Pertanian
Sorotan terbaru dari Tag # Pertanian
Dorong Sektor Pertanian, Pemkab Samosir Bagikan 1,25 Juta Bibit Kopi ke Petani
Sebanyak 1,25 juta bibit kopi disalurkan kepada 245 kelompok tani di Samosir untuk pengembangan dan peremajaan kebun seluas 1.250 hektare.
Pemkab Toba Kaji Pemanfaatan Lahan Eks PTPN IV Sibosur untuk Kesejahteraan Warga
Pemkab Toba mengkaji permohonan pelepasan lahan eks PTPN IV Sibosur untuk pertanian, peternakan, dan agrowisata, dengan memperhatikan status lahan.
Bisnis Pertanian Mahasiswa Binus Bandung Kini Ekspansi ke 9 Kota di Indonesia
Bandung, katakabar.com - Bagi sebagian mahasiswa, masa kuliah menjadi waktu untuk mengejar prestasi akademik atau memperluas organisasi dan pertemanan. Tetapi, bagi sebagian lainnya, bangku perkuliahan juga menjadi tempat untuk mulai mewujudkan mimpi dan membangun sesuatu yang nyata.
Samosir Terima 51 Paket Alsintan, Bawang Putih Jadi Fokus Utama Pengembangan
Pemkab Samosir menyalurkan alsintan kepada 51 kelompok tani. Perluasan lahan bawang putih menjadi salah satu prioritas pemanfaatannya.
Samosir Targetkan 2.000 Hektare Lahan Bawang Putih dengan Dukungan Alsintan Modern
Samosir mendapat alokasi 1.180 hektare bawang putih pada 2027 dan membuka peluang perluasan hingga 2.000 hektare.
Mahasiswa KKN Universitas Riau Ikuti Penyuluhan Pertanian Tema Peningkatan Produktivitas Sawit di Sungai Lala
Sungai Lala, katakabar.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau ikuti Penyuluhan Pertanian usung tema 'Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit Melalui Identifikasi dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman pada Perkebunan Rakyat' di Aula Serbaguna Desa Pasir Bongkal, Kecamatan Sungai Lala, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Minggu (19/7) lalu. Kegiatan penyuluhan menghadirkan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KUKERTA Berdampak Universitas Riau di Kecamatan Sungai Lala, sebagai narasumber utama, yakni Irfandri, S.P., M.Si. Kegiatan ini menjadi wadah bagi masyarakat dan mahasiswa untuk memperdalam wawasan mengenai sektor pertanian, khususnya budidaya kelapa sawit yang merupakan komoditas unggulan masyarakat di Kecamatan Sungai Lala. Penyuluhan dihadiri seluruh mahasiswa KKN Universitas Riau yang ditempatkan di lingkungan Kecamatan Sungai Lala, termasuk mahasiswa KKN dari Desa Sungai Air Putih. Selain itu, kegiatan juga melibatkan perwakilan masyarakat dari beberapa desa, yakni Desa Pasir Bongkal, Desa Sungai Air Putih, Desa Kuala Lala, dan Desa Perkebunan Sungai Lala. Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan kelapa sawit memiliki peran strategis sebagai komoditas utama yang menopang perekonomian masyarakat di Kecamatan Sungai Lala. Lantaran itu, jelas Irfandri, peningkatan produktivitas perkebunan rakyat perlu didukung melalui penerapan teknik budidaya yang baik, termasuk kemampuan petani dalam mengidentifikasi dan mengendalikan berbagai organisme pengganggu tanaman (OPT) yang berpotensi menurunkan hasil panen. Materi penyuluhan mencakup pengenalan jenis-jenis organisme pengganggu tanaman pada kelapa sawit, gejala serangan yang ditimbulkan, serta langkah-langkah pengendalian yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Narasumber juga menekankan pentingnya pemantauan rutin di lapangan sebagai upaya deteksi dini sehingga serangan hama dan penyakit dapat dikendalikan sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang melibatkan mahasiswa KKN maupun peserta dari perwakilan desa yang merupakan petani sawit pula. Berbagai pengalaman dan permasalahan yang dihadapi petani dalam mengelola perkebunan kelapa sawit menjadi bahan diskusi bersama untuk memperoleh solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Melalui penyuluhan ini, diharapkan masyarakat yang berprofesi sebagai petani sawit dan mahasiswa KKN Universitas Riau memperoleh tambahan pengetahuan yang dapat diterapkan selama menjalankan program pengabdian kepada masyarakat. Di sisi lain, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya identifikasi dan pengendalian organisme pengganggu tanaman sebagai salah satu upaya meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Sungai Lala. Penyelenggaraan kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara Universitas Riau, mahasiswa KKN, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan sektor pertanian melalui penyebarluasan ilmu pengetahuan, serta penguatan kapasitas petani menuju perkebunan kelapa sawit yang lebih produktif, sehat, dan berkelanjutan.
Indera Agri Bawa Revolusi Pertanian Presisi Indonesia ke Asia Berlin 2025
Berlin, katakabar.com - Indera Agri, perusahaan startup teknologi pertanian (Agri-Tech) dari Indonesia, berhasil menarik perhatian global setelah terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia di ajang bergengsi Asia Berlin 2025 di Jerman. Kehadiran Indera Agri di panggung internasional ini menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan inovasi di sektor pertanian presisi. Ubah Pertanian dengan AI dan Sensor Pintar Indera Agri berfokus pada pengembangan solusi inovatif yang didorong oleh Kecerdasan Buatan (AI) dan sensor pintar untuk mendongkrak hasil panen secara signifikan. Di Berlin, Indera Agri pamerkan dua pilar teknologi andalannya: • Indera Agri Sensor: Teknologi sensor yang mampu menyediakan pemantauan kondisi lingkungan pertanian secara real-time. • Platform Manajemen Pertanian Berbasis AI: Platform ini mengolah data yang akurat untuk membantu petani mengambil keputusan yang lebih cerdas, sehingga meningkatkan efisiensi operasional dan optimalisasi hasil panen. Teknologi ini tidak hanya tentang peningkatan produktivitas, tetapi juga tentang menciptakan pendekatan yang lebih ramah lingkungan dan mendukung keberlanjutan jangka panjang di sektor pertanian. Dukungan Pemerintah dan Apresiasi Global Inovasi Indera Agri mendapat sorotan tinggi dari dalam dan luar negeri: - Validasi Pemerintah: Dalam pidato pembukaan, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memuji Indera Agri sebagai contoh nyata potensi besar sektor pertanian Indonesia dalam mengadopsi teknologi modern untuk mencapai produktivitas dan keberlanjutan. - Kemitraan Kunci: Indera Agri adalah salah satu delegasi yang didukung oleh inkubator seperti Habibie Innovation Incubator, bersama dengan GIZ Indonesia dan CAST Foundation. - Ketertarikan Jerman: Booth Indera Agri menjadi pusat perhatian, termasuk saat dialog dengan Barbel Kofler, Parliamentary State Secretary to the Federal Minister for Economic Cooperation and Development Jerman, yang secara khusus mengapresiasi peran teknologi Indonesia dalam mendukung sektor pertanian global. Visi untuk Masa Depan Pertanian yang Lebih Cerdas Bagoes Inderaja, Founder & CEO Indera Agri, menyampaikan visi perusahaannya. "Kami sangat bangga bisa berpartisipasi dalam Asia Berlin 2025 dan menunjukkan bagaimana teknologi pertanian presisi Indonesia dapat memberikan dampak yang signifikan. Teknologi ini dikembangkan dengan tujuan mulia: membantu para petani di Indonesia dan dunia mencapai hasil yang lebih optimal dengan pendekatan yang berkelanjutan. Kami berkomitmen untuk membuka jalan bagi masa depan pertanian yang lebih cerdas dan ramah lingkungan," jelasnya. Indera Agri, melalui solusi berbasis data dan layanan konsultasi agronomi teknis, bertekad mengoptimalkan potensi sektor pertanian Indonesia dan membuatnya mudah diakses oleh seluruh pelaku industri.
BU Dorong Inovasi Pertanian Lewat TDS: Wujud Komitmen Empowering Society dan Visi Binus 2035
Jakarta, katakabar.com - Di tengah tantangan global dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani, pemanfaatan teknologi menjadi kunci dalam menjawab isu produktivitas dan efisiensi di sektor pertanian. Salah satu inovasi yang kini berkembang pesat di berbagai negara adalah penggunaan drone sprayer teknologi penyemprotan otomatis yang mampu meningkatkan efektivitas, keamanan kerja petani, dan keberlanjutan lingkungan. Menjawab tantangan tersebut, dua dosen Binus University, Ir. Tota Pirdo Kasih, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM, dan Ir. Alfian Destha Joanda, S.T., M.T., IPM, mengambil inisiatif untuk mengembangkan, serta implementasikan teknologi mekanisasi pertanian menggunakan drone sprayer sebagai solusi nyata bagi petani di Indonesia. Inisiatif ini sejalan dengan visi Binus University sebagai “A world-class university, fostering and empowering the society in building and serving the nation,” sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan SDGs Goal 2: Tanpa Kelaparan dan Goal 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Fokus kegiatan ini berada di wilayah Jawa Barat, daerah dengan potensi pertanian yang tinggi namun masih menghadapi keterbatasan akses terhadap teknologi modern. Melalui pelatihan dan sosialisasi penggunaan drone sprayer, para dosen Binus berupaya memberdayakan petani dan komunitas lokal agar mampu memanfaatkan inovasi teknologi untuk meningkatkan hasil panen, efisiensi kerja, serta keselamatan di lapangan. “Kami ingin menunjukkan teknologi bukan hanya milik industri besar, tapi bisa menjadi alat pemberdayaan bagi masyarakat. Lewat inisiatif ini, kami berharap petani di Jawa Barat dapat lebih produktif dan berdaya saing,” ujar Ir. Tota Pirdo Kasih, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. Sementara, Ir. Alfian Destha Joanda, S.T., M.T., IPM menambahkan, “Bagi kami, peran dosen tidak berhenti di ruang kelas. Kami ingin menghadirkan impact langsung bagi masyarakat, agar teknologi benar-benar bisa dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan kualitas hidup.”
Diskusi Panel ISF 2025 tentang Pertanian Soroti Kolaborasi Jalan Menuju Ketahanan Pangan
Jakarta, katakabar.com - Rangkaian Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025, para pemimpin dan pakar dari sektor agribisnis dan keberlanjutan berkumpul untuk membahas bagaimana inovasi dan kolaborasi dapat mendorong transformasi sektor pertanian demi memastikan ketahanan pangan bagi generasi mendatang dalam sesi panel diskusi berjudul “Feeding the Future: Sustainable Innovation to Boost Agriculture Productivity”. Sesi ini dimoderatori oleh Sachin Gopalan, CEO dan pendiri Indonesia Economic Forum, dengan pembicara Anita Neville dari Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART), Peter Bakker dari World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Djap Tet Fa dari Astra Agro Lestari, dan Rahmad Pribadi dari Pupuk Indonesia. Kolaborasi sebagai Fondasi Ketahanan Pangan Dalam pembukaannya, Sachin Gopalan menyoroti perubahan wajah pertanian, di mana generasi muda semakin enggan terjun ke dunia pertanian. Ia menegaskan pentingnya inovasi dan teknologi untuk menjadikan sektor ini lebih efisien, berkelanjutan, dan menarik bagi generasi penerus. Djap Tet Fa menekankan pentingnya kemitraan antara sektor publik dan swasta menjaga ketahanan pangan jangka panjang. “Ketahanan pangan tidak bisa dicapai oleh satu sektor saja. Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus berkolaborasi,” ujarnya. Ia menjelaskan berbagai inisiatif Astra Agro Lestari seperti peremajaan perkebunan, pengembangan pupuk hayati, serta dukungan bagi petani kecil melalui pelatihan, pembiayaan, dan akses teknologi. “Tidak boleh ada yang tertinggal,” ulasnya. Menguatkan Petani Kecil melalui Pertumbuhan Inklusif Anita Neville memperkuat pandangan tersebut dengan menyoroti bahwa petani kecil berkontribusi sekitar 40 persen terhadap produksi kelapa sawit di Indonesia. “Perusahaan besar seperti kami memiliki tanggung jawab untuk mendampingi pelaku usaha yang lebih kecil. Melalui model inclusive closed loop, kami membantu petani kecil menerapkan praktik berkelanjutan, mengakses benih unggul, dan meningkatkan produktivitas,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya aksi kolektif serta kebijakan yang mendorong inovasi dan investasi berkelanjutan. Meningkatkan Produktivitas dan Ketahanan terhadap Perubahan Iklim Peter Bakker memberikan perspektif global dengan merujuk pada temuan terbaru laporan EAT-Lancet, yang menyoroti tiga prioritas utama sektor pertanian: pertanian regeneratif, transformasi digital, dan ketahanan terhadap dampak iklim. “Perubahan iklim bukan lagi isu konseptual. Dampaknya sudah nyata, dan inovasi harus difokuskan tidak hanya pada produktivitas, tetapi juga ketahanan,” ujarnya. Sementara, Rahmad Pribadi menegaskan peran penting pupuk dalam meningkatkan produktivitas pertanian, yang menyumbang lebih dari 60 persen terhadap hasil panen. Ia menjelaskan bagaimana teknologi pertanian presisi berbasis satelit membantu mengoptimalkan penggunaan pupuk sekaligus mengurangi limbah. “Keberlanjutan tidak hanya soal pertanian, tetapi juga ketahanan energi. Pertanian dapat berperan penting dalam mendukung transisi Indonesia menuju ekonomi rendah karbon,” jelasnya. Investasi untuk Generasi Petani Berikutnya Diskusi ditutup dengan pandangan mengenai cara memperluas skala inovasi dan memberdayakan generasi muda di sektor pertanian. Neville menyoroti bahwa sebagian besar program pemberdayaan masih menargetkan petani berusia di atas 45 tahun, sementara kelompok muda kurang terlibat. “Kita perlu memikirkan kembali cara mendukung mereka yang berusia 18 hingga 35 tahun dan memperlakukan mereka sebagai pelaku usaha kecil, bukan sekadar penerima manfaat,” ujarnya.
Dukung Pertanian Bali, Kementerian PU Rehabilitasi Jaringan Irigasi DAS Sungi di Tabanan
Jakarta, katakabar.com - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah merehabilitasi sejumlah jaringan irigasi untuk sektor pertanian di Provinsi Bali. Di antaranya adalah rehabilitasi jaringan irigasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungi, Kabupaten Tabanan. Tujuan proyek yang dijalankan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air untuk memastikan distribusi air ke lahan persawahan menjadi lebih efisien. “Rehabilitasi jaringan irigasi ini bagian dari transformasi sistem irigasi untuk mendukung swasembada pangan. Kita bukan sekadar memperbaiki, tetapi juga memperkuat sistem distribusi air agar lebih efisien dan merata,” kata Menteri PU, Dody Hanggodo, lewat keterangan resmi Senin siang kemarin. DAS Sungi kawasan vital yang menaungi sembilan daerah irigasi (DI) total luas area mencapai 3.885 hektar. Kesembilan daerah irigasi tersebut adalah DI Pame Palean, DI Bunyuh, DI Cangi, DI Tinjak Menjangan, DI Tungkub, DI Mudeh, DI Gadon I, DI Gadon II, dan DI Baru Kedokan. Pada tahun ini, fokus pekerjaan rehabilitasi dipusatkan pada tiga titik, yaitu DI Mudeh, DI Tinjak Menjangan, dan DI Tungkub. Kepala BWS Bali-Penida, Gunawan Suntoro, memberikan rincian terkait progres pekerjaan yang sedang berjalan. “Jaringan irigasi yang sedang ditangani sepanjang 1,35 km dengan luas area sekitar 84 hektar. Progres pekerjaannya saat ini sudah 91 persen, tinggal merapikan betonnya,” timpal Gunawan Suntoro. Rehabilitasi jaringan irigasi dilakukan sebagai respons atas penurunan fungsi dan kerusakan sarana pengairan yang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian di Bali. Program rehabilitasi yang dilakukan ubah saluran irigasi semula berupa saluran alami atau tanah menjadi saluran teknis yang lebih modern. Lingkup pekerjaannya mencakup peningkatan jaringan irigasi primer dan sekunder menggunakan material beton precast dan pasangan batu kali, serta pemasangan pintu air baru di DI Tinjak Menjangan. Dengan terselesaikannya proyek rehabilitasi ini, diharapkan tidak ada lagi air yang terbuang sia-sia, terutama saat debit air sedang tinggi. “Kami berharap dengan adanya peningkatan jaringan irigasi ini, seluruh aliran air dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan irigasi persawahan di wilayah ini, sehingga produktivitas pertaniannya juga dapat semakin meningkat,” ucap Gunawan.