Jakarta, katakabar.com - Industri manufaktur menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor ini tumbuh 5,32 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Dengan kontribusi hampir seperlima terhadap perekonomian nasional, terbesar di antara semua sektor, manufaktur terus membaik sejak terkontraksi pada 2020 akibat pandemi covid-19. Kinerja ini sejalan dengan kenaikan investasi 169 persen pada 2020–2025, porsi ekspor 80 persen dari total ekspor nasional pada 2025, dan penyerapan 20,26 juta tenaga kerja pada 2025.
Menjaga Industri Tetap Produktif di Tengah Pandemi
Fondasi pemulihan dibangun saat pandemi menekan aktivitas ekonomi. Tiga kebijakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) berhasil menyelamatkan industri manufaktur sehingga pulih paling cepat dibandingkan negara-negara lain di ASEAN, yaitu IOMKI, PPnBM DTP, dan konsolidasi industri dalam negeri melalui penguatan kebijakan TKDN.
Saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berlaku pada 2020, AGK menerbitkan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) agar pabrik tetap beroperasi dengan protokol kesehatan ketat. Hingga pertengahan Juni 2020, 17.466 IOMKI telah diterbitkan dan, menurut Kemenperin, membantu melindungi sekitar 4,9 juta pekerja dari risiko PHK. Izin perusahaan yang melanggar protokol dicabut. “Indonesia adalah salah satu negara pertama yang membuat instrumen kebijakan untuk menjaga keberlangsungan industri manufaktur dari dampak pandemi,” ujar AGK. Menjaga pabrik tetap berjalan berarti menjaga penghidupan masyarakat banyak, menghidupkan rantai pasok, dan membuka jalan bagi pemulihan ekonomi.
Untuk memulihkan permintaan, Kemenperin bersama Kementerian Keuangan menghadirkan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) bagi sektor otomotif. Sektor ini dipilih karena efek berganda (multiplier effects) dan keterkaitannya dengan industri baja, karet, kaca, plastik, hingga komponen elektronik, dengan sekitar 1,5 juta tenaga kerja di sepanjang rantai nilainya. Sebulan setelah insentif berlaku, penjualan mobil nasional naik 88 persen. Sepanjang Maret–November 2021, penjualan mencapai 487 ribu unit, tumbuh 71,02 persen secara tahunan.
Hasilnya, pada triwulan II 2021 industri manufaktur tumbuh 6,91 persen dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi ekonomi nasional yang tumbuh 7,07 persen. Capaian ini mengakhiri empat triwulan kontraksi beruntun dan membawa Indonesia keluar dari resesi. Kepala BPS saat itu, Margo Yuwono, mengaitkan lonjakan penjualan mobil dengan relaksasi PPnBM, seraya menyebut “alat angkutan tumbuhnya cukup tinggi.”
AGK juga mengonsolidasikan industri dalam negeri, khususnya alat kesehatan seperti ventilator, alat pelindung diri (APD), obat-obatan, oksigen, dan masker. Kebutuhan penanganan pandemi pun dapat dipenuhi secara mandiri sehingga utilisasi dan penyerapan tenaga kerja manufaktur kembali meningkat.
Penyerapan Tenaga Kerja
Tenaga kerja manufaktur terus bertambah, dari 17,44 juta orang pada 2020 menjadi 18,65 juta (2021), 19,11 juta (2022), 19,29 juta (2023), 19,96 juta (2024), dan 20,26 juta (2025). Tambahan sekitar 2,82 juta pekerja ini menunjukkan semakin besarnya peran industri manufaktur dalam menyediakan lapangan kerja. Pada Februari 2026, sektor ini menyerap 13,57 persen dari 147,67 juta penduduk bekerja. Survei PMI September 2026 juga mencatat penambahan tenaga kerja pabrik berlangsung dengan laju tercepat sejak Februari 2025.
“Peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur disebabkan oleh utilisasi dan investasi yang terus meningkat,” ujar AGK, menegaskan manufaktur tetap menjadi penyerap utama tenaga kerja.
Investasi dan Posisi Manufaktur Indonesia
Menurut BPS, investasi manufaktur terus naik: Rp259 triliun (2020), Rp307 triliun (2021), Rp457 triliun (2022), Rp565 triliun (2023), dan Rp697 triliun (2024). Kemenperin mencatat realisasi investasi baru manufaktur pada 2024–2026 sebesar Rp1.002 triliun, didukung hampir 3.500 fasilitas produksi baru. Tren ini menunjukkan kebijakan selama 7 tahun kepemimpinan Agus Gumiwang di Kemenperin (2020–2026) efektif menarik investasi ke industri manufaktur.
Kebangkitan Industri Manufaktur sebagai Motor Pertumbuhan Ekonomi Terbesar
Diskusi pembaca untuk berita ini