Kepulauan Meranti, katakabar.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti serahkan bantuan Masker, dan Handsanitizer di Pondok Pesantren atau Ponpes Darul Fikri, di Ponpes Darul Fikri, Minggu (21/9) kemarin.
Seorang santri dinyatakan meninggal dunia akibat terindikasi terpapar virus Monkeypox (Mpox) Jumat (19/9) lalu. Tragedi ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk gerak cepat, pastikan pencegahan, dan perlindungan agar kasus serupa tidak meluas.
Jenis bantuan yang di berikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah ataunBPBD bersama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, masker 2 kotak (80 box) dan hand sanitizer 450 botol.
Mengingat telah berkembangnya virus MPOX atau cacar monyet yang sebabkan seorang siswa santri Darul Fikri meninggal, BPBD beserta Dinkes Kabupaten KepulauannMeranti melakukan penyaluran bantuan berupa masker dan handsanitizer sekaligus melakukan disinfektan dalam lingkup Ponpes Darul Fikri.
Penyerahan bantuan berupa Masker dan handsanitizer. Penyerahan diserah langsung oleh Kalaksa BPBD Kepulauan Meranti, M. Kardafi, SE., M.IP di wakili oleh Kabid bencana dan logistik ARDATH, S. IP dan beberapa anggota BPBD bersama dengan Dinas Kesehatan Kabuptaen Kepulauan Meranti. Kegiatan dilanjutkan dengan penyemprotan desinfektan.
Ardath, S. IP mengatakan, Kegiatan ini bukan sekadar penyaluran bantuan, tetapi juga bentuk kepedulian pemerintah daerah agar para santri, guru, dan pengurus pondok tetap terlindungi. Pencegahan adalah langkah terpenting untuk memutus rantai penyebaran penyakit.
"Suasana pesantren pagi itu penuh kehati-hatian. Santri tampak mengenakan masker yang baru saja mereka terima, sementara tim BPBD dan Dinkes menyemprotkan cairan disinfektan ke setiap sudut ruangan, dari asrama hingga ruang belajar," jelasnya
Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti menyampaikan imbauan agar masyarakat tidak panik, tapintetap waspada. Plt Kepala Dinas Kesehatan, Ade Suhartian, mengingatkan pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat, memakai masker bila sakit, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala mirip cacar monyet, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam kulit.
“Penyakit ini bisa dicegah dengan disiplin menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Hindari kontak langsung dengan orang sakit maupun barang-barang yang sudah terkontaminasi. Masyarakat tidak perlu cemas berlebihan, tetap harus waspada. Mari bersama-sama menjaga kesehatan demi keselamatan bersama,” ucapnya.
Langkah cepat ini menjadi wujud sinergi pemerintah daerah memberikan rasa aman kepada masyarakat. Di tengah kabar duka, kehadiran BPBD dan Dinkes memberikan sedikit ketenangan pencegahan sedang dilakukan, dan perlindungan untuk para santri maupun warga sekitar menjadi prioritas.
Menurutnya, kedua kasus tersebut menunjukkan gejala yang sesuai dengan definisi suspek MPOX berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan RI. Dari dua kasus itu, satu pasien yang sempat menjalani perawatan di UPT RSUD Meranti meninggal dunia pada 20 September 2025, setelah empat hari dirawat.
Sementara satu pasien lainnya saat ini tengah menjalani isolasi mandiri di rumah, setelah sebelumnya tiga hari dirawat di RSUD, dan masih dalam pemantauan tenaga kesehatan dari UPT Puskesmas.
“Saat ini kedua sampel kasus suspek MPOX sedang proses pemeriksaan laboratorium. Kami terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait,” beber Ade Suhartian.
Ia menjelaskan, MPOX adalah penyakit infeksi zoonotik yang disebabkan oleh virus Monkeypox (MPXV). Gejalanya antara lain demam, ruam kulit (papula, vesikula, pustula), pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati), nyeri otot, sakit kepala, dan rasa lemas.
Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan lesi kulit, cairan tubuh, droplet pernapasan, maupun benda yang terkontaminasi.
Di kegiatan itu, Ade Suhartian juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, namun meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Kami mengingatkan masyarakat agar menghindari kontak kulit-ke-kulit dengan orang yang memiliki gejala, termasuk kontak seksual, rajin mencuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer, membersihkan permukaan atau benda yang sering disentuh, menggunakan masker, serta menerapkan etika batuk,” pesannya.
Selain itu, Ade menekankan agar masyarakat segera melakukan isolasi mandiri dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala mirip Monkeypox.
“Kami minta masyarakat tetap waspada, namun jangan panik. Dinas Kesehatan bersama fasilitas kesehatan terus bekerja melakukan pengawasan, dan penanganan. Sekali lagi kami pastikan, bahwa ini baru suspek belum dipastikan hingga hasil laboratorium keluar,” sebutnya.
BPBD dan Dinkes Kabupaten Kepulauan Meranti Gercep Serahkan Bantuan Masker dan Handsanitizer
Diskusi pembaca untuk berita ini