“Seandainya mereka tahu sistem pemerintahan saat ini, mereka pasti akan paham dan tidak serta-merta mengatakan bahwa seolah kami tidak paham dan tidak menjalankan visi serta misi kami sebagai kepala daerah,” kata Bupati Anton dengan nada tenang namun tegas, kepada katakabar.com, Rabu (9/9).

“Tapi di tengah kondisi dan segala keterbatasan akibat peraturan pemerintah pusat hingga membatasi ruang gerak dan kebijakan, kami akan tetap berjuang dengan segala kemampuan dan keterbatasan itu untuk Rokan Hulu tercinta,” ucapnya.

Bagi Anton, kritikan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Ia tidak menolak dikritik. Ia justru mendengarkan. Namun yang ia harapkan adalah kritikan yang membangun, yang berdasar pada fakta dan pemahaman atas kondisi yang sesungguhnya bukan hujatan yang lahir dari ketidaktahuan atau kebencian yang tidak beralasan.

“Soal program yang belum terlaksana, itu kembali pada soal keterbatasan anggaran yang sebelumnya masuk dalam kategori prioritas pasangan tersebut. Hal itu dilakukan demi pembangunan Kabupaten Rokan Hulu, namun badai yang tidak diduga menghantam daerah di seluruh Indonesia dengan kebijakan demi program prioritas utama Presiden Prabowo Subianto,” jelasnya.

“Kepala daerah mana tidak bisa berbuat apa-apa, selain dari kebijakan serta kuasa pemerintah pusat. Tidak hanya Kabupaten Rokan Hulu, semua kepala daerah benar-benar merasakan soal kondisi keuangan tersebut. Tidak banyak program yang bisa dijalankan sesuai keinginan,” lanjutnya, seolah ingin membuka mata masyarakat luas bahwa di balik setiap keterlambatan, ada kendala sistemik yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kehendak satu pihak.

Ajakan untuk Memahami: Jika Benar, Hantam Terus; Jika Tidak, Pahami Keadaan

Bupati Anton tidak meminta pujian. Ia juga tidak meminta dikasihani. Yang ia minta hanyalah satu hal: pemahaman.

Ia berkata: “Biarlah kebencian menjadi milik mereka yang membenci. Yang penting bagi kami adalah bagaimana kami bisa berbuat terbaik untuk rakyat Rokan Hulu.” ungkapnya.

Ia mengakui bahwa belum semua program terlaksana secepat yang diharapkan. Namun ia juga menegaskan bahwa setiap langkah yang tertunda bukan karena kemalasan atau ketidakpedulian, melainkan karena keterbatasan yang harus dihadapi bersama. Ia mengajak masyarakat untuk membedakan antara kritikan yang tajam namun konstruktif yang tentu harus diterima dan diperbaiki dengan hujatan yang tanpa dasar dan tanpa kebenaran, yang justru melukai hati banyak orang dan menghambat semangat kerja seluruh jajaran pemerintahan.

“Jika kritikan itu benar, hantam terus kami perbaiki. Tapi jika itu tidak benar, pahamilah keadaan dan kondisi yang ada. Kami, Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hulu akan tetap memberikan yang terbaik, sebatas kemampuan, di tengah segala keterbatasan ini.” terangnya.


Penutup: Rokan Hulu Tetap Harus Maju

Di bawah kepemimpinan Anton dan Syafaruddin Poti, Rokan Hulu berjalan di jalan yang berliku. Anggaran yang terbatas, regulasi yang mengikat, dan hujatan yang kadang datang tanpa henti semuanya menjadi ujian bagi keteguhan hati duet ini. Namun satu hal yang pasti: mereka tidak berhenti melangkah. Jalan yang dibangun, air yang mengalir, listrik yang menyala, sekolah yang diperbaiki, dan pelayanan yang ditingkatkan — meski mungkin belum secepat yang diharapkan tetap berjalan, satu per satu, dengan ketulusan yang tulus.

Bupati Anton adalah bukti pemimpin yang sejati tidak diukur dari seberapa banyak janji manis yang diucapkan di atas panggung, melainkan dari seberapa teguh ia berdiri ketika semua orang menyerang, dan seberapa tulus hatinya ketika ia tetap memilih bekerja untuk rakyat meski rakyat belum tentu memahaminya.

Rokan Hulu tidak sedang berjalan sendirian. Ia sedang berjuang — bersama rakyatnya, bersama pemimpinnya di tengah badai yang bukan ciptaan mereka. Dan di sinilah peran kita semua: bukan saling menjatuhkan, melainkan saling menguatkan, agar Rokan Hulu tetap maju, menuju kesejahteraan yang adil dan berkelanjutan.