Pasir Pengaraian, katakabar.com - Di balik pagar tembok tinggi dan seragam rapi yang tampak menjaga ketertiban, tersimpan wajah lain Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Pasir Pengaraian yang sungguh memilukan sekaligus menggerus kepercayaan publik.
Di saat jajaran pimpinan mengumandangkan komitmen pemberantasan narkoba dan barang terlarang, kenyataan yang hidup di dalam blok hunian justru bercerita sebaliknya: pungli terselubung, peredaran narkoba yang tak kunjung padam, hingga praktik memaksa warga binaan melakukan penipuan demi memenuhi target setoran yang mengalir hingga ke petugas.
Berdasarkan pengakuan yang disampaikan langsung oleh salah satu warga binaan melalui saluran media sosial kepada katakabar.com, Rabu (23/9), praktik memeras dan memanfaatkan napi untuk mencari uang masih berjalan lancar hingga hari ini.
Sistemnya terstruktur dan berantai: para warga binaan dipaksa melakukan penipuan di luar tembok lewat jaringan komunikasi yang tetap berjalan dari dalam, uang yang masuk dikelola ketua kamar, dan dari hasil itu mereka hanya menerima sisa yang tak seberapa.
“Penipuan masih ada kok. Kami yang menipu dipaksa, dapatnya cuma 10 persen. Kalau sudah capai target, baru naik jadi 65 persen. Sisanya disetorkan. Ketua kamar yang mengurus penyerahannya ke petugas Lapas,” ucap narasumber yang menyampaikan keterangan tersebut dengan penuh keberatan tetapi berani membuka fakta demi kebenaran.
Angka-angka itu bukan sekadar hitungan biasa. Itu adalah bukti nyata adanya sistem eksploitasi yang diduga berjalan di bawah pengawasan atau bahkan keterlibatan pihak yang seharusnya menjaga dan membina, bukan memanfaatkan warga binaan. Jika tanpa izin dan keterlibatan petugas hal ini mustahil berlangsung, maka pertanyaan besar pun muncul: sejauh mana pengawasan yang dijalankan?
Sebelumnya, Kamis (17/9), aparat penegak hukum gabungan telah melakukan penggeledahan menyeluruh di kamar hunian warga binaan. Kalapas Kelas IIB Pasir Pengaraian, Efendi Parlindungan Purba, melalui Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (Ka KPLP) Freddy Rinadi Siregar, menyatakan sidak tersebut merupakan agenda rutin guna menjaga iklim keamanan tetap kondusif.
“Kegiatan ini bentuk komitmen nyata Lapas Pasir Pengaraian dalam memberantas peredaran narkoba dan penggunaan HP ilegal di dalam blok hunian. Kami memperketat pengawasan melalui deteksi dini yang terukur,” tegas Freddy kala itu.
Tetapi janji dan pernyataan resmi itu tampak tak menyentuh akar masalah. Informasi yang diterima media justru menunjukkan hal yang kontradiktif: peredaran narkoba tidak hanya masih ada, bahkan dikabarkan makin menggila.
Lebih memprihatinkan, beredar dugaan kuat bahwa jaringan peredaran narkoba di seluruh Kabupaten Rokan Hulu dikendalikan justru dari dalam Lapas Pasir Pengaraian sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi jika pintu-pintu pengawasan tertutup rapat?
Logika sederhana masyarakat tak bisa dibungkam: barang-barang terlarang tak mungkin masuk sendiri, transaksi tak mungkin berjalan lancar, dan perintah mengendalikan jaringan dari balik jeruji tak mungkin tersampaikan tanpa ada tangan yang membukakan jalan.
Jika petugas tidak memfasilitasi, melindungi, atau terlibat langsung, maka siapa yang membiarkan semua ini berlangsung bertahun-tahun?
Lapas membantah. Tetapi fakta yang disampaikan dari dalam dari mereka yang merasakan langsung tekanan dan ketidakadilan itu terus bersuara. Suara itu bukan berita bohong, melainkan jeritan yang tak bisa lagi ditutup-tutupi.
Kepada Kalapas Efendi Parlindungan Purba dan Ka KPLP, Freddy Rinadi Siregar, serta seluruh jajaran pimpinan Lapas Pasir Pengaraian: pertanggungjawaban tak cukup hanya dengan sidak rutin dan pernyataan tegas di depan media. Masyarakat menuntut pembuktian yang nyata.
Jika ada oknum yang menjadikan tempat pembinaan ini sebagai ladang keuntungan pribadi, memaksa warga binaan menipu, dan membiarkan narkoba beredar maka mereka yang seharusnya menjaga justru menjadi perusak kepercayaan negara.
Sudah saatnya sidak bukan sekadar upacara, dan pengawasan bukan sekadar kata-kata. Selama pungli masih ada, selama napi masih dipaksa mencari uang untuk disetorkan, dan selama narkoba masih mengalir masuk, maka Lapas Pasir Pengaraian belum bersih ia masih bobrok. Dan yang paling bertanggung jawab atas segala kerusakan itu bukan hanya pelaku di bawah, melainkan mereka yang memegang kendali di atas.
Masyarakat Rokan Hulu menanti: apakah pimpinan Lapas akan menindak tegas, atau justru melindungi? Kejelasan ini mutlak diperlukan, bukan untuk kepentingan sesaat, melainkan demi nama baik lembaga dan kehormatan negara yang sedang dipertaruhkan di sini.
Lapas Kelas IIA Bengkalis Diduga Lebih Parah
Lapas Kelas IIA Bengkalis diduga lebih parah bukan cerita baru dibanding Lapas Kelas IIB Pasir Pengaraian. Cerita diduga tipu menipu, dagang barang haram, suap menyuap, serta monopoli pengelolaan kantin hingga diduga sewa menyawa kamar suatu hal lumrah.
"Lapas mestinya tempat membina narapidana justru disinyalir menjadi tempat membinasakan karakter dan prilaku narapidana agar terpuruk ke jurang lebih dalam,"
Itu segelumit cerita dari eks warga binaan Lapas Kelas IIA Bengkalis tak mau ditulis namanya baru beberapa bulan hirup udara segar.
Di Balik Pagar Lapas Pasir Pengaraian Janji Bersih vs Realitas Bobrok Napi Dipaksa Menipu, Hasilnya Mengalir ke Atas
Diskusi pembaca untuk berita ini