Selain stablecoin, sebagian investor dengan toleransi risiko lebih tinggi mulai melakukan diversifikasi ke sejumlah altcoin yang masih memiliki momentum. Meskipun Bitcoin mengalami tekanan, beberapa altcoin dinilai tetap memiliki peluang dari rotasi aset, terutama bagi trader aktif yang terbiasa memanfaatkan volatilitas pasar.
Calvin menilai sentimen investor Indonesia saat ini bukan sepenuhnya negatif, tetapi lebih selektif. Investor cenderung mengurangi risiko jangka pendek, menjaga likuiditas, dan tetap memantau peluang di aset kripto lain sambil menunggu arah Bitcoin kembali stabil.
Koreksi Jangka Pendek
Terkait potensi ke depan, Calvin melihat pelemahan Bitcoin saat ini masih lebih mencerminkan koreksi jangka pendek yang cukup dalam, bukan perubahan tren fundamental secara penuh. Menurutnya, tekanan terbesar saat ini berasal dari outflow ETF Bitcoin, pelemahan minat institusional, dan belum adanya katalis baru yang cukup kuat untuk mendorong pasar kripto kembali naik.
“Outflow ETF perlu dilihat sebagai indikator tekanan sentimen dan likuiditas jangka pendek. Ketika dana institusional keluar dari ETF, pasar biasanya merespons dengan tekanan harga. Namun, kami belum melihat kondisi ini sebagai perubahan tren fundamental yang menghapus prospek jangka panjang Bitcoin,” imbuh Calvin.
Ia menambahkan, pasar kripto saat ini membutuhkan pemulihan kepercayaan dan arus dana baru untuk kembali mendorong momentum. Jika outflow ETF terus berlanjut dan Bitcoin gagal mempertahankan area support penting, tekanan harga dapat berlangsung lebih lama. Jika ETF kembali mencatat inflow dan harga Bitcoin mulai stabil, sentimen investor domestik berpotensi pulih dengan cepat.
Calvin juga menilai peluang Bitcoin turun ke level US$50.000 tahun ini masih terbuka, tetapi belum menjadi skenario utama. Dengan posisi Bitcoin saat ini di sekitar US$62.000, penurunan ke US$50.000 berarti masih membutuhkan koreksi sekitar 20% lagi dari level sekarang. Skenario tersebut dapat terjadi jika tekanan ETF outflow berlanjut, support psikologis US$60.000 ditembus, dan sentimen makro semakin risk-off.
“Peluang BTC turun ke US$50.000 tetap ada, tetapi menurut saya belum menjadi skenario utama. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas area US$60.000, peluang rebound masih lebih besar. Level ini menjadi batas psikologis sekaligus area yang sangat dipantau market,” jelas Calvin.
Menurutnya, peluang Bitcoin turun ke US$50.000 dapat ditempatkan di kisaran 30 persen hingga 40 persen, sementara peluang rebound atau stabil kembali di atas US$65.000 hingga 70.000 berada di kisaran 60 persen hingga 70 persen. Jika tekanan jual mulai mereda, ETF outflow berkurang, atau terdapat katalis positif dari suku bunga dan minat institusional, Bitcoin masih memiliki ruang untuk pulih menuju area US$70.000–75.000.
Investor Tetap Displin
Untuk investor ritel yang masih menabung Bitcoin, Calvin menyarankan agar tetap disiplin, tetapi tidak agresif. Investor disarankan menggunakan dana yang memang siap ditahan untuk jangka panjang, bukan dana kebutuhan harian, dana darurat, atau dana pinjaman.
“Strategi yang lebih sehat adalah menabung secara bertahap dengan nominal yang siap ditahan untuk jangka panjang. Jangan melihat penurunan harga sebagai alasan untuk langsung all-in. Lebih baik membagi pembelian dalam beberapa tahap, tetap memiliki kas cadangan, dan memastikan porsi Bitcoin dalam portofolio tidak terlalu dominan,” tambah Calvin.
Ia juga mengingatkan investor ritel untuk menghindari penggunaan leverage dalam kondisi pasar yang belum stabil. Menurutnya, investor yang tujuannya menabung Bitcoin sebaiknya fokus pada akumulasi spot, bukan trading jangka pendek dengan pinjaman atau margin.
“Strateginya bukan mengejar harga terendah, tetapi membangun posisi secara bertahap sambil menjaga risiko. Dengan begitu, investor tidak mudah panik ketika harga turun dan tetap punya ruang untuk mengambil peluang jika harga bergerak lebih rendah,” tandasnya.
Harga Bitcoin Melemah Tajam, Investor Indonesia Tidak Panic Selling
Diskusi pembaca untuk berita ini