Pekanbaru, katakabar.com - Kepolisian Daerah (Polda) Riau gelar rapat koordinasi (Rakor) lintas sektoral untuk kesiapan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2026 menghadapi arus mudik Lebaran 1447 Hijriah Tahun 2026 Masehi, di Aula, Tribrata Mapolda Riau, Senin (9/3).

Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan yang pimpin Rakor, dihadiri pejabat utama, para Kapolres se Riau, serta seluruh pemangku kepentingan terkait.

Kegiatan ini dilakukan untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat kolaborasi antarinstansi guna memastikan keamanan dan kelancaran arus mudik Lebaran tahun 2026.

Kapolda Riau menyoroti situasi geopolitik dunia yang tengah bergejolak, mulai dari konflik di Timur Tengah hingga perang Rusia–Ukraina yang berdampak terhadap stabilitas ekonomi global dan nasional, termasuk kenaikan harga energi.

“Dalam situasi global yang tidak menentu ini, kita harus bersatu padu dan bergotong-royong. Operasi Ketupat bukan sekadar rutinitas, tetapi sarana pelayanan kepada masyarakat yang harus diperkuat dengan kolaborasi,” ujar Irjen Herry.

Ia menyebut dampak situasi global tersebut paling terasa pada sektor ekonomi, terutama menjelang hari besar keagamaan yang rawan terjadi panic buying dan penimbunan bahan pokok. Lantaran itu, Kapolda meminta Satgas Pangan memperketat pengawasan distribusi kebutuhan masyarakat.

“Situasi global yang tidak menentu dampaknya paling dirasakan pada ekonomi. Biasanya menjelang hari besar terjadi panic buying karena pasokan terbatas, ini harus kita awasi bersama,” jelasnya.

Kapolda Riau juga mengingatkan seluruh instansi agar memperkuat komunikasi dan koordinasi lintas sektoral, sekaligus mendukung berbagai program pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden RI, Prabowo Subianto.

Menurutnya, momentum mudik Lebaran harus menjadi sarana memperkuat kerja sama antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan demi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Di rapat tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Riau melaporkan kemantapan jalan provinsi saat ini mencapai 66,5 persen dari total panjang 2.897,4 kilometer. Enam unit pelaksana teknis (UPT) juga telah disiagakan dengan alat berat guna mengantisipasi kerusakan jalan di jalur mudik.

Sementara, Dinas Perhubungan memprediksi arus mudik akan terbagi dalam dua fase dengan puncak pertama pada 17 hingga 18 Maret 2026. Penggunaan kendaraan pribadi diperkirakan masih mendominasi hingga 65 persen.

Untuk menjaga kelancaran lalu lintas, pembatasan operasional kendaraan angkutan barang dengan tiga sumbu atau lebih akan diberlakukan mulai 13 hingga 29 Maret 2026.

Dari sisi kebencanaan, BPBD dan BMKG mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) karena Riau diperkirakan memasuki musim kemarau lebih awal.

Kabut asap akibat kebakaran lahan di wilayah rawan seperti Pelalawan dan Bengkalis menjadi perhatian serius karena dapat mengganggu jarak pandang di jalur mudik.

PT Pertamina (Persero) memastikan stok BBM dan LPG dalam kondisi aman dengan masa siaga mulai 9 Maret hingga 1 April 2026. Konsumsi diprediksi meningkat, dengan Pertalite naik sekitar 9,01 persen dan Solar sebesar 8 persen.

Pemerintah daerah bersama Bulog juga terus memantau inflasi yang saat ini berada di angka 5,30 persen. Upaya stabilisasi dilakukan melalui operasi pasar murah serta pengawasan distribusi Minyakita sekitar 400 ton agar harga tetap terjangkau bagi masyarakat.

Kabid Humas Polda Riau, Zahwani Pandra Arsyad mengimbau masyarakat yang membutuhkan bantuan kepolisian selama arus mudik dapat memanfaatkan layanan Call Center 110 agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat.

Ia menegaskan seluruh jajaran kepolisian siap memberikan pelayanan maksimal demi menjaga keamanan dan kelancaran mudik Lebaran 2026.