Jakarta, katakabar.com -  PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna/BEI: HMSP) hari ini mengumumkan hasil kinerja tahun buku 2025 dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), dengan mencatatkan volume penjualan sebanyak 79,4 miliar batang, serta berhasil mempertahankan posisi sebagai pemimpin di industri hasil tembakau Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 30,7 persen.

Seiring dengan capaian tersebut, Sampoerna mencatatkan kinerja peningkatan laba bruto  sebesar 11,2 persen menjadi Rp20,6 triliun, yang didukung oleh penerapan strategi penetapan harga di tengah kondisi pasar yang menantang.

Laba bersih tercatat relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp6,6 triliun, mencerminkan kekuatan fundamental bisnis Perseroan serta konsistensi dalam menjalankan fokus strategi.

“Strategi kami berfokus pada inovasi dan penguatan portofolio produk yang berorientasi pada konsumen dewasa untuk mempertahankan kepemimpinan di seluruh segmen di tengah dinamika industri yang terus berkembang. Kami juga terus menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan memperkuat hilirisasi di industri tembakau serta berkontribusi pada penciptaan nilai di seluruh rantai pasok,” ujar Presiden Direktur Sampoerna Ivan Cahyadi pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025 di Jakarta, Senin (18/5) lalu.

Perekonomian Indonesia tetap menunjukkan resiliensi pada 2025. Tetapi, Industri Hasil Tembakau (IHT) terus menghadapi tantangan seiring tekanan daya beli yang berkelanjutan, berlanjutnya tren downtrading ke produk dengan harga lebih rendah, dan meningkatnya peredaran rokok ilegal. Kondisi ini tecermin dari kinerja IHT Nasional yang mengalami penurunan penjualan sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dampak terbesar dirasakan pada Rokok Golongan I, yakni penyerap tenaga kerja terbesar sekaligus kontributor utama terhadap penerimaan cukai negara. Pangsa pasar Rokok Golongan I telah tergerus secara signifikan, turun sekitar 22 poin dalam enam tahun terakhir dari 80% pada tahun 2019 dan sudah mendekati 50 persen pada Kuartal I 2026. Hal ini turut tecermin pada penurunan volume penjualan Perseroan sebesar 8,7 persen pada Kuartal I 2026, dengan penurunan volume terbesar pada kategori Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang merupakan segmen padat karya

Kami mengapresiasi keputusan Pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai pada 2026 sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas industri tembakau. Kebijakan ini, yang didukung oleh upaya pemerintah dalam pemberantasan rokok ilegal, memberi ruang pelaku industri legal untuk dapat terus berkontribusi terhadap penerimaan negara dan penciptaan lapangan kerja. Namun, penurunan pangsa pasar di  segmen Rokok Golongan 1 yang terus berlanjut dan perlindungan segmen SKT yang padat karya, perlu mendapatkan perhatian dari pemangku kepentingan. Dengan iklim usaha yang lebih kondusif, kami optimis dapat terus memperkuat ekosistem ekonomi nasional secara berkelanjutan,” ujar Ivan.

Dukungan Sampoerna pada SKT Padat Karya dan Perekonas

Sampoerna secara konsisten memperkuat portofolio SKT guna menjaga mata pencaharian sekitar 70 ribu tenaga pelinting yang sebagian besar adalah perempuan dan bekerja di enam fasilitas produksi yang dimiliki perseroan serta 43 fasilitas produksi yang dimiliki, dan dioperasikan oleh Koperasi dan Pengusaha Daerah yang tersebar di 35 kabupaten dan kota di pulau Jawa.

Urgensi untuk menjaga keberlangsungan segmen ini semakin nyata mengingat hasil studi Universitas Airlangga yang mencatat efek ekonomi berganda hingga 3,8 kali lipat. Artinya, setiap Rp1.000 aktivitas ekonomi yang dihasilkan fasilitas produksi SKT berpotensi menciptakan perputaran ekonomi sebesar Rp3.800 di masyarakat sekitar.