Pasir Pengaraian, katakabar.com - Petang itu Selasa (11/2) arloji tangan menunjukkan pukul 18.27 WIB, Evriani Br Sagala 12 tahun ditemukan tewas tenggelam di parit gajah milik PTPN IV Regional III Kebun Sei Rokan di Desa Tandun Barat, Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

Nasibnya begitu tragis, sangat memilukan bagi keluarga korban Erlon Sagala 43 tahun ayah kandung korban merasa sangat kehilangan seorang putri sekaligus anak ke tiganya itu. Apalagi, Evriani yang jadi korban tenggelam di parit milik perusahaan plat merah itu dianggapnya sebagai anak yang patuh dan sangat perhatian dengannya.

"Kami keluarga yang ditinggal sangat kehilangan betul, termasuk saya ayahnya sangat terpukul atas kejadian ini. Dari lima bersaudara, anak kami ini termasuk anaknya paling perhatian sama orangtuanya termasuk saya," ujar Erlon kepada katakabar.com, Jumat (14/2).

Kejadiannya sangat cepat, cerita Erlon, saya tidak sangka anak saya pergi meninggalkan kami selamanya. Soalnya, hari itu saat kejadian saya tidak di rumah, kebetulan saya sedang mengurus abangnya Tahan Sagala 18 tahun yang ditahan di Polsek Kota Lama lantaran dituduh PT IV Regional III Kebun Sei Rokan mencuri sawit milik PTPN IV Regional III Kebun Sei Rokan tersebut. Ini yang membuat saya semakin sulit," jelasnya.

Dari pengamatan katakabar.com di lokasi kejadian yang tidak jauh dari tempat permukiman warga itu, lebih kurang dari 50 meter. Terdapat galian besar sisakan genangan air yang cukup hingga menggiurkan anak-anak untuk mandi-mandi dilokasi. Tidak ada larangan maupun portal dibikin PTPN IV Regional III Kebun Sei Rokan di sana.

Dari kronologis kejadian, Evriani Sagala bersama adiknya Kristian Sagala 9 tahun, serta tiga temannya Risana Br Pakpahan 11 tahun, Kaleb Arman Siregar 10 tahun, dan Gilbet Munte 12 tahun pergi bermain, dan mandi-mandi di genangan air di galian parit gajah tersebut. Lokasi tersebut berada tidak jauh persis diperbatasan lahan PTPN IV dengan permukiman warga.

Tiba di sana, mereka melompat ke dalam air secara bergantian. Tapi, tak lama setelah melompat, Evriani tiba-tiba tenggelam dan tidak muncul kembali ke permukaan. Karena mengira Evriani sudah pulang lebih dulu, teman-temannya meninggalkan lokasi dan kembali ke rumah.

Setibanya di rumah, Kristian menyadari kakaknya tidak ada. Ia khawatir, segera memberi tahu Gilbet Munte. Lalu, bersama warga lain, termasuk Hendriko Sinaga, Jefri Sianturi, dan Iwan Pandiangan, bergegas ke lokasi untuk mencari Evriani. Pencarian dilakukan hingga akhirnya, sekitar pukul 18.27 WIB, korban ditemukan di dasar genangan air dalam kondisi tak bernyawa.

Dari kondisi ini, ayah korban Erlon Sagala sangat menyangkan pihak menejemen PTPN IV Regional III Kebun Sei Rokan melalui Asinten Umum (Asum) Gagah Siregar hanya memberikan amplop berisikan uang senilai Rp1 juta rupiah sebagai ucapan berbelasungkawa atas kematian putrinya di parit gajah yang merenggut nyawa anaknya itu.

"Menurut saya ini adalah penghinaan PTPN IV Regional III Kebun Sei Rokan terhadap kami. Gara-gara parit gajah mereka nyawa anak kami melayang, dan ironisnya mereka tak punya hati. Saya meminta kepada pihak terkait agar perusahaan itu disangsi tegas, terlebih kepada pemerintah dan tidak seenaknya membuat galian besar di permukiman warga tanpa mempertimbangkan resiko terhadap anak-anak dan tidak terulang dikemudian," tersngnya.

Hingga berita ini ditulis, menejemen PTPN IV Regional III Kebun Sei Rokan belum mau memberikan keterangan resmi kepada media ini. Lewat Asinten Umum (Asum) Gagah Siregar saat dihubungi via telepon seluler juga via pesan WhatsAppnya enggan menjawab pertanyaan wartawan yang dianggap atas kejadian itu akibat dari kelalaian pihak PTPN IV Regional III Kebun Sei Rokan. Sangat disayangkan, PTPN IV Regional III Kebun Sei Rokan tidak memikirkan dan tidak peduli keselamatan masyarakat diwilayah usahanya tersebut.