Di tingkat global, menurut data Bank Dunia, nilai tambah manufaktur (MVA) Indonesia naik dari US$210,4 miliar pada 2020 menjadi US$265,07 miliar pada 2025. Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dan teratas di ASEAN, melampaui Thailand (US$128,04 miliar) dan Vietnam (US$116,38 miliar). Capaian ini membuktikan AGK berhasil meningkatkan nilai tambah ekonomi dari ekosistem rantai pasok manufaktur Indonesia hingga melampaui gabungan Thailand dan Vietnam.

Kontribusi terhadap Ekonomi Nasional

Pada 2025, industri manufaktur tumbuh 5,15 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen—pertama kalinya dalam 13 tahun. Capaian ini menunjukkan pengaruh manufaktur yang meningkat signifikan dalam perekonomian nasional. “Bukan ekonomi yang menarik manufaktur, tapi manufaktur yang harus menarik ekonomi,” kata AGK dalam paparan kinerja akhir tahun 2025.

PDB nominal manufaktur naik dari Rp2.761 triliun pada 2020 menjadi Rp2.947 triliun (2021), Rp3.228 triliun (2022), Rp3.499 triliun (2023), Rp3.799 triliun (2024), dan Rp4.117 triliun (2025), dengan kenaikan tahunan tertinggi Rp318 triliun pada 2025. Dalam lima tahun, manufaktur menambah lebih dari Rp1.350 triliun nilai ekonomi nominal, mempertegas skala dan perannya dalam perekonomian Indonesia.

Sumbangan manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada 2021–2025 konsisten di kisaran 18–20 persen, dengan puncak 20,94 persen pada 2025. Artinya, sekitar seperlima pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 bersumber dari industri manufaktur, menegaskan perannya sebagai salah satu motor utama ekonomi.

Manufaktur juga menjadi tulang punggung ekspor dengan porsi 80,27 persen dari total ekspor nasional pada 2025, dan rata-rata 76 persen pada 2020–2025. Tiga penyumbang terbesar adalah produk turunan CPO, besi dan baja, serta mesin dan perlengkapan elektrik. Ini mempertegas peran manufaktur dalam menopang perdagangan luar negeri dan menghasilkan devisa.

Mengukur Optimisme Pelaku Industri Berbasis Data

Sebelum hadirnya Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada November 2022, Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global menjadi acuan utama memantau kepercayaan pelaku industri. Kemenperin menilai perlu instrumen yang lebih rinci per subsektor, sehingga atas prakarsa AGK, IKI dikembangkan untuk memantau 23 subsektor manufaktur. Industri yang beragam membutuhkan pembacaan yang terperinci agar setiap tekanan mendapat respons yang tepat.

IKI disusun dari laporan sekitar 3.000 perusahaan skala kecil, menengah, dan besar melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Metodologinya dirumuskan pakar statistik IPB dan divalidasi ekonom Universitas Indonesia. Dirilis setiap akhir bulan berjalan, lebih awal dari PMI, IKI membantu pemerintah membaca perubahan pesanan, produksi, dan persediaan tiap subsektor untuk mendeteksi tekanan sejak dini dan menyusun kebijakan tepat sasaran. Bersama PMI S&P Global dan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia, IKI melengkapi gambaran kondisi industri nasional. Semakin dini tekanan terbaca, semakin cepat pemerintah dapat menyiapkan langkah penanganan.

Sejak November 2022, IKI konsisten berada di zona ekspansi (di atas 50) dan mencapai rekor 54,12 pada Januari 2026. Pada September 2026, IKI tetap ekspansif di level 51,93, dengan komponen pesanan naik menjadi 53,40 dan 15 dari 23 subsektor dalam fase ekspansi. Kepercayaan pelaku industri tetap terjaga, meski kondisi antarsubsektor belum sepenuhnya merata.

PMI manufaktur Indonesia juga naik dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026, kembali ke zona ekspansi. Pesanan baru dan produksi domestik tumbuh tercepat sejak Februari, sementara pesanan ekspor naik dengan laju terkuat sejak Mei 2022. Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence, Trevor Balchin, menyebut kinerja September “didukung oleh kenaikan ekspor” dan merupakan yang terkuat sejak Februari. Ketika kepercayaan terjaga dan pesanan meningkat, industri memiliki pijakan lebih kuat untuk melanjutkan pertumbuhan.

Fondasi Babak Berikutnya

Pemulihan sejak 2020 membawa manufaktur kembali menjadi sumber pertumbuhan terbesar, melalui kebijakan menjaga operasional pabrik, memulihkan permintaan, dan memantau kondisi industri. Capaian ini memperlihatkan besarnya peran manufaktur dalam menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan kegiatan produksi dan penghidupan jutaan pekerja. Keberlanjutan investasi, permintaan, dan respons kebijakan akan menentukan kemampuan manufaktur mempertahankan perannya sebagai penggerak pertumbuhan sekaligus memperluas kesempatan kerja.

Menurut ekonom INDEF, Esther Sri Astuti, Indonesia terbilang berhasil menyelamatkan kinerja industri manufaktur. “Meski belum sepenuhnya pulih, tergambar dari PMI yang mayoritas bertahan di zona ekspansif pascapandemi,” ujarnya.

"Manufaktur memang merupakan tulang punggung ekspor nasional," ujar Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani, menanggapi porsi ekspor manufaktur yang mencapai lebih dari 80 persen.