Pasir Pengaraian, katakabar.com - Di tengah riuh suara-suara melontarkan hujatan, di tengah tekanan kebijakan pusat semakin memperketat ruang gerak anggaran, Bupati Rokan Hulu, Anton, ST., MM., tetap berdiri tegak.

Bukan untuk membalas kebencian, melainkan untuk terus melangkah membuktikan di balik serangan kata-kata yang kerap tanpa dasar dan tanpa data, masih ada keteguhan hati seorang pemimpin yang memilih bekerja daripada berdebat.

Bersama Wakil Bupati Rokan Hulu, H. Syafaruddin Poti, SH., MM., yang mendampinginya masa jabatan 2025–2030 (dilantik 20 Februari 2025), pemerintahan ini berjalan di jalur yang telah digariskan sejak awal. Visi besarnya jelas: 'Mewujudkan Kabupaten Rokan Hulu sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi yang Religius melalui Pemanfaatan Sumber Daya Alam Berwawasan Lingkungan Menuju Masyarakat Sejahtera dan Berkelanjutan'. Sebuah cita-cita yang tidak ringan untuk diwujudkan, apalagi di tengah kondisi keuangan daerah yang semakin terjepit akibat kebijakan fiskal nasional.


Latar Belakang: Dari Birokrat ke Pemimpin Mengenal Medan Perjuangan

Lahir pada 20 Oktober 1974, Anton bukan sosok asing bagi birokrasi dan pembangunan daerah. Sebelum maju dalam Pilkada 2024, ia pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Rokan Hulu selama tujuh tahun, yakni periode 2017–2024.

Ia memahami seluk-beluk infrastruktur, perencanaan pembangunan, serta seluk-beluk regulasi yang sering kali menjadi tembok penghalang di lapangan. Pensiun dini yang ia ambil bukanlah langkah mundur, melainkan lompatan untuk mengabdi lebih dekat membawa pengalaman teknis ke kursi kepemimpinan daerah.

Program yang diusung pun dirancang untuk menyentuh langsung kebutuhan masyarakat: membangun dan memperbaiki jalan serta jembatan demi kelancaran distribusi hasil pertanian, perkebunan, dan tambang; memperluas akses air bersih dan sanitasi hingga ke dusun-dusun terpencil; serta mendorong pemerataan jaringan listrik dan internet agar ekonomi digital dan pelayanan publik dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Di sektor sumber daya alam, duet Anton dan.Poti berkomitmen mengembangkan industri hilir kelapa sawit dan pertambangan untuk meningkatkan nilai tambah produksi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan, sekaligus merintis diversifikasi energi terbarukan seperti biomassa dan tenaga surya.

Lima pilar misi yang diusung, mulai dari penguatan ekonomi dan infrastruktur, pengelolaan SDA berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat religius dan pelestarian budaya, peningkatan pendidikan dan kesehatan, hingga tata kelola pemerintahan yang bersih dan partisipatif. Semuanya disusun dengan harapan menjadi pijakan kuat bagi kemajuan Rokan Hulu. Namun kenyataan di lapangan tidak semudah tertulis di atas kertas.


Badai Tak Diduga: Tekanan Fiskal dan Keterbatasan Ruang Gerak

Di tengah upaya menjalankan visi dan misi tersebut, pemerintahan daerah justru dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Kebijakan-kebijakan pemerintah pusat yang dikeluarkan dalam rangka mendukung program prioritas nasional di bawah pemerintahan Presiden RI, H. Prabowo Subianto, secara tak terduga ikut memangkas kemampuan keuangan daerah di seluruh Indonesia, bukan hanya Rokan Hulu. Aliran dana yang sebelumnya menjadi andalan kini semakin terbatas, dan sejumlah pos anggaran yang sudah diprioritaskan dalam perencanaan sebelumnya harus dikaji ulang karena ketentuan baru yang membatasi ruang gerak kepala daerah.

Kepala daerah seolah tak berdaya di hadapan peraturan yang mengikat. Banyak rencana yang sudah disusun rapi harus menunggu, disesuaikan, atau bahkan ditunda sementara bukan karena tak mau dilaksanakan, melainkan karena keterbatasan yang berada di luar kendali pemerintah kabupaten.

Inilah realita yang kerap luput dari perhatian para pengkritik: bahwa kepala daerah bukanlah pemegang kuasa mutlak atas segala hal, melainkan bagian dari sistem yang diatur dan dibatasi oleh hierarki peraturan perundang-undangan yang berlaku secara nasional.

Di Tengah Hujatan, Bupati Anton Memilih Diam dan Bekerja

Di sinilah letak kebesaran hati Bupati Anton. Ketika serangan demi serangan datang baik berupa cemoohan, tudingan, maupun hujatan yang kerap disampaikan tanpa data, tanpa konteks, dan tanpa memahami situasi yang sebenarnya. Ia tidak membalas dengan kata-kata kasar. Ia tidak melawan dengan kebencian yang sama. Sebaliknya, ia justru mengajak semua pihak untuk memahami kenyataan yang ada.