Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan dan bergerak di kisaran US$62.000 setelah pasar kripto global menghadapi tekanan jual dalam beberapa hari terakhir, bahkan penurunan lebih dari 14 persen sepekan belakangan ini.

Pelemahan itu dipengaruhi kombinasi beberapa faktor, mulai dari arus keluar dana dari ETF Bitcoin Spot, likuidasi posisi leverage, hingga rotasi likuiditas investor global ke aset lain seperti saham teknologi dan sektor kecerdasan buatan.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan tekanan terhadap Bitcoin kali ini tidak terjadi karena satu faktor tunggal. Menurutnya, pasar kripto sedang menghadapi tekanan dari beberapa sisi secara bersamaan, terutama dari melemahnya minat investor institusional tercermin dari arus keluar dana ETF Bitcoin.

“Pelemahan konsisten pada kripto kali ini terjadi karena tekanan datang dari beberapa sisi sekaligus. Faktor utamanya adalah arus keluar dana dari Spot Bitcoin ETF. Dalam 13 hari perdagangan dari 15 Mei sampai 3 Juni, ETF Bitcoin mencatat net outflow sekitar US$4,33 miliar, yang menunjukkan demand institusional sedang melemah,” kata Calvin.

Calvin menjelaskan sebelumnya ETF Bitcoin menjadi salah satu motor utama yang menopang kenaikan harga Bitcoin. Ketika dana institusional mulai keluar dari instrumen tersebut, pasar merespons dengan tekanan harga yang cukup kuat. Kondisi ini kemudian membuat investor ritel menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.

Selain outflow ETF, ucap Calvin, penurunan harga Bitcoin juga diperparah oleh likuidasi posisi leverage. Saat Bitcoin turun ke area sekitar US$61.000 hingga 62.000, banyak posisi long terpaksa ditutup otomatis. Hal ini menciptakan tekanan jual tambahan karena pasar tidak hanya menghadapi aksi jual investor biasa, tetapi juga forced selling dari trader yang menggunakan leverage.

“Ketika banyak posisi leverage terlikuidasi, tekanan jual bisa meningkat dalam waktu singkat. Inilah yang membuat penurunan Bitcoin terasa lebih tajam, terutama saat harga menembus area support penting,” beber Calvin.

Rotasi Likuiditas Kripto ke Saham

Tekanan terhadap Bitcoin juga terjadi di tengah rotasi likuiditas ke pasar saham AS. Saat kripto melemah, pasar saham AS justru relatif lebih kuat, didorong oleh sentimen positif di sektor teknologi dan kecerdasan buatan. Kondisi ini membuat sebagian pelaku pasar global lebih memilih aset yang memiliki narasi lebih kuat dalam jangka pendek dibandingkan aset kripto.

Calvin menilai, perhatian investor global juga mulai tersedot ke peluang besar lain di pasar modal, termasuk rencana IPO jumbo seperti SpaceX. Dalam situasi likuiditas yang terbatas, narasi besar seperti AI, saham teknologi, dan IPO berkapitalisasi besar dapat membuat dana spekulatif berpindah sementara dari kripto ke aset lain.

Tetapi, pelemahan Bitcoin tidak serta-merta memicu panic selling besar-besaran di Indonesia. Calvin melihat sentimen investor domestik saat ini cenderung lebih berhati-hati dan defensif. Sebagian investor memilih menahan aset, mengurangi aktivitas trading jangka pendek, atau memindahkan sebagian portofolio ke stablecoin sambil menunggu arah pasar lebih jelas.

“Investor Indonesia saat ini lebih berhati-hati. Banyak yang memilih wait and see, menahan posisi, atau memindahkan sebagian aset ke stablecoin. Ini bukan berarti kepercayaan terhadap Bitcoin hilang, tetapi investor sedang menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar yang masih penuh tekanan,” ulas Calvin lagi.

Masih Calvin, tekanan jual dari investor domestik relatif masih terkendali. Sebagian besar investor tidak langsung melepas aset secara agresif, melainkan menunggu stabilisasi pasar. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap prospek jangka panjang Bitcoin masih tetap ada, meskipun dalam jangka pendek pasar sedang berada dalam fase koreksi.

Di sisi lain, Tokocrypto juga mencatat adanya peningkatan minat terhadap stablecoin, terutama USDT. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, stablecoin sering digunakan investor untuk menjaga likuiditas, mempertahankan nilai portofolio, dan menunggu momentum masuk kembali ke aset kripto lain. Faktor pelemahan rupiah terhadap dolar AS turut mendorong minat terhadap stablecoin berbasis dolar.