanggungjawab.

"Tidak cukup dengan bantuan sembako, jika tidak mampu memberikan solusi yang konkrit bagus cabut saja izin perusahaannya, Pemda Indragiri Hilir kalau tidak peduli, lebih baik pejabat terkaitnya mengundurkan diri saja," sebutnya.