Dari Platform Terbuka Menuju Jaringan Terbuka

Dalam konteks tersebut, dukungan Google terhadap ekosistem digital terbuka bukanlah perubahan strategi yang baru terjadi. Hal tersebut merupakan kelanjutan alami dari filosofi yang telah membentuk perusahaan sejak awal: teknologi menciptakan nilai terbesar ketika mampu menurunkan hambatan, memperluas partisipasi, dan memungkinkan pihak lain untuk berinovasi.

Filosofi yang sama kini menjadi dasar bagi generasi baru Digital Public Infrastructure (DPI). Di berbagai belahan dunia, pemerintah semakin menyadari bahwa tahap berikutnya dari transformasi digital tidak dapat sepenuhnya bergantung pada platform proprietary yang beroperasi secara terpisah. Sebaliknya, negara-negara mulai berinvestasi dalam infrastruktur digital bersama yang memungkinkan bisnis, pemerintah, dan masyarakat berinteraksi melalui standar yang sama, sebagaimana jalan, pelabuhan, dan jaringan telekomunikasi mendorong pertumbuhan ekonomi pada generasi sebelumnya.

Open Network for Digital Commerce (ONDC) India merupakan salah satu contoh paling ambisius dari pendekatan ini. Alih-alih menciptakan marketplace e-commerce lainnya, ONDC membangun jaringan terbuka tempat pembeli, penjual, perusahaan logistik, penyedia pembayaran, dan platform teknologi dapat saling terhubung dan berinteroperabilitas, terlepas dari aplikasi yang mereka gunakan. Persaingan pun bergeser, dari sekadar menguasai pelanggan menjadi menghadirkan produk, layanan, dan inovasi yang lebih baik.

Indonesia kini mengambil jalur serupa melalui Indonesia Open Network (ION). Terinspirasi oleh ONDC dan dibangun di atas arsitektur Beckn 2.0, ION berupaya membangun jaringan perdagangan yang terbuka dan interoperabel, tempat UMKM, koperasi, penyedia logistik, lembaga keuangan, dan aplikasi digital dapat berpartisipasi melalui standar bersama, bukan melalui silo digital yang terpisah. Tujuannya bukan menggantikan marketplace atau aplikasi yang sudah ada, melainkan menciptakan infrastruktur digital yang memungkinkan seluruh pihak tersebut terhubung secara lebih efisien sekaligus memberikan kebebasan lebih besar kepada pelaku usaha dalam menentukan cara mereka menjangkau pelanggan.

Bagi lebih dari 30 juta usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia, implikasinya sangat besar. Partisipasi digital tidak seharusnya lagi bergantung pada keharusan bergabung dengan satu platform dominan. Koperasi kopi di Aceh, produsen furnitur di Jepara, pelaku usaha perikanan di Maluku, maupun produsen batik di Pekalongan seharusnya dapat mengakses pembeli, logistik, pembayaran, pembiayaan, dan layanan digital melalui jaringan terbuka yang mendorong persaingan, bukan ketergantungan.

Visi tersebut sejalan dengan tujuan Indonesia yang lebih luas untuk memastikan transformasi digital tidak hanya memberikan manfaat kepada korporasi besar dan pusat-pusat perkotaan, tetapi juga kepada para pengusaha dan masyarakat di seluruh penjuru nusantara.

Kesediaan Google untuk mendukung berbagai ekosistem terbuka seperti ini karena itu sepenuhnya konsisten dengan pendekatan teknologi yang telah dijalankannya selama ini. Hal tersebut mencerminkan pemahaman bahwa infrastruktur digital menjadi semakin bernilai ketika mampu memberdayakan sebuah ekosistem, bukan hanya satu platform. Dalam ekonomi digital yang semakin terhubung, memungkinkan kolaborasi pada akhirnya dapat terbukti lebih bernilai daripada mengendalikannya.

Perbedaan antara Kehadiran dan Partisipasi

Indonesia telah menjadi salah satu ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia, menjadikannya pasar prioritas bagi hampir setiap perusahaan teknologi global. Jutaan masyarakat Indonesia menggunakan mesin pencari internasional, platform media sosial, layanan cloud, dan perangkat kecerdasan buatan setiap hari. Dari perspektif komersial, Indonesia merupakan salah satu pasar digital paling menarik di Asia.

Namun, terdapat perbedaan penting antara melayani sebuah pasar dan berpartisipasi dalam pembangunannya.

Banyak perusahaan teknologi global menghadirkan produk unggulan kepada pengguna Indonesia melalui layanan digital lintas batas. Platform mereka digunakan secara luas, teknologi mereka sangat inovatif, dan pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari tidak dapat disangkal. Namun, tahap berikutnya dari perjalanan digital Indonesia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar produk. Indonesia membutuhkan kemitraan jangka panjang yang berkontribusi pada kemampuan negara untuk berinovasi, mendidik, membangun institusi, dan mengembangkan talenta.

Selama dua dekade terakhir, Google semakin menunjukkan komitmen yang lebih luas tersebut. Di luar produk komersialnya, perusahaan ini telah membangun kehadiran jangka panjang di Indonesia, berinvestasi dalam tim lokal, mengembangkan komunitas pengembang, bermitra dengan universitas, serta bekerja sama dengan lembaga pemerintah dalam bidang literasi digital, keamanan daring, dan pengembangan tenaga kerja. Melalui Google.org, Google juga mendukung pendidikan, organisasi nonprofit, ketahanan digital, serta berbagai inisiatif yang membantu masyarakat beradaptasi dengan lanskap teknologi yang berubah dengan cepat.

Investasi semacam ini jarang mendapatkan perhatian sebesar peluncuran produk baru atau kemajuan dalam kecerdasan buatan. Investasi tersebut tidak selalu menghasilkan berita utama secara langsung dan juga tidak mudah diukur melalui hasil keuangan kuartalan. Nilainya baru terlihat seiring waktu, ketika semakin banyak pengembang membangun bisnis yang sukses, semakin banyak pelajar memperoleh keterampilan digital, semakin banyak startup muncul, dan semakin banyak institusi memperkuat kemampuan teknologinya.

Inilah perbedaan antara kehadiran perusahaan dan partisipasi yang sesungguhnya. Yang pertama terutama berfokus pada melayani pelanggan. Yang kedua berkontribusi pada penguatan ekosistem tempat para pelanggan tersebut hidup dan bekerja.

Seiring Indonesia terus membangun ekonomi digitalnya, perbedaan ini akan menjadi semakin penting. Negara-negara yang menginginkan daya saing teknologi jangka panjang secara alami akan memilih mitra yang bersedia berinvestasi bukan hanya dalam pertumbuhan pasar, tetapi juga dalam membangun kapasitas nasional.

Membangun Menuju Indonesia Emas 2045

Ambisi Indonesia untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi terkemuka di dunia pada 2045 tidak akan tercapai hanya melalui peningkatan PDB atau koneksi internet yang lebih cepat. Keberhasilan akan bergantung pada kemampuan negara dalam membangun institusi, talenta, kapasitas riset, dan infrastruktur digital yang dibutuhkan untuk bersaing dalam ekonomi global yang semakin berbasis pengetahuan.

Kecerdasan buatan, Digital Public Infrastructure, manufaktur semikonduktor, komputasi cloud, keamanan siber, dan keterampilan digital tingkat lanjut dengan cepat menjadi fondasi penting bagi daya saing nasional. Sebagaimana jalan, pelabuhan, dan listrik menjadi penentu pembangunan industri pada abad ke-20, infrastruktur digital akan semakin menentukan peluang ekonomi pada abad ke-21.

Pemerintah tidak dapat membangun masa depan ini sendirian. Begitu pula sektor swasta, universitas, maupun startup jika bergerak secara independen. Untuk mewujudkan ambisi Indonesia Emas 2045, dibutuhkan sebuah ekosistem tempat kebijakan publik, dunia usaha, akademisi, dan mitra teknologi bekerja bersama untuk memperluas peluang dan memperkuat kapasitas nasional.

Mungkin inilah pelajaran yang lebih luas dari keterlibatan Google selama bertahun-tahun di Indonesia. Kontribusi terbesarnya mungkin bukan satu produk, platform, atau terobosan teknologi tertentu, melainkan filosofi yang konsisten dalam menurunkan hambatan, memperluas akses, dan memungkinkan pihak lain untuk berinovasi.

Filosofi tersebut sejalan dengan ambisi digital Indonesia sendiri: menciptakan ekonomi di mana teknologi memberdayakan semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki neraca keuangan terbesar, kekuatan pasar terbesar, atau keahlian teknis paling mendalam.

Perusahaan teknologi sering kali menggambarkan negara sebagai pasar. Indonesia seharusnya mengharapkan sesuatu yang lebih. Indonesia perlu mencari mitra yang memandang negara ini sebagai tempat untuk membangun, berinvestasi, dan berinovasi bersama dalam jangka panjang. Perusahaan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap masa depan Indonesia belum tentu merupakan perusahaan dengan pangsa pasar terbesar, melainkan perusahaan yang investasinya meninggalkan fondasi paling kuat untuk terus dikembangkan oleh pihak lain.

Jika Indonesia berhasil mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, sejarah kemungkinan tidak akan mengingat aplikasi mana yang paling banyak diunduh atau model kecerdasan buatan mana yang paling banyak menjadi berita utama. Sejarah justru akan mengingat kemitraan yang membantu memperkuat kapasitas Indonesia untuk berinovasi, bersaing, dan berkembang dengan caranya sendiri.

Pada akhirnya, ukuran keberlanjutan sebuah mitra teknologi bukanlah seberapa besar nilai yang diambilnya dari sebuah negara, melainkan seberapa besar kemampuan yang ditinggalkannya bagi negara tersebut.