Bengkalis, katakabar.com - Para petani kelapa sawit yang tergabung Koperasi Meskom Sejati uring-uringan dan rada kecewa. Soalnya, sudah lima tahun terakhir, ratusan petani yang mayoritas warga Desa Sebauk, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau, cuma menerima sebesar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan dari hasil kebun sawit.

Total 400 orang petani yang tergabung di koperasi tersebut dengan luas kebun sawit mencapai 537 hektar.

Petani kelapa sawit, Abduk Kadir Siregar, sekaligus anggota Aspek-PIR Riau menuturkan, lahan petani di Desa Sebauk dikelola oleh PT Meskom Agro Sarimas atau MAS.

Kisah ini, ulas Kadir, bermula petani menjalin kerja sama untuk pembangunan kebun kelapa sawit. Lalu,kebun tersebut dikelola secara KKPA, kebun itu menjadi kebun inti PT MAS.

Tapi, ujarnya dilansir dari laman EMG, Sabtu (04/1), sejak dibangun sekitar 20 tahun lalu, petani tidak pernah dilibatkan mulai dari pembangunan maupun pengelolaan kebun tersebut.

"Di awal dulu setiap bulan petani menerima hasil kebun mulai dari Rp1 jutaan," ceritanya.

Kurum lima tahun belakangan, kata Kadir, hasil kebun yang diterima petani berkurang drastis. PT MAS berdalih hasil yang sedikit lantaran kebun kelapa sawit KKKA produksinya rendah.

"Kebun itu memang sudah tidak terawat, dan memang tidak dirawat. Hanya diambil buahnya saja," jelasnya.

Dengan kondisi itu, ucap Kadir,petani tentu memutar otak untuk mendapatkan tambahan penghasilan guna memenuhi kebutuhannya. Misalnya dengan menoreh pohon karet, beternak, atau bertani.

"Saat ini petani menuntut perusahaan memberikan lahan pengganti di dalam perjanjian awal ditawarkan pihak perusahaan. Di surat memang ada penunjukan lahan, tapi di desa lain. Masalahnya, hingga kini masyarakat belum tahu di mana lokasi pasti kebun tersebut," terangnya.

Koperasi Meskom Sejati berencana menyurati presiden untuk mencarian solusi permasalahan tersebut. Soalnya, kebun kelapa sawit itu sudah berumur 20 tahun. Petani mengklaim, potensi penghasilan mereka seharusnya mencapai Rp5 juta per bulan.

"Kita bakal lanjutkan dengan menyurati presiden. Mudah-mudahan ada jalan keluar," harapnya.